Momentum IHSG Mulai Membaik, Efektivitas Fiskal Jadi Kunci Pasar 2027 | IVoox Indonesia

Momentum IHSG Mulai Membaik, Efektivitas Fiskal Jadi Kunci Pasar 2027

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto dalam Media Day Mirae Asset Sekuritas bertajuk Fear vs Fundamentals: Where Is Indonesia Really Headed? pada Selasa (30/6/2026). IVOOX.ID/Fahrurrazi Assyar

IVOOX.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia melihat momentum pasar saham domestik mulai menunjukkan perbaikan di tengah perhatian investor terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Penguatan tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 1,7 persen ke level 6.502. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah menguat ke sekitar Rp17.746 per dolar AS sehingga turut menopang sentimen terhadap aset domestik.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan kualitas penguatan IHSG juga mulai membaik. Menurutnya, kenaikan indeks tidak lagi hanya bergantung pada satu saham.

Saham AMMN dan BRMS menjadi penopang utama seiring penguatan harga emas. Sementara itu, BBCA dan BBRI turut memberikan kontribusi terhadap kenaikan indeks.

“Momentum IHSG membaik, tetapi kenaikan global yields, volatilitas yen, dan potensi unwind carry trade tetap menjadi risiko eksternal utama,” ujar Rully dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Sabtu (22/8/2026).

Di pasar komoditas, harga emas bertahan di sekitar US$4.500 per troy ounce. Kondisi tersebut didukung prospek penurunan real yields, meski risiko inflasi akibat kenaikan harga minyak masih menjadi perhatian.

Sementara itu, intervensi terhadap yen mendorong investor Jepang kembali meningkatkan aktivitas carry trade dan pembelian aset di luar negeri.

RAPBN 2027 Fokus Efektivitas Anggaran

Mirae Asset menilai RAPBN 2027 menunjukkan perubahan strategi fiskal pemerintah. Jika sebelumnya pemerintah lebih berfokus pada ekspansi program, kebijakan fiskal ke depan dinilai mulai bergeser menuju optimalisasi penggunaan anggaran.

Dengan ruang fiskal yang lebih terukur, pemerintah menghadapi tantangan untuk memastikan setiap rupiah anggaran memberikan dampak optimal terhadap pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah menargetkan defisit fiskal 2027 menyempit menjadi Rp671,2 triliun atau 2,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pendapatan negara diproyeksikan tumbuh 8,6 persen menjadi Rp3.426 triliun, sedangkan belanja negara diperkirakan meningkat 6,6 persen menjadi Rp4.097,2 triliun.

Di sisi lain, pemerintah tetap menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027.

Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa mengatakan tantangan fiskal tahun depan tidak lagi berfokus pada peningkatan kapasitas belanja, melainkan efektivitas penggunaannya.

Hal tersebut terlihat dari rata-rata pertumbuhan anggaran 10 kementerian/lembaga terbesar yang diperkirakan berbalik menjadi kontraksi 1,4 persen pada 2027, dari pertumbuhan 38,5 persen pada 2026. Sementara itu, belanja pegawai diproyeksikan turun 34,8 persen.

“2027 bukan lagi soal meningkatkan belanja, tetapi bagaimana setiap rupiah dapat bekerja lebih keras untuk menghasilkan pertumbuhan yang lebih tinggi,” ujar Jessica.

Dari sisi penerimaan, pemerintah menargetkan penerimaan perpajakan mencapai Rp2.908 triliun. Penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) diproyeksikan tumbuh 9,9 persen, sedangkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPnBM sebesar 13,4 persen.

Mirae Asset menilai Coretax, peningkatan kepatuhan pajak, serta aktivitas ekonomi domestik akan menjadi penggerak utama penerimaan negara. Dengan demikian, pemerintah diharapkan tidak terlalu bergantung pada keuntungan dari kenaikan harga komoditas atau commodity windfall.

Efisiensi MBG Buka Ruang Fiskal

Pada sisi belanja, efisiensi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai berpotensi membuka ruang realokasi anggaran ke transfer daerah maupun program yang memiliki multiplier ekonomi lebih tinggi.

Anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) pada 2027 diproyeksikan turun 10,4 persen menjadi Rp240,2 triliun. Sementara itu, Mirae Asset memperkirakan realisasi anggaran MBG sepanjang 2026 berada di kisaran Rp168 triliun hingga Rp192 triliun.

Dari sisi pembiayaan, kebutuhan refinancing pemerintah masih besar dengan jatuh tempo Surat Berharga Negara (SBN) sekitar Rp878 triliun. Namun, inflow dari perusahaan asuransi dan dana pensiun yang diperkirakan mencapai Rp143 triliun dapat menjadi penyangga imbal hasil di tengah potensi tambahan pasokan SBN.

Mirae Asset memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 7,2-7,5 persen pada 2027. Besarnya kebutuhan penerbitan, risiko rupiah, dan faktor geopolitik diperkirakan membatasi ruang penurunan yield.

Namun, apabila stabilitas rupiah memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk kembali menurunkan suku bunga, yield SBN tenor 10 tahun berpotensi turun menuju kisaran 6,6-6,9 persen.

“Cerita pasar 2027 akan bertumpu pada efektivitas fiskal dalam menjaga pertumbuhan dan stabilitas Rupiah dalam Bank Indonesia untuk menentukan arah kebijakannya,” tutup Jessica.

0 comments

    Leave a Reply