Menjaga Buku dan Nyala Literasi di Tengah Kebisingan Informasi | IVoox Indonesia

May 21, 2026

Menjaga Buku dan Nyala Literasi di Tengah Kebisingan Informasi

210526-Menjaga Buku dan Nyala Literasi2_AI
ILUSTRASI - Membaca buku membuat seseorang belajar mengikuti alur argumentasi, mengenali kompleksitas, memahami konteks, dan menerima bahwa tidak semua hal bisa dijelaskan dalam satu kalimat pendek. IVOOX.ID/AI

IVOOX.id – Setiap 17 Mei, Indonesia memperingati Hari Buku Nasional.

Tanggal itu dipilih karena bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980, sementara peringatannya mulai digagas pada 2002, di tengah kegelisahan tentang rendahnya minat baca dan lemahnya ekosistem perbukuan nasional.

Artinya, Hari Buku sejak awal bukan sekadar seremoni, melainkan lahir dari sebuah kecemasan, bahwa bangsa ini ingin maju, tetapi belum sungguh-sungguh menjadikan buku sebagai bagian dari napas sehari-hari.

Namun, pertanyaan yang paling penting hari ini bukan apakah orang masih membaca buku, melainkan apakah kita masih punya kesabaran untuk tinggal lebih lama bersama gagasan dalam sebuah buku?

Kebisingan informasi

Kita hidup dalam dunia yang semakin bising oleh informasi. Notifikasi di layar ponsel muncul sebelum pikiran selesai. Berita berubah dalam hitungan menit, sementara opini beredar sebelum peristiwa benar-benar dipahami.

Di media sosial, orang bisa berdebat keras atas sesuatu yang baru dibaca sekilas, seolah semua orang tampak tahu banyak hal, tetapi sering kali tidak punya cukup waktu untuk memahami sesuatu secara utuh.

Dalam suasana yang seperti itu, buku menjadi sesuatu yang terasa kuno. Sebab, buku tidak bergerak cepat, tidak bisa di-scroll dengan ringan, juga tidak memberi kepuasan instan, seperti video pendek.

Sebaliknya, buku menuntut waktu, perhatian, dan kesediaan untuk masuk pelan-pelan ke dalam pikiran orang lain. Melalui buku, seseorang belajar menunda kesimpulan, melatih kesabaran, memasuki pikiran orang lain, dan menyusun ulang pandangannya sendiri.

Di sinilah buku memiliki peran yang berbeda dengan bacaan di media sosial dari layar ponsel. Buku tidak hanya memberi informasi, tapi membentuk cara berpikir. Membaca buku membuat seseorang belajar mengikuti alur argumentasi, mengenali kompleksitas, memahami konteks, dan menerima bahwa tidak semua hal bisa dijelaskan dalam satu kalimat pendek.

Buku mengajarkan bahwa pengetahuan tidak selalu datang sebagai jawaban cepat. Pengetahuan kadang datang sebagai proses panjang yang pelan-pelan mengubah cara kita melihat dunia. Karena itu, nasib buku sejatinya adalah nasib kebudayaan berpikir.

Generasi hari ini hidup dalam arus informasi yang sangat deras. Bisa mengakses apa saja dalam hitungan detik, tetapi akses terhadap informasi tidak otomatis berarti kedalaman pengetahuan. Banyak orang membaca potongan, ringkasan, kutipan, unggahan pendek, dan komentar. Meski semua itu berguna, tetapi tidak selalu cukup untuk membentuk daya pikir yang utuh.

Masyarakat yang tidak terbiasa membaca panjang akan lebih mudah terseret oleh slogan pendek. Masyarakat yang tidak akrab dengan buku akan lebih mudah puas dengan kesimpulan instan. Padahal kehidupan terlalu rumit untuk dibaca singkat. Masalah kemiskinan, pendidikan, lingkungan, politik, agama, perang, teknologi, dan ketimpangan tidak bisa dipahami hanya lewat potongan informasi.

Data Program Penilaian Siswa Internasional (PISA) 2022 memberi peringatan keras. Rata-rata skor membaca siswa Indonesia usia 15 tahun hanya 359, jauh di bawah rata-rata dunia sebesar 476. Lebih mencemaskan lagi, hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam kemampuan membaca.

Artinya, sekitar tiga dari empat siswa belum mencapai kompetensi minimum untuk memahami gagasan utama, menemukan informasi eksplisit, dan merefleksikan tujuan teks secara sederhana. Data ini menunjukkan bahwa problem literasi kita bukan hanya soal rendahnya minat membaca buku, tetapi juga melemahnya kemampuan memahami bacaan secara mendalam.

Angka itu memang tidak boleh dibaca sebagai vonis terhadap generasi muda. Lebih tepat, jika dibaca sebagai cermin reflektif bagi kita bersama. Negara-negara yang serius membangun budaya baca memahami hal ini. Mereka tidak memandang buku hanya sebagai barang dagangan, tetapi sebagai infrastruktur peradaban.

Negara lain

Finlandia, misalnya, menempatkan budaya baca sebagai bagian dari strategi literasi nasional yang inklusif. Tujuannya bukan sekadar menaikkan skor membaca, tetapi membangun budaya baca yang kuat, beragam, dan mendukung kualitas hidup warga.

Jepang juga sejak lama membangun kebiasaan membaca anak melalui perpustakaan sekolah, toko buku, manga, dan budaya membaca di ruang publik. Di sana, membaca diperlakukan sebagai kebijakan jangka panjang, bukan sekadar lomba pidato, poster tahunan, atau seremoni literasi.

Di Korea Selatan, negara hadir melalui kebijakan promosi budaya membaca yang melihat literasi sebagai bagian dari kualitas warga negara. Melalui Reading Culture Promotion Act, negara menempatkan budaya membaca sebagai bagian dari peningkatan daya intelektual, kesehatan emosional, pembelajaran sepanjang hayat, dan kesempatan yang setara bagi warga untuk terlibat dalam aktivitas membaca.

Norwegia, bahkan menunjukkan bahwa menjaga buku juga berarti menjaga ekosistem perbukuan. Sejak 1 Januari 2024, Book Law di Norwegia memberlakukan sistem harga tetap untuk buku baru selama 12 bulan sejak pertama kali diterbitkan dalam format tertentu. Tujuannya, antara lain menjaga keberagaman literatur, mendukung penulis dan penerbit, serta memastikan toko buku di daerah kecil tetap bisa bertahan.

Pengalaman negara-negara itu memberi pelajaran penting, bahwa budaya baca tidak tumbuh hanya dari nasihat moral, tapi perlu ditopang oleh ekosistem. Minat baca bukan semata urusan niat individu, tapi juga hasil dari lingkungan sosial yang membuat buku mudah ditemukan, menyenangkan untuk disentuh, dan wajar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Negara yang serius menjaga buku pada dasarnya sedang menjaga kualitas percakapan publiknya. Sebab, buku membentuk warga, memperluas imajinasi sosial, dan menjaga kemampuan masyarakat untuk berdialog dengan masa lalu, memahami masa kini, serta membayangkan masa depan.

Menyalakan literasi

Dalam konteks Indonesia, persoalannya memang berlapis. Kita memiliki Perpustakaan Nasional, perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah, taman bacaan masyarakat, komunitas literasi, penerbit independen, penulis, guru, pustakawan, dan pembaca-pembaca sunyi yang terus bekerja tanpa banyak sorotan.

Perpusnas juga memiliki layanan digital, seperti iPusnas, yang memungkinkan orang membaca dan berbagi bacaan secara daring. Namun, tantangannya adalah bagaimana semua inisiatif itu tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi ekosistem nasional yang lebih kuat.

Menyalakan kembali literasi berarti mengubah cara kita memandang buku. Buku perlu dikembalikan sebagai pengalaman hidup. Sekolah perlu memberi ruang membaca bebas, bukan hanya membaca untuk ujian. Perpustakaan perlu menjadi ruang sosial yang nyaman, bukan gudang sunyi yang hanya dikunjungi saat butuh referensi. Pemerintah daerah perlu melihat perpustakaan sebagai investasi peradaban, bukan sekadar pelengkap administrasi pembangunan.

Kita juga perlu berdamai dengan teknologi. Musuh buku bukan selalu gawai. Hal yang menjadi masalah adalah ketika teknologi hanya melatih perhatian yang pendek. Teknologi bisa menjadi jalan baru menuju buku, terutama melalui perpustakaan digital, klub baca daring, audiobook, ulasan buku, dan komunitas pembaca.

Tantangannya bukan mempertentangkan buku cetak dan layar digital, melainkan memastikan keduanya sama-sama membawa orang pada bacaan yang lebih dalam. Teknologi boleh menjadi jalan, tetapi jangan sampai ia hanya menjadikan membaca sebagai aktivitas yang serba singkat, dangkal, dan terputus-putus.

Inilah makna sesungguhnya dari Hari Buku Nasional. Bukan sekadar perayaan terhadap buku sebagai benda, tetapi pengingat tentang pentingnya merawat perhatian. Dalam dunia yang terus memanggil kita untuk cepat bereaksi, buku mengajak kita untuk berhenti sejenak.

Dalam dunia yang penuh suara, buku mengajarkan kita mendengar dengan tenang. Dalam dunia yang sering memaksa kita menyimpulkan terlalu cepat, buku mengajari kita menunda penilaian.

Buku memang kalah cepat dibanding layar. Buku tidak bising, tidak viral, tidak selalu memanggil perhatian dengan notifikasi. Tetapi justru di situlah kekuatannya, bahwa buku mengajari manusia untuk tinggal lebih lama bersama gagasan. Di tengah zaman yang serba cepat, saat ini, kemampuan untuk tinggal lebih lama bersama gagasan mungkin adalah salah satu bentuk kecerdasan yang paling kita butuhkan.

Selamat Hari Buku, mari menjaga buku dan menyalakan kembali literasi di tengah kebisingan informasi yang serba instan!

Penulis: Najamuddin Khairur Rijal

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

Sumber: Antara

0 comments

    Leave a Reply