Ngabuburit Nggak Harus Scroll: Cara Lebih Seru Menunggu Waktu Berbuka

IVOOX.id, Jakarta - Menjelang magrib, suasananya hampir sama di mana-mana. Energi mulai turun, perut mulai “protes”, dan tangan refleks membuka media sosial. Satu video lewat, lalu video berikutnya. Tanpa terasa, adzan pun tiba. Ngabuburit selesai, tapi rasanya seperti tidak melakukan apa-apa.
Bagi milenial dan Gen Z yang hidupnya tak jauh dari layar, scrolling memang jadi pilihan paling praktis untuk mengisi waktu. Cepat, mudah, dan tidak butuh tenaga. Tapi Ramadan sebenarnya memberi ruang untuk mencoba hal lain yang mungkin lebih berkesan dan membuat waktu terasa lebih bermakna.
Ngabuburit bisa jadi momen untuk bergerak. Bukan olahraga berat, cukup jalan santai 20–30 menit menjelang berbuka atau stretching ringan di rumah. Aktivitas fisik ringan justru membantu tubuh tetap segar dan memperbaiki suasana hati. Banyak anak muda sekarang memilih lari santai menjelang magrib dengan menghidupkan 'Strava' karena setelah selesai, mereka bisa langsung berbuka dan mengisi kembali energi.
Namun selain fisik, ada aspek yang sering terlupa: kebutuhan spiritual.
Ramadan identik dengan Al-Qur’an. Tapi faktanya, masih banyak anak muda yang merasa belum lancar membacanya. Ada yang terbata-bata, ada yang kurang percaya diri, bahkan ada yang menunda karena merasa “belum bisa”.
Padahal justru Ramadan adalah momen terbaik untuk mulai.
Ngabuburit bisa menjadi waktu ideal untuk membaca beberapa ayat setiap hari. Tidak perlu langsung banyak. Satu halaman, setengah halaman, bahkan beberapa ayat pun cukup jika dilakukan konsisten. Sekarang juga banyak aplikasi dan video pembelajaran tajwid yang memudahkan belajar pelafalan secara perlahan. Tidak harus sempurna di awal. Yang penting berani mulai.
Bagi yang merasa belum lancar, ini bukan soal malu, tapi soal proses. Banyak orang dewasa baru benar-benar belajar memperbaiki bacaan Al-Qur’an setelah sekian lama. Dan Ramadan sering menjadi titik baliknya.
Selain membaca, waktu menjelang magrib juga bisa dipakai untuk refleksi ringan. Menulis jurnal, mengevaluasi diri, atau sekadar duduk tanpa distraksi layar. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh notifikasi, momen hening justru terasa mewah.
Scroll media sosial tentu bukan hal yang salah. Tapi kalau setiap sore berjalan dengan pola yang sama, Ramadan bisa lewat tanpa meninggalkan bekas.
Mungkin sesekali kita bisa memilih aktivitas yang bukan hanya mengisi waktu, tetapi juga membentuk diri. Bergerak untuk kesehatan, belajar untuk masa depan, dan membaca Al-Qur’an untuk ketenangan hati.
Karena pada akhirnya, ngabuburit bukan cuma tentang menunggu adzan. Tapi tentang bagaimana kita bertumbuh di sela-sela waktu itu.
Penulis: Maulana Haitami


0 comments