Pemerintah dan OJK Diminta Sampaikan Penjelasan Rinci Soal Pelemahan IHSG | IVoox Indonesia

June 8, 2026

Pemerintah dan OJK Diminta Sampaikan Penjelasan Rinci Soal Pelemahan IHSG

layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wsj.

IVOOX.id – Konsultan dan Perencana Keuangan Elvi Diana meminta pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menyampaikan penjelasan yang lebih rinci dan transparan mengenai faktor-faktor yang memicu pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Elvi menilai kepercayaan investor merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar keuangan. Oleh karena itu, upaya memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan kepastian kebijakan dinilai dapat menjadi bagian dari strategi untuk mendukung pemulihan sentimen pasar.

"Kepercayaan investor adalah aset yang sangat berharga. Ketika kepercayaan itu terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pasar modal, tetapi juga oleh perekonomian nasional secara keseluruhan," kata Elfi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (6/6/2026), dikutip dari Antara.

Elvi mengatakan, keterbukaan informasi diperlukan untuk memberikan kepastian kepada investor dan pelaku pasar di tengah tekanan yang terjadi di pasar modal.

Ia berpendapat penjelasan mengenai kombinasi faktor domestik dan global yang disampaikan regulator perlu dilengkapi dengan uraian yang lebih spesifik agar dapat dipahami secara menyeluruh oleh publik.

Elvi menyarankan agar pemerintah dan regulator menjelaskan secara terbuka berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar, termasuk kondisi ekonomi domestik, kebijakan fiskal dan moneter, sentimen investasi, hingga perkembangan situasi geopolitik global.

Ia berpandangan bahwa penyampaian informasi yang lebih terukur dapat membantu menjaga kepercayaan investor sekaligus mengurangi ketidakpastian di pasar.

Selain mendorong peningkatan transparansi, Elvi juga merekomendasikan pemerintah untuk menyiapkan langkah-langkah kebijakan yang dapat mendukung stabilitas pasar keuangan dan memperkuat iklim investasi.

Menurutnya, respons yang cepat dan terukur dapat membantu memulihkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi nasional.

Ia juga menyarankan Komisi XI DPR RI untuk terus menjalankan fungsi pengawasan terhadap kebijakan dan langkah yang ditempuh pemerintah maupun regulator dalam merespons dinamika pasar modal.

IHSG Turun 4 Persen ke 5.594

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 245,01 poin atau 4,20 persen ke posisi 5.594,77 pada Jumat, 5 Juni 2026. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 23,17 poin atau 3,99 persen ke posisi 557,75.

“Beberapa ketidakjelasan kebijakan pemerintah dan rumor pasar yang direspons negatif oleh pasar, kembali mendorong tekanan jual pada pasar modal Indonesia,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (5/6/2026), dikutip dari Antara.

Dari dalam negeri, Ratna mengatakan beberapa kebijakan pemerintah yang direspons oleh pasar yaitu revisi UU P2SK, yang memicu kekhawatiran mengenai potensi gangguan terhadap independensi lembaga keuangan.

Di sisi lain, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan realisasi APBN 2026 hingga Mei 2026 mencatatkan defisit sebesar Rp180,4 triliun (0,7 persen dari PDB), dari sebelumnya defisit Rp20,9 triliun (0,09 persen dari PDB) pada periode sama tahun 2025.

Meskipun demikian, defisit tersebut masih di bawah target defisit tahun 2026 yang mencapai Rp689,1 triliun (2,68 persen dari PDB).

Sementara itu, nilai tukar rupiah ditutup berada di level Rp18,049 per dolar AS.

Ratna mengatakan, pelemahan kurs rupiah memicu spekulasi pasar bahwa Bank Indonesia (BI) akan mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Darurat dari RDG yang terjadwal pada 17-18 Juni 2026.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor melemah yaitu sektor transportasi & logistik turun paling dalam sebesar 5,75 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor energi yang turun masing-masing sebesar 5,64 persen dan 5,37 persen.

Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu MUTU, MMIX, CBPE, LFLO, dan BTON. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni WIFI, ARKO, RSGK, APIC, dan RMKE.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.194.595 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 38,04 miliar lembar saham senilai Rp31,73 triliun. Sebanyak 108 saham naik, 626 saham menurun, dan 81 tidak bergerak nilainya.

0 comments

    Leave a Reply