Pakar Usulkan Pengembangan Bioetanol dari Sorgum Agar Tidak Mengganggu Ketahanan Pangan | IVoox Indonesia

July 27, 2026

Pakar Usulkan Pengembangan Bioetanol dari Sorgum Agar Tidak Mengganggu Ketahanan Pangan

Petugas bersiap melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU
Petugas bersiap melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Asaya, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (10/1/2026). Pemerintah menargetkan kewajiban pencampuran etanol 10 persen (E10) dalam bahan bakar mesin (BBM) akan diterapkan paling lambat pada 2028 sebagai upaya mengurangi emisi karbon sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor BBM. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nym.

IVOOX.id – Pakar energi dari Universitas Indonesia Ali Ahmudi Achyak mengusulkan pengembangan bioetanol dari sorgum agar tidak mengganggu ketahanan pangan.

Menurut dia, masyarakat Indonesia lebih sedikit yang mengkonsumsi sorgum dibanding beras, jagung dan gandum. Karenanya sorgum lebih memiliki potensi dikembangkan menjadi bioetanol, tanpa harus mengganggu kebutuhan pasok pangan. 

Ali yang merupakan peneliti bioenergi mengatakan persyaratan lahan untuk menanam sorgum tidaklah sulit.

Lebih lanjut ia mengatakan sorgum bisa tumbuh di lahan yang kering, kurang air, di lahan bekas hutan gundul, hingga di daerah-daerah pesisir pantai yang kering.

“Itu sorgum bisa hidup. Kalau itu dikembangkan, misalnya di pesisir selatan Jawa, kemudian NTT, NTB, di pesisir barat Sumatera, itu bisa besar dan menjadi pasokan bioetanol,” kata Ali, saat dihubungi, Minggu (25/7/2026), dikutip dari Antara.

Sementara itu, bila pemerintah mengembangkan bioetanol dari bahan-bahan pangan pokok, seperti tebu, singkong, hingga jagung, Ali mengkhawatirkan pengembangan program bioetanol mengganggu program ketahanan pangan.

Ali berpandangan, bila pemerintah akan menggunakan tebu untuk pengembangan bioetanol, pemerintah harus betul-betul menghitung berapa kebutuhan gula dibanding produksi tebu nasional agar tidak mengganggu ketahanan pangan.

“Jangan sampai karena tebunya dipakai untuk etanol, gulanya jadi impor. Kan gula itu bukan hanya urusan konsumsi rumah tangga, tapi industri kue, industri makanan, itu menggunakan gula,” ujar Ali.

Ia juga berpesan untuk menghindari penggunaan jagung sebagai bahan baku bioetanol, sebab jagung tidak hanya dikonsumsi oleh manusia, tetapi juga untuk pakan ternak.

“Kalau jagung ini nanti muncul pertengkaran tiga pihak. Pertama untuk manusia, kedua pakan ternak, ketiga buat energi. Prioritaskan dulu yang pangan,” kata Ali.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah menargetkan penerapan campuran etanol 10 persen dalam bahan bakar minyak (E10) mulai 2027 sebagai tahap awal sebelum beralih ke E20.

Ia mengatakan pemerintah telah mengkaji kebijakan mandatori etanol sejak 2025. Saat ini, kajian tersebut hampir rampung dan menjadi dasar penyusunan peta jalan penerapan E20 yang ditargetkan berlangsung secara bertahap hingga 2028–2029.

Menurut Bahlil, kebijakan pencampuran etanol ke dalam bensin bertujuan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak, khususnya bensin.

0 comments

    Leave a Reply