Perusahaan Pelayaran Alihkan Pengiriman Kargo Lewat Jalur Darat Imbas Krisis Selat Hormuz

IVOOX.id – Perusahaan pelayaran besar mulai menggunakan jalur darat untuk mengangkut kargo di tengah gangguan pelayaran di Selat Hormuz akibat krisis Timur Tengah, Financial Times melaporkan, Minggu, 17 Mei 2026.
Mengutip Antara, laporan itu menyebutkan tarif pengiriman di rute Shanghai-Teluk Persia dan Laut Merah mencapai rekor tertinggi pekan ini, melampaui level selama pandemi COVID-19.
Berdasarkan data Clarksons Research, biaya pengiriman satu kontainer standar di rute tersebut naik lebih dari 320 persen dari 980 dolar AS (Rp17,1 juta) menjadi 4.131 dolar AS (Rp42,7 juta) per 15 Mei 2026.
Operator pelayaran besar, termasuk Mediterranean Shipping Company, Maersk, CMA CGM, dan Hapag-Lloyd, membuka jalur distribusi kargo dari pelabuhan di Laut Merah dan Teluk Oman menuju sejumlah pelabuhan di kawasan Teluk.
Jalur tersebut antara lain menghubungkan pelabuhan Yanbu dan King Abdullah di Arab Saudi serta Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA) dengan Dammam di Arab Saudi, Basra di Irak, dan Jebel Ali di UEA.
CEO Maersk Vincent Clerc mengatakan armada truk dalam jumlah besar telah dikerahkan untuk mendukung distribusi logistik.
Menurut dia, Arab Saudi dan Irak juga telah melonggarkan akses bagi truk-truk yang datang dari Irak, Yordania, hingga Turki.
Namun, menurut laporan Financial Times, angkutan darat hanya dapat menggantikan sebagian kapasitas kapal kontainer dan kapal kargo besar yang sebelumnya melayani negara-negara Teluk melalui Selat Hormuz.
Harian Inggris itu juga melaporkan bahwa para pedagang gandum mulai mengalihkan pengiriman melalui Laut Merah dan Teluk Oman, yang kemudian dilanjutkan menggunakan truk dan kapal kecil.
"Terjadi peningkatan jumlah gandum yang tiba di Fujairah dan Khorfakkan, lalu diangkut menggunakan truk menuju pelabuhan utama UEA sebelum didistribusikan ke Qatar, Bahrain, dan wilayah Teluk lainnya dengan kapal kecil," kata seorang pialang kapal di London dalam laporan itu, dikutip dari Antara.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Pada 7 April, AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata, tetapi AS tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Di lain pihak, Iran menerapkan aturan transit khusus di Selat Hormuz.


0 comments