Meretas Jalan Terjal Ekonomi Digital: Perjuangan Siti Alifah Meraih Cita-cita “Utopis” Menjadi Guru Sejahtera

IVOOX.id – Suara tawa anak-anak menjadi rutinitas yang didengar Siti Alifah Faiz setiap pagi di ruang kelas. Seragam cokelat dan senyum di wajahnya menjadi atribut yang wajib ia kenakan. Perempuan berusia 29 tahun tersebut berprofesi sebagai guru Taman Kanak-kanak (TK), profesi yang sejak lama ia cita-citakan itu terwujud di sekolah sederhana di TK Khalifah Jati Agung, Lampung Selatan. Di ruang kelas kecil itu, Alifah tak sekadar mengajarkan huruf, angka, dan warna. Ia sedang menanamkan fondasi kehidupan, membimbing tangan-tangan kecil yang kelak akan membangun masa depan.
Alifah terlahir dari keluarga sederhana. Mimpinya menjadi seorang guru pun lahir dari kedua orang tuanya yang juga sebagai seorang guru, dari sanalah Alifah terinspirasi untuk melanjutkan perjuangan mulia orang tuanya sebagai seorang guru.
Bagi anak-anak didiknya, Bu Alifah Adalah sosok panutan setelah orang tua mereka. Dengan pembawaannya yang hangat dan ceria, Alifah tahu kapan harus mengajak mereka bernyanyi, kapan membiarkan mereka bereksplorasi, dan kapan harus memeluk dan menenangkan seorang anak yang menangis ingin pulang karena rindu ibunya.
“Saya merasa ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa menemani mereka belajar, bermain, mencoba sesuatu yang baru, dan melihat proses perkembangan mereka,” tutur Alifah saat menceritakan sepenggal kisah hidupnya kepada Ivoox.id pada Jumat (7/8/2026).
Namun terkadang di perjalanannya dari rumah menuju sekolah, pikirannya melanglang buana di antara lamunan. Terbersit tentang persoalan kesejahteraan yang dialami rekan-rekan seprofesinya, tentang nasib para guru honorer yang jauh dari kata “sejahtera” dan kekhawatiran tentang nasibnya sendiri di masa depan. Pemikiran liar itu bukan tanpa alasan, ia tahu betul dan merasakannya sendiri sehari-hari. Alifah tidak mengada-ada, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 mencatatkan sekitar 45-56 persen guru non-ASN masih menerima gaji di bawah 1 Juta rupiah per bulan. Bagi Alifah dan semua guru yang senasib dengannya, pendapatan itu jelas jauh dari kata cukup untuk sekadar hidup.
Lalu kekhawatirannya itu seketika teralihkan tatkala lonceng penanda pulang sekolah berbunyi dan kelas kembali lengang. Alifah sejenak melepaskan diri dari gelar profesinya yang mulia itu. Ia membuka gawai, menyalakan kamera, lalu mulai membuat konten di media sosial. Sesekali ia merekam ulasan sebuah buku, perlengkapan belajar mengajar, pakaian, atau kebutuhan yang memang ia gunakan sehari-hari. Dari aktivitas yang tampak sederhana itu menjadi jalan bagi Alifah untuk mewujudkan cita-citanya yang terdengar utopis, menjadi guru yang sejahtera.
Alifah adalah salah satu potret guru modern di Indonesia. Mengajar tetap menjadi panggilan jiwanya, namun dunia digital memberinya ruang untuk hidup lebih sejahtera tanpa harus meninggalkan profesi yang sejak lama menjadi impiannya. Bagi Alifah, menjadi guru TK tak sesederhana hanya sekadar menyampaikan materi ajar, lebih dari itu. Ia sedang mendampingi anak-anak yang masih dalam usia dini itu untuk mengenal dirinya sendiri, belajar bersikap, membangun kepercayaan diri, hingga perlahan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri.
“Salah satu hal yang paling menguatkan saya menjadi guru adalah ketika saya melihat ekspresi senang, sedih, dan perubahan sikap anak. Ada anak yang awalnya masih malu, kurang percaya diri, atau belum terbiasa mandiri. Kemudian setelah membersmai prosesnya dengan sabar, perlahan saya melihat perubahan dalam dirinya. Ketika anak mulai menunjukkan sikap yang lebih baik, bagi saya itu merupakan kebahagiaan yang luar biasa,” ujarnya.

Siti Alifah Faiz saat mengulas produk bahan ajar untuk dijadikan konten affiliate di sela-sela kesibukannya sebagai guru honorer. IVOOX.ID/dok pribadi Siti Alifah Faiz
Menekuni Ekonomi Digital Saat Pandemi Covid-19
Pandemi Covid-19 enam tahun silam, mengubah cara pandangnya terhadap hidup dan ribuan kekhawatirannya. Ia ingat kala itu sekitar tahun 2020 hingga 2021, kondisi belajar mengajar yang dilaksanakan secara daring dan pembatasan ruang sosial membuat pikirannya dipaksa mengembara hanya di sepetak ruang kamarnya. Benaknya dipenuhi pertanyaan bagaimana agar bisa bertahan di masa sulit dan potensi apa yang bisa ia kembangkan dengan segala keterbatasan yang ada.
Alifah kala itu hanya terpikir bagaimana cara mencari tambahan penghasilan. Ia mulai berselancar di lautan informasi dengan browsing di internet, hingga usapan jarinya di layar gawai berhenti pada satu informasi tentang program Shopee Affiliate. Ia memberanikan diri mendaftar pada program tersebut dengan nama pengguna “Racun Shopee Alifah”. Ia tidak menaruh ekspektasi besar. Ia sadar pengikut di media sosialnya tidak banyak dan dirinya juga bukan konten kreator yang termasyhur.
“Saya sebenarnya hanya iseng-iseng mencoba mendaftar (program) Shopee Affiliate karena ingin memiliki penghasilan tambahan di samping pekerjaan saya sebagai guru,” cerita Alifah.
Tanpa pertimbangan panjang, ia pun memulai membuat konten dengan mengulas produk-produk yang dekat dengan kesehariannya. Bukan produk mahal atau yang sedang menjadi tren, ia mengulas perlengkapan mengajar, buku-buku anak, dan pakaian modis sehari-hari yang ia gunakan. Bermodalkan gawai dengan spesifikasi standar dan lampu pencahayaan seadanya yang dibeli dengan menyisihkan sedikit uang dari hasil mengajar, ia coba memulai semuanya. Hanya tekad kuat sebagai satu-satunya modal termahal yang ia punya saat itu.
Jalan ekonomi digital yang dirintisnya bukan jalan yang mulus, melainkan jalan yang penuh dengan tikungan tajam yang menguji keteguhan hatinya. Kerja keras yang ia hasilkan dari komisi pertamanya terhitung kecil, hanya beberapa ribu rupiah saja. Sempat terbersit keraguan dalam dirinya, “Apakah ke depannya akan gagal?” atau, “apakah usaha ini hanya buang-buang waktu saja?”
Namun, Alifah memilih untuk tidak mudah kecewa, ia tahu kunci dari semua ini hanya satu yaitu konsistensi. “Awalnya memang tidak seberapa, bisa dibilang dapat receh buat ngopi saja. Tetapi lama-kelamaan komisinya mulai meningkat,” kenangnya.
Pengalaman itu mengubah cara pandangnya terhadap media sosial. Platform yang sebelumnya hanya menjadi tempat berbagi cerita pribadinya saja ternyata juga bisa menjadi ruang produktif yang menghasilkan nilai ekonomi.
Seiring waktu berlalu, Alifah tidak hanya membagikan tautan produk di media sosialnya. Berbekal naluri sebagai seorang guru, ia mulai membuat tutorial di kanal YouTube miliknya untuk berbagi ilmu kepada orang lain di luar sana agar memahami cara bergabung sebagai affiliator, khususnya bagi pemula yang ingin memperoleh penghasilan tambahan tanpa modal besar. Ia berharap dengan bermanfaat bagi orang lain, uluran tangan Tuhan selalu menyertai di setiap langkahnya.
Tidak berhenti di sana, Alifah pun mulai belajar memahami algoritma, mengikuti perkembangan tren digital, hingga mempelajari kebutuhan audiens. Konsistensi menjadi kunci yang terus ia pegang. Semua dilakukan perlahan di sela-sela kesibukannya sebagai guru.
“Kita tidak harus langsung memiliki banyak pengikut atau membuat konten yang sempurna. Yang paling penting adalah mulai dari produk yang kita kenal dan gunakan dulu, kemudian membuat konten yang bermanfaat,” tuturnya.
Konsistensi dan Kerja Keras Membuahkan Hasil
Setelah beberapa tahun bertahan dan mencoba berbagai formula yang ia pelajari sendiri, konsisten dan kerja keras Alifah mulai menuju titik terang. Dalam periode tertentu, komisi yang diterimanya dari program afiliasi Shopee berkembang mencapai Rp10 juta hingga paling tinggi Rp30 juta dalam satu bulan. Angka yang berpuluh kali lipat dibandingkan pendapatan sebelumnya, angka yang bagi banyak guru honorer mungkin terdengar seperti mimpi. Belakangan Alifah paham, ternyata produk sehari-hari yang menjadi strategi awal memiliki potensi besar penjualan dalam dunia afiliasi sehingga bisa menghasilkan pendapatan yang besar.
Keberhasilan Alifah tak hanya kebetulan dan keberuntungan semata, ekosistem pertumbuhan program affiliate saat ini pun ternyata mendapat dukungan yang masif dari sisi lokapasar (marketplace) dan pemerintah. Sebagai contoh, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) berkolaborasi dengan Shopee Indonesia meluncurkan program Training of Trainers (ToT) Shopee Affiliate. Program yang digelar pada 11-13 Februari 2026 tersebut menargetkan 1.000 affiliator baru hingga akhir tahun 2026.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli saat membuka ToT Shopee Affiliate di BBPVP Bekasi pada Senin (3/8/2026). IVOOX.ID/doc Kemnaker
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli berharap ke depan akan semakin banyak orang yang memiliki semangat juang yang sama seperti Alifah, sehingga nantinya affiliator tidak hanya matang secara pemahaman konsep, tetapi juga mampu mengajarkan Kembali secara praktis.
"Kami berharap para instruktur yang dilatih tidak hanya paham terkait affiliate marketing, tetapi juga mampu menularkan pengetahuan dan keterampilan ini kepada masyarakat, khususnya generasi muda dan pencari kerja, agar dapat membuka peluang usaha dan sumber penghasilan baru secara mandiri," kata Yassierli saat membuka ToT Shopee Affiliate di BBPVP Bekasi dikutip dari keterangan resmi Kemnaker pada Senin (3/8/2026).
Di kesempatan yang sama, hal senada disampaikan oleh Deputy Director of Public Affairs Shopee Indonesia, Radynal Nataprawira, dengan harapan agar program Shopee tidak hanya berbagi pengetahuan dan praktik terbaik di ekosistem affiliate, tetapi juga mendukung peran balai pelatihan vokasi sebagai pusat pengembangan talenta digital hingga ke daerah. Sehingga ke depannya, kata dia, akan lebih banyak guru, karyawan, atau bahkan orang yang belum bekerja bisa mendapatkan pelatihan dan penghasilan dari program tersebut.
"Melalui pelatihan Training of Trainers Shopee Affiliate, kami berharap para instruktur balai pelatihan vokasi tidak hanya memahami praktik affiliate marketing secara komprehensif, tetapi juga mampu menjadi ujung tombak dalam menyebarkan pengetahuan tersebut kepada masyarakat di berbagai daerah," ujarnya.
Lebih jauh ke belakang, Sejak diluncurkan pada 2021, Kampus UMKM Shopee telah memberikan pendampingan dan edukasi kepada jutaan UMKM di Indonesia. Hingga hari ini, Kampus UMKM Shopee telah menyelenggarakan lebih dari 350.000 jam pelatihan dan didukung oleh lebih dari 400 modul pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha dan talenta digital.
Komitmen lokapasar dan pemerintah untuk memupuk ekosistem affiliate agar berkembang subur pun diperkuat dengan pernyataan dari Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Budi Primawan. Ia menyampaikan bahwa potensi dan perkembangan lokapasar saat ini masih tinggi didukung dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat.
“Volume dan nilai transaksi terus naik, didukung pembayaran digital, logistik yang makin efisien dan pengguna internet yang makin besar. Potensinya juga masih Panjang apalagi banyak UMKM sekarang menjadikan kanal digital sebagai jalur utama penjualan,” ujar Budi saat dihubungi Ivoox.id pada Jumat (7/8/2026).
Namun, di samping itu, Budi memandang masih ada tantangan yang harus dihadapi baik oleh penjual di lokapasar maupun bagi affiliator, terutama dalam segi literasi digital yang belum merata. Diharapkan dengan adanya program ToT untuk affiliator yang diselenggarakan oleh lokapasar dan pemerintah bisa menjawab tantangan tersebut sehingga semakin banyak lagi orang yang mengikuti perjalanan sukses Alifah di dunia affiliator.
Hingga saat ini, Alifah adalah satu dari jutaan orang yang berhasil memanfaatkan affiliate sebagai sumber penghasilan tambahan. Potensinya pun masih terbuka luas. Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UMKM Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Fadhila Maulida memandang industri affiliate marketing di Indonesia diprediksi masih mengalami lonjakan yang signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Sejalan dengan pernyataan idEA, potensi affiliate ditopang oleh jumlah pengguna internet yang terus bertambah serta tren belanja daring yang semakin mengandalkan konten. Saat ini, penetrasi internet di Indonesia telah melampaui angka 80 persen. Artinya, lebih dari 229 juta penduduk sudah terhubung ke ruang digital.
“Jadi, kalau misalkan (affiliator) ini terus bertambah, kita tidak akan kekurangan pasarnya juga,” ujar Fadhila dikutip dari Youtube The Economeets INDEF episode Affiliate Marketing Indonesia: Peluang, Tantangan, dan Dampaknya bagi Ekonomi pada Rabu (8/4/2026).
Perjalanan Alifah tak berhenti sebagai affiliator sukses. Konten afiliasi yang telah ia kembangkan selama bertahun-tahun di media sosialnya membuahkan efek bola salju. Akun Instagram, TikTok dan YouTube miliknya mengalami perkembangan pesat setiap tahun, sehingga pada momen itu ia mulai menyadari bahwa ketiga platform tersebut bisa dimanfaatkan juga untuk menyalurkan ilmu pedagogik melalui konten-konten bermanfaat sesuai fitrahnya sebagai seorang guru.

Akun Instagram SIti Alifah Faiz @sitialifahfaiz yang memuat konten affiliasi dan konten edukasi. IVOOX.ID/doc Tangkapan layar Instagram @sitialifahfaiz
Angkanya tak main-main, hingga saat tulisan ini dimuat, akun Instagram Alifah dengan nama pengguna @sitialifahfaiz telah mencapai 242 ribu pengikut; di TikTok @sitialifahfaiz05 memiliki 274,4 ribu pengikut; dan di YouTube mencapai 701 Subscriber. Jika ditotal, konten afiliasi sebagai sumber ekonomi digital yang ia bangun dan konten edukatif tentang cara mengajar secara kreatif, media ajar yang asyik, dan bahan ajar yang menyenangkan bisa terdistribusi kepada lebih dari 1 Juta orang. Angka luar biasa yang berhasil dicapai oleh seorang guru honorer yang memilih melek secara digital.
Namun, Alifah tak memandang pencapaian itu sebagai ukuran kesuksesan semata. Tak hanya urusan dunia yang ia kejar, penghasilan itu digunakannya untuk mewujudkan mimpinya. Ia berhasil umrah bersama keluarga tercinta yang doa-doanya menjadi bahan bakar perjuangannya, mendaftarkan diri untuk ibadah haji, membeli gawai mutakhir yang menunjang pekerjaannya, berinvestasi emas untuk masa depannya, hingga membiayai pendidikan Magisternya.
“Yang paling saya syukuri, penghasilan dari afiliasi tersebut tidak hanya saya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga bisa membantu mewujudkan beberapa tujuan yang saya impikan,” katanya.
Ia meyakini bahwa profesi guru tidak akan tergeser oleh dunia digital, justru sebaliknya, dunia digital bisa digunakan sebagai pendukung kehidupan dan kesejahteraan seorang guru dengan memanfaatkan ekonomi digital–salah satunya dengan program Shopee Affiliate. Seorang guru bisa mempunyai ruang yang lebih luas untuk membantu kebutuhan pribadi dengan tetap fokus pada profesinya.
Pandangan itu lahir dari pengalamannya sendiri, sebagai guru honorer, ia memahami betul bagaimana banyak pendidik harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan penghasilan terbatas. Karena itu ia berharap guru mulai berani mengembangkan potensi di luar ruang kelas, selama tidak mengganggu tanggung jawab sebagai pendidik.
Menurutnya, setiap guru memiliki modal yang sangat berharga di era digital. Ada yang pandai membuat media pembelajaran, menulis, membuat konten, membuka kelas tambahan, hingga menghasilkan produk digital. Baginya, semua itu bisa menjadi sumber penghasilan alternatif.
Di hadapan sesama rekan seprofesinya, ia selalu menyampaikan pesan sederhana namun menguatkan. “Guru boleh mengabdi dengan tulus, tetapi guru juga berhak Sejahtera. Jangan merasa rendah hanya karena status kita sebagai guru honorer. Jangan merasa kecil hanya karena kita mengajar anak-anak yang masih kecil. Justru kita menjadi garda terdepan dalam membangun fondasi untuk generasi Indonesia di masa depan,” ujarnya.
Di ruang kelas TK Khalifah Jati Agung Lapung, mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa guru yang sedang membantu seorang anak mengikat tali sepatu itu juga telah berhasil menaklukkan dunia digital.
Pada akhirnya bagi Alifah, keberhasilan bukan soal angka komisi dan banyaknya transaksi. Keberhasilan Adalah Ketika ia tetap bisa menyapa murid-muridnya setiap pagi dengan senyuman yang sama, mengajar tanpa beban ekonomi yang mengimpit dan pulang dengan keyakinan bahwa menjadi guru tetap merupakan panggilan hidupnya.


0 comments