NEXT Sebut Hilirisasi Ekspor Jadi Sumber Ekonomi Baru Indonesia

IVOOX.id – Kepala Riset NEXT Indonesia Center Ade Holis mengatakan penguatan hilirisasi dan diversifikasi ekspor menjadi strategi penting untuk meningkatkan daya saing perdagangan Indonesia sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru di tengah dinamika perdagangan global.
Menurut Ade, langkah strategis yang perlu dipercepat adalah pengembangan industri hilir pada sektor-sektor unggulan, seperti sawit, mineral, dan manufaktur, sehingga ekspor Indonesia semakin didominasi produk bernilai tambah tinggi.
"Hal yang lebih penting adalah membangun struktur ekspor yang lebih beragam, bernilai tambah tinggi, dan mampu bertahan menghadapi gejolak ekonomi global. Dengan fondasi seperti itu, ekspor bersih akan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang," kata Ade dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (19/7/2026), dikutip dari Antara.
Ia mengatakan strategi tersebut tidak hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga membuka pasar baru, menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri dalam negeri, serta meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
NEXT Indonesia Center menilai penguatan sektor ekspor utama perlu menjadi prioritas kebijakan. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui hilirisasi industri sawit, pengembangan industri pengolahan mineral, serta peningkatan daya saing industri besi dan baja, elektronik, otomotif, produk kimia, dan manufaktur agar menjadi motor pertumbuhan ekspor baru.
"Melalui langkah-langkah tersebut, Indonesia tidak hanya berpeluang mengembalikan surplus neraca perdagangan, tetapi juga membangun struktur ekspor yang lebih produktif, lebih tangguh terhadap gejolak global, serta mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Ade.
Ia menambahkan, data perdagangan Indonesia menunjukkan fondasi ekspor nasional masih cukup kuat. Kajian NEXT berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia masih membukukan surplus sebesar 4 miliar dolar AS sepanjang Januari-Mei 2026.
Pada periode Januari-Mei 2026 tersebut, nilai ekspor mencapai 115,4 miliar dolar AS, tumbuh 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, pertumbuhan impor yang mencapai 15,24 persen membuat ruang surplus perdagangan semakin menyempit.
Pada Mei 2026, Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan sebesar 1,6 miliar dolar AS, yang menurut Ade, perlu dipandang sebagai momentum untuk mempercepat transformasi struktur ekspor, bukan sekadar mengejar surplus perdagangan bulanan.
Menurutnya, pelemahan sejumlah komoditas utama menjadi pengingat bahwa ketergantungan terhadap ekspor berbasis komoditas mentah perlu dikurangi melalui percepatan hilirisasi dan diversifikasi produk ekspor.
Dengan demikian, Indonesia akan memiliki struktur perdagangan yang lebih kuat dan berkelanjutan dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi global.


0 comments