Pantauan BMKG: 733 Titik Panas di Sumatra, 512 di Papua Tengah | IVoox Indonesia

Pantauan BMKG: 733 Titik Panas di Sumatra, 512 di Papua Tengah

pemadaman kebakaran lahan di Desa Sungai Guntung Hilir Kecamatan Rengat Kabupaten Inderagiri Hulu.
Tim Manggala Agni Daops Rengat ketika melakukan pemadaman kebakaran lahan di Desa Sungai Guntung Hilir Kecamatan Rengat Kabupaten Inderagiri Hulu. ANTARA/HO-Manggala Agni

IVOOX.id – Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika Stasiun Pekanbaru Provinsi Riau mendeteksi total 733 titik panas (hot spot) di Pulau Sumatera berdasarkan pembaruan data pada pukul 16.00 WIB, Jumat, 21 Agustus 2026.

Prakirawan BMKG Pekanbaru, Elisa JS Kedang, mengungkapkan bahwa sebaran titik panas ini tersebar di sembilan provinsi, dengan lonjakan tertinggi terdeteksi di Sumatera Selatan yang mencapai 377 titik.

"Wilayah lain yang turut menyumbang angka tinggi adalah Bangka Belitung dengan 100 titik dan Lampung dengan 98 titik, disusul oleh Riau 69 titik, Jambi 53 titik, Kepulauan Riau 17 titik, Bengkulu 14 titik, Sumatera Barat 4 titik, dan Sumatera Utara 1 titik," kata Elisa, dikutip dari Antara.

Sementara itu Provinsi Riau ikut 69 titik panas yang tersebar di delapan wilayah kabupaten. Kabupaten Pelalawan menjadi area paling krusial di Riau dengan temuan 56 titik panas, diikuti oleh Kabupaten Indragiri Hilir sebanyak 4 titik, dan Kabupaten Kampar 3 titik.

Selebihnya terdeteksi di Kabupaten Kepulauan Meranti sebanyak 2 titik, serta Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Kuantan Singingi, Kabupaten Rokan Hulu, dan Kabupaten Indragiri Hulu yang masing-masing mencatatkan 1 titik panas.

Dalam beberapa hari terakhir menurut Manggala Agni kebakaran lahan di Riau sudah menghanguskan 700 hektar lebih. Terbanyak di Kabupaten Inderagiri Hulu seluas 434 ha dan Pelalawan 300 ha.

Selain dua daerah tersebut Manggala Agni juga menangani sejumlah kebakaran lahan di Provinsi Riau. Di antaranya Kabupaten Kampar, Siak, dan Bengkalis.

"Untuk Wilayah Sumatera saat ini yang sedang naik frekuensi kebakarannya di Riau dan Sumatera Selatan. Untuk Sumsel saat ini juga sudah hampir 15 hari di-BKO-kan juga Manggala Agni dari Jambi," ungkap Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto.

Sementara, BMKG Nabire mencatat 279 titik panas timbul di Kabupaten Nabire pada periode 20-21 Agustus 2026, sehingga menjadi wilayah yang memiliki titik panas terbanyak di Papua Tengah.

Prakirawan BMKG Nabire Eusebio A. mengatakan terdapat 512 titik panas timbul di wilayah Papua Tengah dengan kategori 94 titik tingkat rendah, 409 titik kategori sedang, dan sembilan titik kategori tinggi.

“Dengan ditemukannya 512 titik panas di Papua Tengah dan 279 di antaranya berada di Nabire, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah kebakaran meluas,” kata Eusebio di Nabire, Jumat (21/8/2026), dikutip dari Antara.

Ia mengatakan, Nabire menyumbang sekitar 54,5 persen dari seluruh titik panas yang terpantau di Papua Tengah. Setelah Nabire, titik panas terbanyak tercatat di Dogiyai 72 titik, Paniai 54 titik, Puncak 45 titik, dan Intan Jaya 44 titik.

Sementara itu, Deiyai tercatat 11 titik panas dan Puncak Jaya tujuh titik. Kabupaten Mimika menjadi satu-satunya wilayah yang tidak mencatat titik panas dalam pemantauan tersebut.

Jumlah titik panas di Papua Tengah meningkat 266 titik atau sekitar 108,1 persen dibandingkan pemantauan sebelumnya yang mencatat 246 titik.

Kenaikan terbesar terjadi di Nabire, dari 113 menjadi 279 titik panas atau bertambah 166 titik. Dogiyai meningkat dari 47 menjadi 72 titik, Paniai dari 31 menjadi 54 titik, Puncak dari 21 menjadi 45 titik, dan Intan Jaya dari empat menjadi 44 titik.

Berdasarkan tingkat kepercayaan, titik panas kategori rendah meningkat dari 11 menjadi 94 titik, sedangkan kategori sedang naik dari 219 menjadi 409 titik. Adapun kategori tinggi turun dari 16 menjadi sembilan titik.

Ia mengatakan peningkatan titik panas perlu diwaspadai karena dapat menjadi indikator awal potensi kebakaran lahan dan hutan, terutama apabila kondisi cuaca mendukung penyebaran api.

BMKG mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk pembukaan lahan, pembersihan kebun dengan cara membakar, dan pembakaran sampah secara sembarangan.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap atau titik api di lingkungan sekitar agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

BMKG mengingatkan asap kebakaran yang bergerak menuju permukiman, fasilitas umum, atau Bandara Douw Aturure dapat menurunkan jarak pandang dan berpotensi mengganggu keselamatan serta kelancaran penerbangan.

Warga yang beraktivitas di luar ruangan juga diimbau menggunakan masker apabila terdapat asap dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

0 comments

    Leave a Reply