Menteri LH Sebut Kebakaran Hutan dan Lahan Selama 2026 Capai 52 Ribu Hektare | IVoox Indonesia

April 25, 2026

Menteri LH Sebut Kebakaran Hutan dan Lahan Selama 2026 Capai 52 Ribu Hektare

Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq
Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq ketika melepas secara simbolis tim pemadam kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau. ANTARA/Bayu Agustari Adha

IVOOX.id – Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, luas kebakaran hutan dan lahan selama 2026 di seluruh Indonesia sudah mencapai 52 ribu hektare atau sudah berpuluh kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Hanif mengatakan kebakaran ini cukup besar dan tersebar terutama di Provinsi Riau dan Kalimantan Barat.

"Berdasarkan data SiPongi (Sistem Informasi Peringatan dan Deteksi Dini Kebakaran Hutan dan Lahan) dua tiga hari kemarin sudah 52 ribu hektare. Angka bukan ini juga berkali-kali dibandingkan bukan yang sama tahun 2025," katanya usai apel pengendalian karhutla di Lapangan PT Pertamina Hulu Rokan di Pekanbaru, Riau, Sabtu (25/4/2026), dikutip dari Antara.

Lebih lanjut dia meminta untuk mengaktifkan semua unsur hingga ke tingkat tapak untuk menanggulangi karhutla. Pekan depan dirinya akan bergeser ke Kalimantan Barat untuk memeriksa kesiapan pemerintah provinsi serta kabupaten dan kota di sana.

Menurutnya kebakaran tahun ini disebabkan oleh musim kemarau yang panjang dan tinggi air gambut yang berkurang. Pihaknya melakukan dia cara yakni melalui operasi modifikasi cuaca oleh badan Penanggulangan Bencana Nasional dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dan kedua memperbanyak sekat-sekat kanal.

Luasnya Karhutla 2026 lanjutnya mengindikasikan kesiapsiagaan dari awal memang sangat dimintakan. Maka dari itu dia meminta daerah rawan bencana untuk saling mengingatkan dan memberi dukungan dan semangat menghadirkan lingkungan yang baik.

"Kepada TNI Polri diharapkan mampu terus membina kita untuk bersama-sama memperhatikan dan merencanakan langkah-langkah operasional dalam keterpaduan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Pada teman-teman badan penanggulangan bencana daerah dan seluruh unsur organisasi pemerintahan perangkat daerah untuk bersama-sama. Kebakaran ini tanggung jawab kita bersama, tanpa kita melakukan operasi penanganan bersama," ujarnya.

Terlebih lagi untuk melakukan penanggulangan di tengah-tengah geopolitik yang tidak menentu ditandai dengan membengkaknya harga bahan bakar tentu berimplikasi langsung kepada tataran operasional. Maka dari itu gotong royong menjadi sangat penting dalam penanganan lebih awal untuk efisien biaya.

"Kita tidak bisa membayangkan bilamana terjadi kebakaran dan kita tidak siap tentu biaya pemadamannya cukup akan sangat tinggi di tengah BBM yang semakin tinggi pada kondisi geopolitik yang semakin tidak menentu seperti ini. Untuk mengefisiensi semua langkah, yang perlu kita lakukan persiapan awal lebih awal lebih baik kita lakukan dengan demikian maka dengan anggaran yang efisien," sebutnya.

Petugas memadamkan kebakaran yang menghanguskan lahan gambut dan pohon kelapa sawit dengan cara disiram menggunakan air tanki di Gampong Meudang Ara, Kecamatan Langsa Timur, Langsa, Aceh, Kamis (23/4/2026). ANTARA/HO-BPBD Langsa

Petugas memadamkan kebakaran yang menghanguskan lahan gambut dan pohon kelapa sawit dengan cara disiram menggunakan air tanki di Gampong Meudang Ara, Kecamatan Langsa Timur, Langsa, Aceh, Kamis (23/4/2026). ANTARA/HO-BPBD Langsa

Peringatkan Tujuh Titik Gambut Rawan Kebakaran Lahan

Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia mencatat ada tujuh titik utama yang tinggi muka air gambutnya sudah sangat cukup rawan kebakaran hutan dan lahan yakni kurang dari 80 centimeter dari permukaan tanah.

Hanif menyampaikan Provinsi Riau memiliki gambut hampir separuh dari luas daratannya menjadi daerah yang sangat rawan terhadap karhutla.

"Potensi kekeringan ini akan diperparah di daerah dengan dominasi mangrove air gambut. Cukup dengan hanya satu pemantik saja maka kebakaran hutan dan lahan akan terjadi dengan berat dan besar. Untuk itu kesiapan lebih awal menjadi semakin dimintakan," katanya.

Terlebih lagi lanjutnya curah hujan pada tahun ini diproyeksikan jadi yang terendah selama 30 tahun yang lalu yakni 100 milimeter. Pada tahun 1996-1997 itu tepatnya terjadi kebakaran luar biasa dengan hutan habis ratusan hingga jutaan hektare dan menimbulkan kerugian yang cukup besar.

Oleh karena itu dia meminta kesiapan Manggala Agni Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan beserta tim pemadam dari PT PHR, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), dan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI). Dalam hal ini untuk melakukan langkah-langkah penanggulangan karhutla.

"Saya sangat berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti pada takaran seremonial saja. Kita sangat perlu melakukan langkah-langkah rencana operasional taktis dengan semakin memperbanyak pertemuan-pertemuan pada jajaran-jajaran di tingkat tapak dipimpin wali kota dan bupati di tempatnya masing-masing," sebutnya.

Hal ini untuk dengan detail memetakan lokasi-lokasi yang memiliki potensi karhutla di lokasi yang permukaan air gambutnya semakin turun tajam. Bahkan juga di lokasi-lokasi yang tidak bisa dipantau tinggi muka air gambut sehingga tidak punya kontrol dalam penanganan karhutla .

Dia juga meminta mengaktifkan kembali masyarakat peduli api pada daerah-daerah rawan. Pasalnya semakin banyak titik pantau yang dibangun maka semakin potensi kebakaran hutan dan lahan bisa diantisipasi semaksimal mungkin.

"Untuk itu pada daerah-daerah yang rawan saya ingin mendorong para pemilik pengusaha yang memiliki konsesi baik itu di bidang kehutanan maupun konsesi perkebunan kelapa sawit yang kita tahu persis Riau memiliki perkebunan kelapa sawit yang sangat besar untuk mendorong agar para pemilik konsensi mengaktifkan membentuk brigadir api dan masyarakat peduli api pada daerah-daerah rawan," ujarnya.

0 comments

    Leave a Reply