Penyelundupan Bawang Bombai dan Cabai Kering di Kalbar Terungkap, Mentan Minta Usut Tuntas | IVoox Indonesia

April 19, 2026

Penyelundupan Bawang Bombai dan Cabai Kering di Kalbar Terungkap, Mentan Minta Usut Tuntas

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman
Dokumentasi - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (tengah). ANTARA/HO-Kementan

IVOOX.id – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta Satgas Pangan Bareskrim Mabes Polri agar mengusut tuntas aktor penyelundupan bawang bombai dan cabai kering ilegal di wilayah Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

“Kami minta diusut sampai ke akar. Aktor intelektualnya harus dibongkar. Ini jaringan besar, bukan kasus biasa,” kata Mentan dalam pernyataan di Jakarta, Sabtu (18/4/2026), dikutip dari Antara.

Meski begitu, dia mengapresiasi langkah cepat dan tegas Satgas Pangan Polri dalam menggagalkan penyelundupan komoditas pangan ilegal sebanyak 23,1 ton di Pontianak.

“Langkah cepat Satgas Pangan ini patut diapresiasi. Ini bentuk nyata negara hadir melindungi petani dari praktik curang yang merusak harga dan tata niaga,” ujarnya.

Hanya saja, ia menegaskan pengusutan tidak boleh berhenti pada pelaku yang ditemukan di lapangan, tetapi mengejar aktor dari praktik ilegal tersebut. Adapun penindakan itu berlangsung pada Senin, 13 April 2026, di dua lokasi di kota tersebut.

Aparat menyita bawang merah asal Thailand 2,1 ton, bawang putih asal China 9,1 ton, bawang bombai Belanda 7,9 ton, bawang bombai India 1,6 ton, serta cabai kering China 2,2 ton.

Mentan menegaskan kasus di Pontianak hanyalah bagian dari praktik yang lebih besar dan berulang di berbagai wilayah Indonesia.

Dalam beberapa bulan terakhir, lanjut Amran, aparat telah menggagalkan penyelundupan pangan dalam skala besar, antara lain 133,5 ton bawang bombai ilegal di Semarang, 72 ton bawang bombai ilegal di Surabaya, 250 ton beras ilegal di Sabang, serta sekitar 1.000 ton beras ilegal di Tanjung Balai Karimun.

“Ini pola yang sama, berulang, dan terorganisir. Berulang kali kami sebut inilah mafia pangan. Skalanya sudah ratusan sampai ribuan ton. Artinya ada kekuatan besar di belakangnya,” tegasnya.

Ia mengingatkan praktik itu tidak lepas dari kepentingan pihak-pihak yang tidak menginginkan Indonesia mandiri dalam pangan.

“Ada pihak-pihak yang tidak akan pernah bahagia kalau Indonesia swasembada pangan. Karena itu mereka terus mencari celah untuk merusak pasar dan melemahkan produksi dalam negeri,” tuturnya.

Menurutnya, kondisi geografis Indonesia dengan garis pantai yang sangat panjang sering dimanfaatkan oleh jaringan penyelundup untuk memasukkan komoditas ilegal melalui jalur-jalur tidak resmi.

“Dengan garis pantai yang panjang, celah itu dimanfaatkan oleh oknum untuk memasukkan barang ilegal. Ini yang harus kita tutup bersama,” terang Amran.

Mentan menegaskan pula Indonesia saat ini telah mencapai swasembada bawang merah, sehingga masuknya produk ilegal dapat merusak harga pasar dan melemahkan petani dalam negeri.

“Kita sudah swasembada bawang merah. Tidak ada alasan barang ilegal masuk selain merusak harga petani,” katanya lagi.

Ia juga menyoroti kondisi petani cabai lokal yang kerap menghadapi harga anjlok saat panen raya.

“Petani cabai kita sering mengeluh harga hancur saat panen. Jangan disakiti lagi. Mereka bekerja keras di lapangan, itu harus dilindungi,” tegasnya.

Kementerian Pertanian akan terus memperkuat koordinasi lintas sektor bersama aparat penegak hukum untuk menutup celah masuknya pangan ilegal serta memastikan sistem distribusi berjalan sesuai aturan.

“Ini bukan hanya soal hukum. Ini soal melindungi petani dan menjaga kedaulatan pangan Indonesia,” kata Amran.

0 comments

    Leave a Reply