Penambang Pasir Tertimbun Material Awan Panas Guguran Letusan Gunung Semeru | IVoox Indonesia

June 22, 2026

Penambang Pasir Tertimbun Material Awan Panas Guguran Letusan Gunung Semeru

Bupati Lumajang Indah Amperawati menjenguk korban tertimbun awan panas guguran gunung semeru
Bupati Lumajang Indah Amperawati menjenguk korban tertimbun sisa material APG Semeru di RSUD Haryoto Lumajang, Sabtu (20/6/2026). ANTARA/HO-Diskominfo Lumajang

IVOOX.id – Seorang penambang pasir, Veri Irawan (33), warga Desa Sumberwuluh, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur yang tertimbun sisa material awan panas guguran (APG) Gunung Semeru menjalani perawatan intensif di RSUD Haryoto Lumajang, karena mengalami luka bakar serius.

"Peristiwa itu terjadi saat korban bersama sejumlah rekannya melakukan aktivitas penambangan pasir secara manual di kawasan aliran lahar Gunung Semeru pada Jumat (19/6/2026) malam," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang Isnugroho di Lumajang, Sabtu (20/6/2026), dikutip dari Antara.

Ia mengatakan korban berangkat bekerja bersama sekitar 16 penambang lainnya pada malam hari. Saat berada di lokasi penambangan di bawah Jembatan Gladak Perak, tumpukan material pasir yang masih menyimpan suhu panas tinggi tiba-tiba longsor dan menimpa tubuh korban pada Sabtu dini hari.

"Korban bersama sekitar 16 rekannya melakukan aktivitas penambangan pasir secara manual. Saat aktivitas berlangsung, tebing pasir di dekat lokasi korban bekerja, tiba-tiba ambrol dan menimpa tubuhnya," katanya.

Rekan-rekan korban yang berada di lokasi langsung memberikan pertolongan dan mengevakuasi Veri ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Sementara itu, Wakil Direktur RSUD dr Haryoto Lumajang Wawan Arwijanto mengatakan korban telah mendapatkan penanganan medis intensif sejak tiba di rumah sakit karena luka bakar yang dialami mencapai 80 persen.

"Tim medis telah melakukan operasi untuk membersihkan luka bakar, memasang akses cairan guna menjaga kondisi tubuh pasien, serta memberikan bantuan pernapasan, karena dikhawatirkan terdapat cedera akibat paparan udara panas," kata Wawan, dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan penanganan awal terhadap korban sudah dilakukan, kemudian operasi untuk membersihkan seluruh luka bakarnya, pemasangan saluran cairan, dan bantuan pernapasan.

"Luka bakar yang dialami lebih dari 80 persen. Kondisi itu sangat membahayakan, karena pada umumnya luka bakar di atas 40 persen saja sudah tergolong berat," katanya.

Ia menjelaskan korban masih berada dalam kondisi kritis dan membutuhkan perawatan intensif, karena selain kerusakan pada kulit, tim medis juga mewaspadai kemungkinan gangguan pada saluran pernapasan akibat menghirup udara panas serta gangguan fungsi ginjal karena kehilangan cairan dalam jumlah besar.

"Kami akan berupaya maksimal memberikan penanganan medis dan saat ini pasien masih dalam kondisi kritis dan membutuhkan pengawasan ketat. Mohon doa dari masyarakat agar kondisinya dapat membaik," ujarnya.

Kondisinya dilaporkan kritis akibat luasnya luka bakar yang diderita serta risiko gangguan pada organ vital.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Jatim), Isnugroho mengatakan kewaspadaan tetap diperlukan saat aktivitas Gunung Semeru meningkat, namun masyarakat tidak perlu panik dan mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan demi keselamatan bersama.

"Pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan PVMBG, pemerintah desa, relawan kebencanaan, serta berbagai pihak terkait, guna memastikan perkembangan aktivitas Gunung Semeru dapat dipantau secara berkelanjutan," kata Isnugroho di Lumajang, Jumat (19/6/2026), dikutip dari Antara.

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pada Jumat pukul 07.21 WIB teramati aktivitas erupsi Gunung Semeru dengan tinggi kolom abu sekitar 1.000 meter di atas puncak. Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan teramati mengarah ke utara serta barat laut.

PVMBG juga mencatat aktivitas tersebut disertai awan panas guguran yang mengarah ke Besuk Kobokan dengan jarak luncur sekitar 4,5 kilometer. Aktivitas vulkanik tersebut merupakan bagian dari perkembangan kondisi Gunung Semeru yang terus dipantau oleh petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru.

"Masyarakat tidak perlu panik maupun gelisah. Yang terpenting adalah tetap mengikuti informasi resmi dan mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan demi keselamatan bersama," tuturnya.

Menurutnya, informasi resmi dari lembaga yang berwenang menjadi rujukan penting bagi masyarakat dalam memahami kondisi terkini Gunung Semeru, sekaligus sebagai dasar dalam mengambil langkah antisipasi yang diperlukan.

Status Level III (Siaga) menunjukkan aktivitas Gunung Semeru masih memerlukan pemantauan dan kewaspadaan, namun demikian status tersebut tidak berarti seluruh wilayah Kabupaten Lumajang berada dalam kondisi berbahaya.

Ia menjelaskan rekomendasi pembatasan aktivitas hanya berlaku pada kawasan tertentu yang telah ditetapkan berdasarkan hasil pemantauan dan kajian teknis PVMBG, sehingga masyarakat yang berada di luar kawasan rawan yang direkomendasikan tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari sebagaimana biasa.

"Kesiapsiagaan merupakan bagian dari upaya pengurangan risiko bencana. Dengan memahami informasi yang benar dan mengikuti rekomendasi yang ada, masyarakat dapat menjalankan aktivitas secara lebih aman dan terukur," katanya.

PVMBG juga merekomendasikan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak erupsi.

"Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terdampak perluasan awan panas maupun aliran lahar," ujarnya.

Masyarakat diimbau tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar pada aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru, terutama saat terjadi hujan di kawasan puncak.

BPBD Lumajang bersama unsur terkait akan terus melakukan pemantauan, koordinasi, dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana.

0 comments

    Leave a Reply