Pakaian Impor dari China hingga Vietnam Masih Banjiri RI, Bulan Juli Persentasenya Naik | IVoox Indonesia

August 31, 2025

Pakaian Impor dari China hingga Vietnam Masih Banjiri RI, Bulan Juli Persentasenya Naik

menkopukm-meminta-akun-penjual-pakaian-impor-bekas-dihapus-3
Calon pembeli memilih pakaian bekas yang dijual di salah satu toko di Pasar Senen Blok 3, Jakarta, Rabu (8/11/2023). Kementerian Koperasi dan UKM meminta Instagram untuk menghapus akun yang menjual baju impor bekas karena termasuk kegiatan penyelundupan dan melanggar Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 40 Tahun 2022 tentang barang dilarang ekspor dan impor. ANTARA FOTO/Rifqi Raihan Firdaus

IVOOX.id – Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan impor pakaian dari sejumlah negara termasuk China pada Juli 2204 mengalami kenaikan. 

Berdasarkan catatan BPS impor pakaian jadi berupa pakaian rajutan atau HS 61 meningkat 55,46 persen secara bulanan dan impor pakaian jadi bukan rajutan atau HS 62 naik 29,01 persen.

Sementara negara-negara pengimpor pakaian jadi berupa pakaian rajutan di antaranya dari China, Vietnam, Bangladesh, Turki dan Italia. Kemudian untuk impor pakaian bukan rajutan utamanya berasal dari China, Bangladesh Vietnam, Hongkong dan Maroko.

Kendati begitu kata dia jika diakumulasi dari Januari hingga Juli 2024 impor pakaian relatif mengalami penurunan sebanyak 4,75 persen.

"Namun perlu jadi catatan, secara kumulatif pakaian dan aksesoris lanjutan HS 61 dari Tiongkok sepanjang Januari sampai Juli 2024 mengalami penurunan sebanyak 4,75 persen dengan komoditas terbesar mengalami penurunan pakaian atau aksesoris dirajut," kata Amalia konferensi pers, Kamis (15/8/2024).

Kemudian pada periode Januari-Juli 2024 kelompok aksesoris bukan rajutan juga mengalami penurunan sebesar 7,71 persen yang didorong oleh penurunan impor paling banyak di kelompok bra berbahan non katun.

"Jadi sekali lagi kalau bulanan mengalami peningkatan tapi kalau data ekspor dan impor yang lebih relatif baik melihat angka kumulatif bulan satu periode. Kalau bulanan relatif pengaruhi waktu pengiriman kebutuhan stok akan berbeda," katanya.

"Tetapi kalau kita lihat bagaimana performa ekspor atau impor suatu negara lebih baik dilihat dalam angka diakumulasikan," ujar Amalia.

0 comments

    Leave a Reply