Menjaga Jejak di Dinding Waktu | IVoox Indonesia

Menjaga Jejak di Dinding Waktu

Menjaga Jejak di Dinding Waktu

IVOOX.id - Deretan bukit karst menjulang di balik rimbun pepohonan, membentuk guratan pada lanskap yang seolah menyimpan bahasa dari masa silam. Di Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, waktu meninggalkan jejak pada dinding-dinding batu.


Angin dari perbukitan membawa cerita yang telah bertahan ribuan tahun. Di balik mulut gua yang tersebar di kawasan karst Liang Kabori, tersimpan gambar cadas yang menjadi saksi panjang perjalanan manusia di Pulau Muna.

Desa Liang Kabori memiliki luas sekitar 4,20 kilometer persegi dengan 1.647 penduduk. Namun, luas wilayah itu terasa kecil dibandingkan bentang sejarah yang tersimpan di kawasan gua prasejarah Liang Kabori.

Jauh sebelum penelitian modern dilakukan, masyarakat setempat telah mengenal gua-gua tersebut. Mereka mengetahui keberadaan gambar pada dinding batu, tetapi belum memahami usia dan nilai penting yang tersimpan di balik guratan warna yang mulai memudar.

Penelusuran ilmiah dimulai pada 1977 ketika tim Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional melakukan survei awal dan mengidentifikasi sejumlah situs penting yang menjadi bagian dari dokumentasi ilmiah gambar cadas di Pulau Muna.

La Ode Samada (58), salah seorang juru pelihara kawasan cagar budaya Liang Kabori, mengatakan pada awal penelusuran hanya sembilan gua yang teridentifikasi. Kini jumlahnya mencapai 66 gua dan masih berpotensi bertambah.

Salah satu yang paling penting adalah Liang Metanduno.

Pada 21 Januari 2026, jurnal Nature menerbitkan penelitian kolaborasi peneliti Indonesia dan Australia berjudul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi”. Penelitian itu mengungkap sebuah cap tangan pada dinding Liang Metanduno memiliki usia minimum 67.800 tahun. Penanggalan dilakukan menggunakan metode laser-ablation uranium-series (LA-U-series) dengan menganalisis lapisan kalsit yang terbentuk di atas gambar cadas.

Temuan tersebut menjadikan Liang Metanduno sebagai lokasi seni cadas nonfiguratif tertua yang diketahui dan dapat diberi batas usia minimum secara ilmiah. Guinness World Records kemudian mencatatnya sebagai seni lukis cadas nonfiguratif tertua di dunia.

Di balik sebuah cap tangan yang sederhana, tersimpan pertanyaan besar tentang manusia masa lalu—tentang kemampuan membuat tanda, berkomunikasi melalui simbol, dan meninggalkan sesuatu yang mampu bertahan jauh melampaui usia kehidupan pembuatnya.

Namun, ketika usia sebuah gambar diketahui, tanggung jawab untuk menjaganya menjadi semakin besar.

Waktu telah mempertahankan gambar itu selama puluhan ribu tahun. Kini ancaman justru datang dari manusia dan lingkungan di sekitarnya. Sentuhan pengunjung, asap rokok, perubahan suhu dan kelembapan, getaran, hingga cahaya matahari dapat mempercepat kerusakan gambar cadas.

Juru pelihara berlatar belakang arkeologi, Ajuk, mengatakan akses pengunjung menjadi salah satu persoalan penting dalam pelestarian.

“Sentuhan fisik, asap rokok, getaran di sekitar mulut gua, suhu dalam gua yang dipengaruhi napas manusia, dan cahaya matahari yang masuk akan sangat menentukan rusaknya struktur lukisan,” ujarnya.

Bagi pengunjung, sebuah sentuhan mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Bagi gambar yang telah bertahan selama 67.800 tahun, sentuhan itu dapat menjadi awal dari kerusakan yang perlahan menghapus jejak masa lalu.

Pada Juli 2026, Kementerian Kebudayaan menetapkan Gua Metanduno sebagai cagar budaya peringkat nasional. Penetapan itu memperkuat posisi situs sebagai bagian penting dari warisan budaya dan arkeologi Indonesia.

Di antara bukit-bukit karst Liang Kabori, masa lalu masih menunggu untuk dibaca. Gambar-gambar yang mulai pudar itu mungkin tak lagi mampu menceritakan seluruh kisah pembuatnya. Namun, setiap guratan menjadi bukti bahwa puluhan ribu tahun lalu, manusia pernah berdiri di hadapan dinding batu, meninggalkan warna, lalu pergi.

Yang tersisa adalah jejak.

Dan kini, tugas manusia bukan sekadar menemukan maknanya, melainkan memastikan jejak itu tetap ada.

Foto dan Teks : Andry Denisah

Editor : Ismar Patrizki

0 comments

    Leave a Reply