Pertumbuhan Ekonomi 5,3 Persen Belum Cukup Dongkrak Optimisme Pasar, Ekonom Sebut Investor Masih Selektif | IVoox Indonesia

August 8, 2026

Pertumbuhan Ekonomi 5,3 Persen Belum Cukup Dongkrak Optimisme Pasar, Ekonom Sebut Investor Masih Selektif

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto dalam Media Day Mirae Asset Sekuritas bertajuk Fear vs Fundamentals: Where Is Indonesia Really Headed? pada Selasa (30/6/2026). IVOOX.ID/Fahrurrazi Assyar

IVOOX.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal II-2026 menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional. Meski demikian, capaian tersebut dinilai belum mampu sepenuhnya mengubah sikap investor yang masih cenderung selektif dalam menempatkan dana di pasar modal.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan kehati-hatian investor tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang memang kembali menguat, namun belum ditopang oleh penguatan saham-saham berkapitalisasi besar maupun arus masuk dana asing secara konsisten.

"IHSG memang melanjutkan penguatan, tetapi kualitas reli masih terbatas. Kenaikan indeks lebih banyak ditopang saham-saham spekulatif, sementara investor asing masih mencatatkan net sell pada sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti TLKM, BBRI, dan ASII," ujar Rully dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Jumat (7/8/2026).

Menurutnya, pelaku pasar belum sepenuhnya menjadikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebagai katalis utama investasi. Hal tersebut terlihat dari masih tertekannya sejumlah saham unggulan seperti TLKM, BBRI, BBCA, ASII, dan BMRI meskipun realisasi pertumbuhan ekonomi melampaui ekspektasi pasar.

"Kami melihat pasar saat ini tidak hanya memperhatikan besarnya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mencermati kualitas dan keberlanjutan sumber pertumbuhan tersebut. Selama arus dana asing belum kembali dan saham-saham berkapitalisasi besar belum menunjukkan penguatan yang lebih merata, investor masih cenderung bersikap selektif," katanya.

Rully juga menilai penguatan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal dibandingkan faktor domestik. Ia menjelaskan penguatan yen Jepang setelah adanya intervensi terkoordinasi pemerintah Jepang dan Amerika Serikat menekan penguatan dolar AS sehingga ikut menopang mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Kami masih melihat reli IHSG perlu dicermati secara selektif hingga saham-saham berkapitalisasi besar dan arus dana asing menunjukkan perbaikan yang lebih konsisten," ujarnya.

Senada dengan itu, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 memang masih tergolong solid. Namun, kualitas pertumbuhan tersebut perlu dicermati karena sebagian besar ditopang oleh stimulus fiskal, rendahnya basis belanja pemerintah pada periode sebelumnya, serta faktor musiman.

Novani menjelaskan konsumsi pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi dari sisi pengeluaran, yakni mencapai 16 persen secara tahunan. Peningkatan tersebut didorong oleh pembayaran gaji ke-13 aparatur sipil negara, belanja pegawai, serta realisasi berbagai program pemerintah.

Di sisi lain, konsumsi rumah tangga yang menjadi kontributor terbesar terhadap PDB justru melambat menjadi 5,1 persen secara tahunan. Sementara itu, ekspor neto memberikan kontribusi negatif terhadap pertumbuhan sebesar 0,8 poin persentase karena laju impor meningkat lebih cepat dibandingkan ekspor.

"Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II masih terlihat kuat, tetapi sumber pertumbuhannya belum sepenuhnya mencerminkan penguatan permintaan domestik yang berkelanjutan. Sejumlah faktor pendukung berasal dari belanja pemerintah yang bersifat temporer sehingga ruang penguatannya diperkirakan akan lebih terbatas pada semester kedua," kata Novani.

0 comments

    Leave a Reply