LRT Jabodebek Tetap Beroperasi Normal Setelah Gempa Magnitudo 5,9 di Kepulauan Seribu | IVoox Indonesia

LRT Jabodebek Tetap Beroperasi Normal Setelah Gempa Magnitudo 5,9 di Kepulauan Seribu

Moda transportasi LRT
Moda transportasi LRT yang menghubungkan Stasiun Kelapa Gading dengan Stasiun Manggarai saat uji coba di Jakarta, Kamis (10/9/2026). (ANTARA/Mario Sofia Nasution).

IVOOX.id – PT Kereta Api Indonesia (Persero) memastikan prasarana dan operasional LRT Jabodebek tetap aman dan berjalan normal setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 5,9 mengguncang wilayah Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, pada Sabtu, 12 September 2026, pukul 04.23 WIB.

Manager of Public Relation LRT Jabodebek Radhitya Mardika mengatakan, petugas langsung melakukan pemantauan dan pemeriksaan setelah menerima informasi mengenai gempa. Proses tersebut dilakukan melalui Operating Control Center (OCC) dengan melibatkan petugas di lapangan.

Pemantauan kondisi prasarana juga didukung Seismic Detection Alarm System (SDAS), yakni sistem yang membantu memberikan informasi mengenai dampak getaran gempa terhadap prasarana LRT Jabodebek.

“Setelah menerima informasi gempa, petugas segera melakukan pemeriksaan terhadap prasarana LRT Jabodebek. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi jalur, persinyalan, stasiun, serta prasarana pendukung lainnya tetap dalam kondisi aman,” ujar Radhitya dalam keterangan resmi ya ng diterima Ivoox.id Sabtu (12/9/2026).

Pemeriksaan terhadap berbagai prasarana tersebut mulai dilakukan sekitar pukul 04.30 WIB. Berdasarkan hasil pemeriksaan, tidak ditemukan kerusakan maupun kondisi yang berpotensi mengganggu keselamatan dan kelancaran perjalanan LRT Jabodebek.

Dengan hasil pemeriksaan tersebut, perjalanan LRT Jabodebek tetap dapat dilaksanakan seperti biasa tanpa adanya gangguan operasional akibat gempa.

“Petugas memastikan bahwa perjalanan LRT Jabodebek tetap dapat beroperasi normal,” ujarnya.

Radhitya menjelaskan, SDAS menjadi salah satu sistem pendukung keselamatan yang digunakan dalam operasional LRT Jabodebek. Sistem ini berfungsi memberikan informasi terkait dampak getaran gempa terhadap prasarana sehingga dapat menjadi salah satu acuan bagi petugas dalam melakukan pemeriksaan.

Informasi dari sistem tersebut kemudian dapat digunakan untuk menentukan langkah tindak lanjut yang diperlukan, terutama ketika terjadi gempa atau kondisi lain yang berpotensi memengaruhi prasarana perkeretaapian.

Menurut Radhitya, setiap informasi mengenai gempa akan ditindaklanjuti dengan pemantauan dan pemeriksaan untuk memastikan perjalanan tetap aman. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya KAI menjaga keselamatan pengguna jasa dan operasional LRT Jabodebek.

“LRT Jabodebek memastikan setiap informasi terkait gempa ditindaklanjuti melalui pemantauan dan pemeriksaan prasarana. Keselamatan perjalanan dan pengguna menjadi prioritas dalam setiap kondisi,” katanya.***

Sebelumnya, gempa bumi dengan magnitudo 5,9 mengguncang wilayah Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Sabtu, 12 SEptemer 2026, dini hari, dan dinyatakan tidak berpotensi tsunami.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pada pukul 04.23 WIB.

"Tidak berpotensi tsunami," demikian keterangan BMKG diterima di Jakarta, Sabtu (12/9/2026), dikutip dari Antara.

Pusat gempa berada pada koordinat 5,81 derajat Lintang Selatan (LS) dan 106,56 derajat Bujur Timur (BT) atau sekitar enam kilometer tenggara Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Gempa tersebut memiliki kedalaman 376 kilometer.

BMKG mengimbau masyarakat berhati-hati terhadap kemungkinan terjadinya gempa bumi susulan.

0 comments

    Leave a Reply