Pemulihan IHSG Masih Rentan, Investor Diminta Cermati Fundamental | IVoox Indonesia

Pemulihan IHSG Masih Rentan, Investor Diminta Cermati Fundamental

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto dalam Media Day Mirae Asset Sekuritas bertajuk Fear vs Fundamentals: Where Is Indonesia Really Headed? pada Selasa (30/6/2026). IVOOX.ID/Fahrurrazi Assyar

IVOOX.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai ketidakpastian pasar global dan domestik masih menjadi tantangan bagi investor dalam mengambil keputusan investasi. Tekanan eksternal, pelemahan rupiah, serta usulan reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI membuat pelaku pasar perlu mencermati perkembangan secara hati-hati.

Investor juga disarankan tetap mempertimbangkan fundamental perusahaan, kualitas aset, profitabilitas, dan valuasi dalam menilai peluang investasi.

Pada Rabu, 28 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis 0,31 persen ke level 5.282 setelah berbalik dari pelemahan intraday. Meski demikian, indeks masih berada jauh di bawah penutupan pekan sebelumnya.

Investor asing mencatatkan pembelian bersih atau net buy sekitar Rp655 miliar di seluruh pasar. Namun, arus masuk tersebut dinilai belum cukup untuk menunjukkan pembalikan tren aksi jual sejak pengumuman konsultasi reklasifikasi MSCI.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai pemulihan IHSG masih rentan terhadap perubahan sentimen investor, terutama di tengah tekanan terhadap rupiah dan ketidakpastian eksternal.

Di pasar global, The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75–4,00 persen dengan sikap berhati-hati di tengah inflasi yang masih tinggi. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun bertahan di sekitar 5 persen, sementara harga minyak Brent meningkat hingga 115 dolar AS per barel.

Kondisi tersebut berpotensi mempersulit stabilisasi rupiah dan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter domestik.

“Kami tetap berhati-hati dan melihat pemulihan IHSG masih rapuh hingga arus dana asing membaik secara lebih konsisten dan tekanan terhadap rupiah mereda,” ujar Rully dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id pada Sabtu (31/10/2026).

Di tengah dinamika pasar, perhatian investor juga tertuju pada spekulasi kemungkinan transaksi strategis yang melibatkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan DBS Group. Namun, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai transaksi tersebut.

Spekulasi tersebut muncul setelah rumor akuisisi BBCA oleh Haji Isam pada September 2026 dibantah perseroan. Sejumlah pembicaraan pasar lainnya juga belum terverifikasi.

Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin, menjelaskan penurunan valuasi BBCA di tengah ketidakpastian terkait MSCI secara teoritis dapat meningkatkan daya tarik saham tersebut bagi investor strategis.

Meski demikian, realisasi transaksi akuisisi bergantung pada kesediaan pemegang saham, kapasitas pendanaan, serta persetujuan regulator. PT Dwimuria Investama Andalan masih menjadi pemegang saham pengendali BBCA dengan kepemilikan 54,94 persen, tanpa adanya rencana divestasi yang diumumkan secara terbuka.

“Meski penurunan valuasi dapat membuka peluang bagi investor strategis, belum ada bukti yang cukup untuk menilai kemungkinan terjadinya transaksi. Karena itu, kami tidak melihat dasar yang kuat untuk memasukkan premi akuisisi ke dalam valuasi BBCA atau memperkirakan perubahan pengendalian dalam waktu dekat,” jelas Nurkholis.

Pengalaman DBS Group dalam mengakuisisi Bank Danamon pada 2012 menjadi salah satu contoh tantangan regulasi dalam transaksi perbankan lintas negara. Saat itu, rencana akuisisi 67,37 persen saham Danamon senilai Rp45,2 triliun tidak berlanjut pada 2013 setelah regulator membatasi kepemilikan yang dapat diakuisisi.

0 comments

    Leave a Reply