Menhut Serahkan Penyelidikan Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan di Gunung Bromo pada Penegak Hukum | IVoox Indonesia

August 10, 2026

Menhut Serahkan Penyelidikan Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan di Gunung Bromo pada Penegak Hukum

Sebuah helikopter mengambil air dari Ranu Regulo untuk melakukan water bombing di karhutla TNBTS
Sebuah helikopter mengambil air dari Ranu Regulo untuk melakukan water bombing di karhutla TNBTS, Sabtu (8/8/2026). ANTARA/HO-BPBD Lumajang

IVOOX.id – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mempercayakan proses penyelidikan penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur kepada aparat penegak hukum.

"(Penyelidikan) kami serahkan kepada penegak hukum," kata Menhut, ketika ditanya kemungkinan unsur kesengajaan pemicu kebakaran, dalam keterangan pers yang disampaikan di Kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, Minggu (9/8/2026), dikutip dari Antara.

Menhut menegaskan bahwa aparat penegak hukum memiliki komitmen kuat menindak tegas setiap pihak yang terbukti melakukan aktivitas terlarang yang memicu terjadinya kebakaran hutan maupun lahan.

"Siapa pun yang melakukan pembakaran hutan dan lahan akan mendapatkan hukuman setimpal," kata dia.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), sebelumnya pada Jumat, 7 Agustus 2026, menyampaikan penyebab kebakaran di kawasan Gunung Bromo diduga karena aktivitas manusia.

Dugaan tersebut didasari oleh munculnya titik awal kebakaran di area Blok Bantengan.

Balai Besar TNBTS menyebut terdapat jalur tradisional atau jalan tembusan yang menghubungkan antara Desa Arjosari dengan Ranu Pani di lokasi tersebut

Pihak TNBTS berpendapat adanya kemungkinan aktivitas membuat perapian saat cuaca dingin di area tersebut, namun tidak dipadamkan dengan baik.

Oleh karena itu, pemerintah mengimbau kepada masyarakat agar menghindari penggunaan api saat beraktivitas di wilayah hutan karena bisa memicu terulangnya peristiwa kebakaran.

Menhut menambahkan kondisi cuaca saat akibat fenomena El Nino berdampak pada musim kemarau yang berlangsung lebih kering.

"Sekali lagi mohon tidak bermain api," ujar Raja Juli.

Dalam kunjungannya ke Gunung Bromo, Menhut meninjau langsung pemadaman api menggunakan helikopter water bombing atau pengebom air di area hutan yang terletak di wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Menhut Raja Juli didampingi oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, beserta jajaran pejabat daerah dari Kabupaten Probolinggo.

Pemadaman Gunakan Dilakukan dari Darat hingga Udara

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Isnugroho mengatakan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menggunakan strategi darat hingga udara agar kobaran api segera padam.

"Penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan satu metode. Tim gabungan menyiapkan sejumlah langkah yang disesuaikan dengan kondisi medan dan perkembangan kebakaran baik dengan pemadaman secara manual di darat maupun udara seperti drone hingga helikopter water bombing," katanya di Lumajang, Minggu (9/8/2026), dikutip dari Antara.

Menurutnya, pemadaman wilayah Desa Argosari, Kecamatan Senduro di Kabupaten Lumajang menghadapi sejumlah tantangan kondisi lapangan karena jarak sumber air yang cukup jauh, medan menuju titik api, material vegetasi kering, serta perubahan arah angin menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam setiap upaya pengendalian kebakaran.

"Kesiapsiagaan dilakukan dengan pengerahan personel secara bergantian serta koordinasi bersama unsur terkait. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan arah pergerakan api menuju wilayah Lumajang," tuturnya.

Ia mengatakan salah satu kendala utama dalam penanganan kebakaran adalah jarak titik pengambilan air yang mencapai sekitar 7 kilometer dari lokasi kebakaran dan kondisi itu membuat pemenuhan kebutuhan air untuk pemadaman dari darat membutuhkan dukungan dan strategi tersendiri.

"Selain jarak sumber air, akses menuju titik api memiliki medan yang curam. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi mobilisasi personel maupun peralatan menuju lokasi kebakaran," katanya.

Ia menjelaskan faktor lain yang perlu diantisipasi adalah banyaknya dahan dan ranting kering di sekitar lokasi kebakaran, sehingga material tersebut dapat menjadi bahan yang mudah terbakar sehingga berpotensi mendukung penyebaran api, terutama ketika kondisi angin cukup kencang.

Perubahan arah angin juga menjadi salah satu faktor yang terus dipantau petugas. Pergerakan angin yang berubah-ubah dapat mempengaruhi arah penyebaran api sehingga strategi penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi terkini di lapangan.

"Upaya dari darat dilakukan melalui pembuatan sekat api serta gepyokan menggunakan dahan atau ranting basah. Petugas juga melakukan pemotongan pohon yang berada di sekitar jalur alternatif untuk mengurangi potensi api menyambar vegetasi lainnya," ujarnya.

Sementara itu, dukungan dari udara dilakukan melalui water bombing. Pada Jumat, 7 Agustus 2026, dua unit helikopter melakukan water bombing dengan mengambil air dari Ranu Regulo dan upaya serupa kembali dilakukan pada Sabtu, 8 Agustus 2026, agar karhutla segera padam.

"Pemantauan terus dilakukan secara berkelanjutan karena kondisi kebakaran dapat berubah mengikuti perkembangan arah angin dan kondisi vegetasi di lokasi," katanya.

Penanganan juga dilakukan secara bersama dengan melibatkan TNBTS Resort Ranupane, BPBD Kabupaten Lumajang, Babinsa Argosari, Polsek Senduro, serta Masyarakat Peduli Api dari Desa Ranupane dan Argosari.

Dukungan penyiapan tangki air juga dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup bersama BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Malang, dan BPBD Kabupaten Probolinggo untuk ditempatkan di sekitar kawasan Savana.

"Berdasarkan assessment BPBD Lumajang, penyebab kebakaran masih dalam proses identifikasi oleh petugas yang berwenang. Sementara luas area yang terbakar masih dalam proses asesmen dan penghitungan oleh TNBTS," ujar Isnugroho.

BPBD Lumajang mengimbau warga, pengunjung, dan pelaku jasa wisata untuk mematuhi ketentuan penutupan kawasan serta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kondisi yang berpotensi menimbulkan kebakaran agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin.

"Melalui kesiapsiagaan sejak awal, pemantauan berkelanjutan, dukungan berbagai metode pemadaman, dan kolaborasi lintas unsur, upaya pengendalian karhutla terus dilakukan dengan mengutamakan keselamatan personel, masyarakat, serta perlindungan kawasan konservasi TNBTS," katanya.

0 comments

    Leave a Reply