Pemerintah Pastikan Tak Ada Impor Beras Konsumsi di 2026 | IVoox Indonesia

10 Maret 2026

Pemerintah Pastikan Tak Ada Impor Beras Konsumsi di 2026

antarafoto-stok-beras-awal-tahun-2026-1767765661-1
Pekerja menngangkut beras dari serapan gabah petani di Gudang Perum Bulog cabang Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Rabu (7/1/2026). Berdasarkan data Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) per 2 Januari 2026 mencapai 3,25 juta ton yang tersebar di seluruh gudang BUMN pangan di Indonesia. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

IVOOX.id – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan Indonesia tidak mengimpor beras konsumsi di tahun 2026.

"Tidak boleh impor beras, kita sudah swasembada. Stok kita melimpah. Ini beras (produksi) anak negeri. Beri tahu mereka, (kita) mesti cinta merah putih. Sampaikan cinta merah putih. Ini karena kita ingin berdaulat pangan," ujar Amran dalam siaran pers dikutip Kamis (22/1/2026).

Menurut Amran kesiapan Indonesia tanpa impor beras sepanjang tahun 2026 tercermin pada proyeksi neraca pangan. Total kebutuhan konsumsi beras setahun berada di angka 31,1 juta ton masih dapat dipenuhi dengan proyeksi produksi beras tahun ini yang diperkirakan dapat mencapai 34,76 juta ton. 

Surplus produksi terhadap konsumsi tersebut dinilai semakin kuat dengan carry over stock beras dari tahun 2025 yang menjadi stok awal di tahun 2026 di angka 12,4 juta ton. Dengan begitu, diestimasikan stok beras secara nasional hingga akhir tahun 2026 masih dapat berada di angka 16,1 juta ton.

Terkait nihilnya impor beras, pemerintah telah memutuskan peniadaan impor beras konsumsi umum dan bahan baku industri di tahun 2026. Dalam Neraca Komoditas (NK) Tahun 2026 yang diketok akhir Desember 2025 lalu, tidak ada kesepakatan terkait kuota impor beras umum. Ini juga termasuk tidak adanya kuota impor beras untuk bahan baku industri.

Adapun beras bahan baku industri yang dimaksud yakni beras pecah dengan tingkat keutuhan kurang dari 15 persen dan beras ketan pecah dengan tingkat keutuhan kurang dari 15 persen juga. Dengan tidak adanya impor beras bahan baku industri di 2026, pemerintah mendorong pelaku usaha agar dapat mengoptimalkan bahan baku lokal berupa beras pecah dan beras ketan pecah. 

Lebih lanjut, Amran turut menjelaskan kondisi harga beras yang masih berfluktuasi meskipun stok berlimpah, semata-mata karena faktor biaya distribusi. Kendati demikian, Amran menekankan komoditas beras sudah tidak lagi menjadi penyumbang inflasi secara nasional.

"Itu harga (beras) karena distribusi. Tetapi harga sekarang, bukan beras penyumbang inflasi. Saya ulangi, bukan beras penyumbang inflasi, yang biasanya penyumbang inflasi tertinggi. Toh ada yang naik, iya. Tetapi sekarang kita, stok kita banyak," kata Amran.

0 comments

    Leave a Reply