Menjaga Ruang Hidup Bekantan di Tengah Kabut Asap
Menjaga Ruang Hidup Bekantan di Tengah Kabut Asap
IVOOX.id - Musim kemarau tidak hanya membawa panas dan kekeringan ke hutan Kalimantan, tetapi juga kabut asap yang menyelimuti habitat bekantan. Kondisi ini membuat satwa endemik tersebut bertahan di tengah penurunan kualitas udara dan ruang hidup yang semakin tertekan.
Di Kalimantan Selatan, tekanan musim kemarau terlihat dari tingginya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan pembaruan BPBD Provinsi Kalimantan Selatan periode Januari hingga 1 September 2026, tercatat 2.332 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak mencapai 12.339,74 hektare. Sementara itu, pemantauan SiPongi mencatat 17.093 titik panas di wilayah tersebut.
Di antara hutan rawa dan tepian sungai yang tersisa, bekantan menjalani kehidupannya dengan bergantung pada pepohonan sebagai sumber pakan dan ruang bergerak. Primata endemik Kalimantan dengan nama latin Nasalis larvatus tersebut belum memiliki angka sensus populasi terbaru untuk seluruh Pulau Kalimantan pada 2026. Estimasi Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2004 menyebut populasi bekantan sekitar 25.000 individu dengan sekitar 5.000 di antaranya berada di kawasan konservasi. Angka tersebut merupakan estimasi historis.
Bagi Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia, musim kemarau menjadi waktu untuk memperketat pemantauan sebelum api memasuki habitat. Tim melakukan patroli kawasan sekaligus memeriksa kondisi lingkungan, mulai dari udara, suhu, hingga kadar air, untuk membaca perubahan yang berpotensi memicu kebakaran.
Pemantauan keberadaan satwa dilakukan dengan memasang kamera jebak (camera trap) di sejumlah titik habitat. Rekaman kamera digunakan untuk mengamati keberadaan dan aktivitas bekantan tanpa harus mengganggu pergerakannya di alam. Ketika sumber pakan alami tidak mencukupi, pemberian pakan tambahan dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan bekantan. Aktivitas tersebut sekaligus menjadi bagian dari pemantauan kondisi satwa dan habitat di tengah perubahan lingkungan selama musim kemarau.
Sementara itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan melakukan pemantauan terhadap kawasan yang menjadi habitat bekantan untuk mengantisipasi dampak karhutla. Pengawasan dilakukan di sejumlah lokasi di Kabupaten Tanah Laut dengan melibatkan berbagai pihak dalam menjaga habitat dan keberadaan satwa tersebut.
Di tengah pepohonan yang masih bertahan dan lahan yang mulai mengering, bekantan tetap bergerak mencari makan dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Bagi satwa tersebut, karhutla bukan sekadar api dan asap, melainkan juga ancaman terhadap pepohonan, sumber pakan, dan ruang hidup yang tersisa.
Foto dan teks: Bayu Pratama S
Editor : Hafidz Mubarak A


0 comments