Latsarmil SPPI Disorot, Anggota DPR Minta Evaluasi Menyeluruh Usai Tiga Peserta Meninggal | IVoox Indonesia

June 27, 2026

Latsarmil SPPI Disorot, Anggota DPR Minta Evaluasi Menyeluruh Usai Tiga Peserta Meninggal

Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin
Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin. IVOOX.ID/doc DPR RI

IVOOX.id – Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, menyampaikan keprihatinan atas bertambahnya jumlah peserta Program Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI) yang meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil). Ia meminta pemerintah melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap penyelenggaraan pelatihan tersebut agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Hingga saat ini, tercatat tiga peserta SPPI yang dipersiapkan sebagai calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih meninggal dunia ketika mengikuti rangkaian latihan dasar kemiliteran. Kondisi tersebut dinilai menjadi perhatian serius karena program tersebut sejatinya bertujuan membangun kapasitas sumber daya manusia.

TB Hasanuddin menilai desain pelatihan perlu disesuaikan dengan kebutuhan tugas para peserta yang nantinya akan menjalankan fungsi manajerial di koperasi. Menurutnya, materi pelatihan seharusnya lebih menitikberatkan pada peningkatan kemampuan pengelolaan organisasi dan manajemen koperasi dibandingkan aktivitas fisik yang berintensitas tinggi.

“Kalau memang peserta dipersiapkan untuk jabatan manajerial di Koperasi Desa, maka fokus utama sebaiknya diberikan pada pelatihan manajemen koperasi saja, penguatan kapasitas organisasi, dan pelatihan teknis yang secara relevan,” kata TB Hasanuddin dalam keterangan tertulis yang diterima Ivoox.id, Jumat (26/6/2026).

Purnawirawan berpangkat Mayor Jenderal TNI itu menambahkan bahwa pelatihan militer tetap dapat diberikan, namun hanya pada tingkat dasar dan dalam porsi yang terbatas.

“Pelatihan militer cukup diberikan pada tingkat dasar dan terbatas saja,” ujarnya.

Menurut TB Hasanuddin, materi dasar tersebut dapat diarahkan untuk membentuk kedisiplinan, kebersamaan, serta kekompakan antarpeserta melalui kegiatan seperti baris-berbaris, apel, santiaji, hingga senam pagi. Ia menilai aktivitas tersebut sudah cukup untuk menanamkan nilai disiplin tanpa membebani peserta dengan latihan fisik yang berlebihan.

Selain itu, ia menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh sebelum peserta mengikuti pelatihan. Menurutnya, proses skrining medis harus dilakukan secara ketat oleh tenaga kesehatan yang kompeten agar kondisi kesehatan peserta benar-benar teridentifikasi sejak awal.

“Itu pun sebelumnya harus lolos tes kesehatan sebelum mengikuti aktivitas fisik. Pemeriksaan kesehatan harus dilakukan secara benar dan ketat oleh tim dokter. Jika proses skrining kesehatan tidak akurat, maka ketika peserta mengikuti latihan dengan beban fisik tertentu dapat menimbulkan risiko yang fatal,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang beredar, tiga peserta yang meninggal dunia masing-masing adalah Anisa Muyassaroh asal Balikpapan yang dilaporkan mengalami heat stroke dan henti jantung, Yonanda Muhammad Taufiq asal Baturaja yang meninggal akibat cardiac arrest atau henti jantung, serta Novia Rahmadhani Sihotang asal Jakarta yang meninggal setelah menjalani perawatan akibat gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan tuberkulosis (TBC).

TB Hasanuddin meminta pemerintah mengevaluasi mekanisme seleksi kesehatan, tingkat intensitas latihan, pengawasan medis selama pelatihan, hingga kesesuaian materi dengan tugas yang akan diemban peserta. Menurutnya, keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama dalam setiap program pengembangan sumber daya manusia.

“Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama. Program yang bertujuan membangun kapasitas SDM tidak boleh mengorbankan aspek kesehatan dan keamanan peserta,” kata TB Hasanuddin.

0 comments

    Leave a Reply