Pentagon Sebut AS Kendalikan Masa Depan Venezuela | IVoox Indonesia

7 Maret 2026

Pentagon Sebut AS Kendalikan Masa Depan Venezuela

Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengunggah foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Tangkapan layar - Laman platform Truth Social milik Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengunggah foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang ditangkap dan berada dalam tahanan AS di atas kapal USS Iwo Jima. ANTARA/Truth Social @realDonaldTrump/am.

IVOOX.id – Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengklaim negara menguasai masa depan Venezuela dan arah pemerintahannya menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Ia menegaskan bahwa Washington akan “menetapkan syarat” atas apa yang terjadi selanjutnya.

Mengutip Antara, saat berbicara pada CBS, Hegseth mengatakan Presiden Donald Trump akan menentukan langkah lanjutan, termasuk menghentikan aliran narkoba, menguasai kembali sumber daya minyak, serta mencegah kehadiran negara asing di kawasan yang disebutnya sebagai “belahan bumi AS”.

Trump menyatakan pada Sabtu, 3 Januari 2025,  bahwa AS telah melancarkan serangan besar-besaran ke Venezuela dan menangkap Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, lalu membawa keduanya keluar dari negara tersebut, tanpa merinci dasar hukum operasi itu.

Sejumlah media melaporkan terdengar ledakan di Caracas dan mengklaim operasi dilakukan oleh pasukan elite Delta Force, meski otoritas AS belum memberikan konfirmasi resmi atas rincian tersebut.

Pemerintah Venezuela menyatakan pihaknya tidak mengetahui keberadaan Maduro dan menuntut bukti bahwa presiden mereka masih hidup, seraya menuding Washington melakukan agresi terhadap kedaulatan negara.

Trump kemudian memublikasikan sebuah foto yang diklaim memperlihatkan Maduro berada di atas kapal AS, namun keaslian dan konteks gambar tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Di dalam negeri AS, beberapa anggota Kongres mengecam operasi tersebut sebagai ilegal, sementara pemerintahan Trump menyatakan Maduro akan diadili atas berbagai tuduhan yang tidak dirinci ke publik.

Menanggapinya, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez pada Sabtu, 3 Januari 2026, menegaskan bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro tetap menjadi satu-satunya pemimpin negara tersebut.

"Hanya ada satu presiden di negara ini, namanya Nicolas Maduro Moros," kata wapres pada pertemuan Dewan Pertahanan menyusul operasi yang dilancarkan AS, dikutip dari Antara.

Wapres Rodriguez juga mendesak agar Presiden Maduro dan istrinya, Silia Flores, dikembalikan ke Caracas.

Ia mengatakan bahwa apa yang terjadi pada Venezuela pada Sabtu bisa saja terjadi pada negara mana pun di kawasan ini.

"Kami meminta negara-negara di Tanah Air yang Agung untuk bersatu. Apa yang dilakukan terhadap Venezuela hari ini bisa terjadi pada negara mana pun di kawasan. Penggunaan kekuatan ini bisa diarahkan ke negara mana pun," kata wapres.

Sementara, Menteri Luar Negeri Venezuela Ivan Gil, dalam wawancaranya dengan kantor berita Rusia, RIA Novosti, mengatakan perdamaian Amerika Latin “terganggu” oleh tindakan Washington, seraya menilai klaim serangan itu sebagai ancaman serius terhadap stabilitas regional.

Sedikitnya 40 orang termasuk personel militer dan warga sipil tewas dalam serangan AS terhadap Venezuela pada Sabtu, 3 Januari 2026, lapor New York Times yang mengutip pejabat senior Venezuela.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan solidaritas dengan rakyat Venezuela. Moskow mengaku sangat prihatin dengan laporan bahwa Maduro dan istrinya telah dipaksa meninggalkan negara itu sebagai bagian dari agresi AS.

Lebih lanjut, Moskow menyerukan pembebasan Maduro dan istrinya serta pencegahan eskalasi lebih lanjut dalam situasi di sekitar Venezuela.

0 comments

    Leave a Reply