Pasca Guncangan MSCI, Ekonom Nilai Rebound IHSG Masih Rapuh | IVoox Indonesia

May 28, 2026

Pasca Guncangan MSCI, Ekonom Nilai Rebound IHSG Masih Rapuh

antarafoto-ihsg-ditutup-melemah-1779369053-1
Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). IHSG ditutup melemah ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis (21/5) terkoreksi 223,56 atau sebesar 3,54 persen. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

IVOOX.id – Ekonom PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan domestik masih berada dalam fase rentan di tengah meningkatnya tekanan eksternal, pelemahan nilai tukar rupiah, serta kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi global maupun domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok 8,35 persen sepanjang perdagangan 18–22 Mei 2026 dan ditutup di level 6.162,04. Pelemahan terjadi di tengah meningkatnya aktivitas transaksi dan tekanan jual investor asing, sementara kapitalisasi pasar menyusut 10,07 persen menjadi Rp10.635 triliun atau terpangkas sekitar Rp1.190 triliun hanya dalam waktu sepekan.

Tekanan utama berasal dari rebalancing MSCI yang efektif berlaku mulai 1 Juni 2026. Dalam penyesuaian tersebut, enam saham Indonesia dikeluarkan dari Global Standard Index dengan estimasi potensi capital outflow mencapai 1,7 miliar dolar AS. Pasar juga dibayangi risiko penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market apabila persoalan struktural tidak segera diperbaiki.

Pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026, IHSG sempat menguat 0,72 persen ke level 6.206,35 yang ditopang kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti AMMN, BBRI, dan BBCA. Meski demikian, penguatan tersebut masih dibayangi aksi jual bersih investor asing atau foreign net sell sekitar Rp2,2 triliun menjelang implementasi rebalancing MSCI. Di saat yang sama, Rupiah kembali melemah hingga menyentuh level Rp17.744 per dolar AS.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai rebound IHSG saat ini masih bersifat teknikal dan belum didukung oleh perbaikan fundamental arus modal asing.

“Selama volatilitas Rupiah masih tinggi dan foreign outflow belum mereda, investor global cenderung tetap defensif terhadap aset domestik. Penguatan pasar saat ini masih relatif rapuh,” kata Rully dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Selasa (26/5/2026).

Ia juga menyoroti pergeseran fokus pasar dari isu inflasi menuju kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi yang tercermin dari dinamika yield obligasi domestik setelah kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin.

Menurutnya, fenomena flattening yield curve atau pendataran kurva imbal hasil menjadi sinyal meningkatnya risiko perlambatan ekonomi ke depan sekaligus mencerminkan dampak kebijakan pengetatan moneter front-loaded oleh Bank Indonesia.

Kenaikan yield tenor pendek pasca kenaikan BI Rate menunjukkan kondisi likuiditas domestik yang semakin ketat, sementara yield tenor panjang yang relatif tertahan mengindikasikan pasar mulai memperhitungkan risiko pelemahan pertumbuhan dalam jangka menengah.

“Pasar masuk ke fase di mana investor tidak hanya memperhatikan arah suku bunga, tetapi juga sustainability pertumbuhan ekonomi domestik di tengah biaya dana yang meningkat dan tekanan eksternal yang masih tinggi,” katanya.

Sementara itu, Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, menyoroti pelebaran defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang tercatat sebesar 9,1 miliar dolar AS pada kuartal I 2026. Di saat bersamaan, defisit transaksi berjalan melebar menjadi 1,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), terdalam sejak kuartal III 2020.

Menurut Jessica, tekanan terhadap Rupiah tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dipicu external imbalance domestik yang semakin melebar, diperparah oleh melemahnya permintaan ekspor dari negara mitra dagang utama seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

Sebagai respons, pemerintah bersama Bank Indonesia tengah menyiapkan implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) mulai 1 Juni 2026. Aturan tersebut mewajibkan eksportir menempatkan devisa hasil ekspor di dalam negeri selama 12 bulan, dengan 50 persen hasil ekspor wajib dikonversi ke Rupiah melalui bank domestik guna meningkatkan permintaan terhadap mata uang nasional.

“Efektivitas implementasinya akan menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar dalam beberapa bulan ke depan,” kata Jessica.

Mirae Asset memperkirakan Bank Indonesia masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25 persen hingga akhir 2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar serta daya tarik imbal hasil domestik.

0 comments

    Leave a Reply