Overthinking Menjelang Lebaran: Antara Target Tercapai dan Realita

IVOOX.id, Jakarta - Menjelang Lebaran, suasana biasanya dipenuhi berbagai persiapan. Mulai dari membeli baju baru, memesan tiket mudik, hingga berburu kue kering untuk disajikan saat hari raya. Namun di balik euforia itu, tidak sedikit anak muda yang justru merasakan satu hal lain: overthinking.
Bagi banyak Gen Z dan milenial, Lebaran bukan hanya momen pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga. Ada perasaan campur aduk yang kadang muncul ketika menyadari bahwa satu tahun telah berlalu, sementara beberapa target hidup masih terasa jauh dari harapan.
Perasaan ini sering muncul ketika seseorang mulai membandingkan rencana di awal tahun dengan kondisi yang terjadi sekarang. Ada yang dulu menargetkan ingin naik jabatan, pindah pekerjaan, memulai bisnis, atau mencapai kestabilan finansial. Namun kenyataannya, hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Media sosial juga sering memperkuat perasaan tersebut. Timeline dipenuhi kabar teman yang baru menikah, membeli rumah, membuka usaha, atau mendapatkan promosi jabatan. Tanpa disadari, banyak orang mulai membandingkan perjalanan hidupnya dengan orang lain.
Padahal, setiap orang memiliki titik awal, peluang, dan tantangan yang berbeda.
Momen Lebaran juga identik dengan kumpul keluarga besar. Di sinilah overthinking kadang semakin terasa. Pertanyaan yang sebenarnya sederhana bisa berubah menjadi tekanan tersendiri.
Mulai dari “sekarang kerja di mana?”, “kapan nikah?”, “sudah punya rumah belum?”, hingga “tahun depan rencananya apa?”.
Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul sebagai bentuk perhatian atau sekadar basa-basi. Namun bagi sebagian anak muda yang sedang merasa belum mencapai target hidupnya, kalimat tersebut bisa memicu rasa tidak percaya diri.
Tidak sedikit pula yang merasa seolah hidupnya sedang tertinggal dibanding orang lain.
Padahal jika ditarik lebih jauh, perjalanan hidup jarang sekali berjalan lurus. Banyak orang yang justru menemukan jalannya setelah melalui berbagai kegagalan, perubahan rencana, atau bahkan memulai ulang dari awal.
Generasi muda saat ini juga menghadapi tantangan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Persaingan kerja lebih ketat, biaya hidup meningkat, dan perubahan dunia kerja berlangsung sangat cepat.
Situasi ini membuat banyak anak muda membutuhkan waktu lebih panjang untuk menemukan stabilitas.
Karena itu, penting untuk melihat Lebaran bukan sebagai momen evaluasi keras terhadap diri sendiri, melainkan sebagai waktu untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang melelahkan.
Lebaran bisa menjadi ruang untuk bernapas, memperbaiki hubungan dengan keluarga, serta memberi waktu bagi diri sendiri untuk kembali menata langkah ke depan.
Tidak semua target harus tercapai dalam satu tahun. Tidak semua mimpi harus selesai di usia tertentu.
Kadang yang paling penting bukan seberapa cepat kita sampai, tetapi bagaimana kita terus bergerak meski pelan.
Jika menjelang Lebaran ini muncul rasa overthinking tentang hidup yang terasa belum sesuai rencana, mungkin itu hal yang wajar. Banyak orang merasakan hal yang sama.
Yang terpenting adalah tetap melangkah, dengan ritme yang sesuai dengan perjalanan masing-masing.
Penulis: Maulana Haitami


0 comments