Menkomidig Tegaskan Pembangunan Pusat Data AI Tak Boleh Ganggu Ketersediaan Air dan Energi | IVoox Indonesia

Menkomidig Tegaskan Pembangunan Pusat Data AI Tak Boleh Ganggu Ketersediaan Air dan Energi

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid berjalan usai memberikan keterangan pers soal perkembangan implementasi PP Tunas di Kantor Kemenkomdigi, Jakarta, Rabu (7/10/2026). Menkomdigi melaporkan platform Tiktok telah menonaktifkan sembilan juta akun, Meta memblokir 85 ribu akun Instagram dan 99 ribu akun Facebook untuk pengguna di bawah 16 tahun serta mengalihkan 22,5 juta akun anak ke akun remaja (teen account), serta Kemenkomdigi bersama tim pakar akan menyusun turunan dari tujuh faktor risiko digital terhadap anak. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj.

IVOOX.id – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan pembangunan pusat data kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia perlu mempertimbangkan ketersediaan energi dan air agar tidak mengganggu kebutuhan masyarakat.

"Jadi kita tentu punya kebutuhan kemampuan komputasi yang tentu memerlukan data center. Tapi di saat yang bersamaan, tentu kita harus melihat kecukupan energi, tidak boleh energi terganggu untuk hal-hal lain, terutama layanan publik. Tidak boleh juga kebutuhan air terganggu," kata Meutya di Kantor Kemkomdigi, Jakarta, Rabu (7/10/2026), dikutip dari Antara.

Menurut dia, dalam menentukan keseimbangan antara kebutuhan komputasi AI dan ketersediaan sumber daya memerlukan koordinasi lintas sektor sebelum menerbitkan izin pembangunan pusat data.

Misalnya Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) memetakan kebutuhan komputasi, jumlah pengguna internet, serta lokasi dengan konektivitas yang memadai untuk pembangunan pusat data.

"Jadi penentuan titiknya juga harus ditentukan. Ada ketersediaan air atau tidak di situ, ada kecukupan energi di situ, dan ada sinyalnya tidak di situ yang baik," ujarnya.

Meutya mengatakan kebutuhan pembangunan pusat data di Indonesia meningkat seiring perkembangan geopolitik yang mendorong banyak perusahaan global untuk masuk dan berinvestasi di Indonesia.

Meski demikian, menurut dia, pembangunan pusat data perlu ditata agar Indonesia tidak mengalami kelebihan kapasitas dan pembangunannya tetap sesuai dengan kebutuhan.

"Buffer itu, penjagaan supaya kita ini tidak boleh dibanjiri (pusat data), dan kita harus betul-betul pilih-pilih lokasi, kemudian juga sesuai kebutuhan, tidak boleh juga terlalu lebih karena harus ada trade-off-nya," katanya.

Meutya menekankan pertumbuhan ekonomi kreatif dan digital perlu berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap ketersediaan sumber daya bagi masyarakat.

Menurutnya, kebutuhan ekonomi digital dan ekonomi kreatif di Indonesia memungkinkan pembangunan pusat data yang baru.

Akan tetapi, ia menegaskan aspek penentuan lokasi menjadi penting agar keberadaan pusat data tidak mengganggu kebutuhan air dan energi masyarakat di wilayah sekitarnya.

"Penentuan lokasi akan sangat penting, tidak boleh mengganggu kebutuhan air di situ dan juga kebutuhan energi di situ, dan yang penting masyarakat kebutuhannya tidak boleh terganggu," ujarnya.

0 comments

    Leave a Reply