PB Akuatik Dukung Rencana Penerapan Dwi Kewarganegaraan Terbatas bagi Diaspora

IVOOX.id – Pengurus Besar Akuatik Indonesia mendukung usulan pemerintah mengenai dwi kewarganegaraan terbatas bagi talenta diaspora yang berprestasi dan berpotensi memperkuat Indonesia dalam berbagai ajang olahraga internasional.
Wakil Ketua Umum I Bidang Pembinaan Prestasi dan Sport Science PB Akuatik Indonesia Wisnu Wardhana menilai gagasan tersebut dapat menjadi terobosan untuk membuka peluang lebih luas bagi talenta berdarah Indonesia yang tumbuh dan berlatih di luar negeri.
"Kami sangat mendukung gagasan kewarganegaraan dengan persyaratan khusus ini. Dari sisi olahraga, kami melihatnya sebagai sebuah terobosan pemerintah yang patut diapresiasi," kata Wisnu saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (20//8/2026),dikutip dari Antara.
Menurut Wisnu, pemberian fasilitas tersebut tetap harus dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prestasi serta potensi atlet untuk memperkuat Indonesia pada ajang multievent.
"Prestasinya tentu harus menjadi pertimbangan. Mereka harus memiliki kualitas dan potensi untuk membela Indonesia di SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade," ujarnya.
PB Akuatik selama ini telah memiliki pengalaman dengan perenang diaspora berdarah Indonesia seperti Masniari Wolf dan Felix Viktor Iberle.
Masniari yang berdarah Indonesia-Jerman meraih medali emas nomor 50 meter gaya punggung putri dalam tiga edisi SEA Games secara beruntun pada 2021, 2023, dan 2025.
Sementara Felix menjadi perenang Indonesia pertama yang meraih medali emas Kejuaraan Dunia Renang Junior setelah menjuarai nomor 50 meter gaya dada putra pada edisi 2023 di Netanya, Israel. Dia juga meraih emas di nomor yang sama pada SEA Games 2025 di Kamboja.
Wisnu mengatakan keberadaan kedua perenang tersebut menunjukkan bahwa diaspora berdarah Indonesia dapat menjadi salah satu sumber talenta untuk memperkuat tim nasional.
"Masniari dan Felix menjadi contoh bahwa kita memiliki talenta berdarah Indonesia yang berprestasi. Karena itu, talenta seperti ini perlu terus kita dukung," kata Wisnu.
Meski demikian, Wisnu menegaskan pembahasan tersebut berbeda dengan naturalisasi atlet asing yang tidak memiliki darah Indonesia.
Menurut dia, PB Akuatik saat ini lebih memprioritaskan pencarian talenta diaspora yang memiliki keterkaitan darah dengan Indonesia.
"Untuk saat ini kami masih mencari mereka yang memiliki darah Indonesia. Ini memberikan keyakinan kepada kami bahwa masih banyak diaspora lain yang dapat didukung dan berpotensi memperkuat tim Indonesia," ujarnya.
PB Akuatik juga telah memantau sejumlah perenang muda diaspora di luar negeri, terutama di Amerika Serikat.
Namun, Wisnu menegaskan status sebagai diaspora tidak otomatis membuat seorang atlet diproyeksikan masuk tim nasional karena prestasi dan kualitas atlet Indonesia di dalam negeri tetap menjadi pertimbangan.
"Kami tidak mencari diaspora hanya karena mereka berada di luar negeri. Prestasinya harus menjanjikan. Kalau kualitasnya masih di bawah atlet nasional yang kami miliki, tentu perlu dipertimbangkan kembali," kata Wisnu.
Pemerintah sebelumnya mengusulkan konsep kewarganegaraan ganda terbatas dalam revisi Undang-Undang Kewarganegaraan untuk mengakomodasi talenta diaspora dengan keahlian yang dibutuhkan negara.
Kembangkan Talenta Lewat Diaspora dan "Student-athlete"
Pengurus Besar Akuatik Indonesia mengembangkan jalur dua arah pembinaan talenta di Amerika Serikat dengan memantau atlet muda diaspora berdarah Indonesia sekaligus mengirim atlet dalam negeri melalui program student-athlete.
Wakil Ketua Umum I Bidang Pembinaan Prestasi dan Sport Science PB Akuatik Indonesia Wisnu Wardhana mengatakan pencarian talenta diaspora dilakukan dengan mempertimbangkan prestasi dan potensi jangka panjang, bukan sekadar latar belakang keturunan Indonesia.
"Kami sedang melakukan scouting terhadap diaspora Indonesia di Amerika Serikat. Namun, yang kami lihat bukan sekadar mereka berdarah Indonesia, melainkan juga prestasi dan potensinya," kata Wisnu, dikutip dari Antara.
Menurut Wisnu, pemantauan dilakukan sejak usia muda agar perkembangan atlet dapat diikuti secara berkelanjutan sebelum diproyeksikan lebih jauh.
PB Akuatik bahkan telah memonitor beberapa talenta diaspora selama sekitar dua tahun, termasuk atlet yang mulai dipantau sejak berusia 14 tahun dan kini berusia sekitar 16 tahun.
"Ada beberapa yang sudah kami pantau. Salah satunya sekarang berusia sekitar 16 tahun dan sudah kami monitor sejak dua tahun lalu. Prestasinya juga terus meningkat," ujarnya.
Wisnu mengatakan California menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena memiliki komunitas Indonesia yang cukup besar serta ekosistem pembinaan akuatik yang dinilai baik.
Selain mencari talenta diaspora, PB Akuatik juga menjalankan program dengan arah sebaliknya, yakni membuka kesempatan bagi atlet Indonesia untuk menempuh pendidikan sekaligus menjalani pembinaan olahraga di Amerika Serikat.
Wisnu menilai sistem student-athlete di Amerika Serikat memberikan keuntungan karena pendidikan dan olahraga berjalan dalam satu ekosistem sejak sekolah menengah hingga perguruan tinggi.
"Di Amerika Serikat, pendidikan dan olahraga sudah menjadi satu kesatuan. Atlet bisa berlatih, berkompetisi, sekaligus menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi," kata Wisnu.
Menurut dia, sistem tersebut juga membuka peluang bagi atlet untuk memperoleh beasiswa berdasarkan prestasi olahraga maupun akademik.
"Tahun ini kami mengirim lima atlet student-athlete ke Amerika Serikat dan semuanya mendapatkan beasiswa. Kami memulai dari level ini dengan harapan mereka dapat terus berkembang hingga mencapai level dunia," ujarnya.
Wisnu mengatakan kedua program tersebut saling melengkapi. Di satu sisi, PB Akuatik mencari diaspora berprestasi yang berpotensi memperkuat Indonesia, sementara di sisi lain talenta dalam negeri didorong memperoleh lingkungan latihan dan pendidikan yang lebih mendukung.
"Programnya berjalan dua arah. Kami mencari talenta diaspora yang potensial, tetapi pada saat yang sama juga memberikan kesempatan kepada atlet Indonesia untuk berkembang melalui sistem pendidikan dan olahraga di Amerika Serikat," kata Wisnu.
Ia berharap pola tersebut dapat memperluas pilihan pengembangan atlet sehingga pembinaan tidak hanya bergantung pada program latihan di dalam negeri, tetapi juga memanfaatkan ekosistem olahraga dan pendidikan yang tersedia di luar negeri.
Wisnu Wardhana mengatakan sistem perguruan tinggi di Amerika Serikat memungkinkan atlet menjalani pendidikan, latihan, dan kompetisi dalam satu ekosistem.
"Kalau atlet bisa diterima di Amerika Serikat, pembinaannya bisa berjalan di sana. Kita tidak perlu lagi berulang kali mengirim mereka untuk pemusatan latihan karena biaya tersebut bisa dialokasikan dalam satu program," katanya.
Menurut dia, biaya yang dikeluarkan pada awal penempatan atlet memang dapat relatif besar. Namun, beban tersebut berpotensi berkurang apabila atlet menunjukkan peningkatan prestasi olahraga maupun akademik karena cakupan beasiswa yang diterima dapat bertambah.
Wisnu merujuk pada pengalamannya ketika menempuh pendidikan di Amerika Serikat dan mendapatkan peningkatan beasiswa seiring perkembangan prestasinya.
"Saya juga mengalaminya. Pada awalnya masih harus membayar biaya sekolah, tetapi seiring meningkatnya prestasi olahraga dan akademik, beasiswanya makin besar sampai akhirnya saya tidak perlu lagi membayar biaya pendidikan," ujarnya.
Wisnu menilai skema seperti itu dapat dijajaki lebih luas oleh cabang olahraga Indonesia yang tersedia dalam sistem National Collegiate Athletic Association (NCAA).
Namun, ia mengingatkan atlet yang diarahkan melalui jalur tersebut juga harus memiliki kemampuan akademik yang memadai karena tuntutan sebagai student-athlete tidak hanya berkaitan dengan prestasi olahraga.
"Atletnya juga harus siap secara akademik. Kalau sejak kecil hanya dibiasakan berlatih dan mengejar kompetisi, tetapi pendidikan serta kemampuan bahasa tidak dipersiapkan, mereka akan kesulitan ketika ingin masuk ke sistem internasional," kata Wisnu.


0 comments