Langit Ramadhan di Tanah yang Teruji | IVoox Indonesia

27 Februari 2026

Langit Ramadhan di Tanah yang Teruji

Langit Ramadhan di Tanah yang Teruji

IVOOX.id - Di hunian darurat Desa Gunci dan Lhok Pungki, wilayah Kabupaten Aceh Utara, tradisi Meugang tetap dijalankan meski dalam kesederhanaan. Di bawah langit yang pernah digelayuti awan hitam yang tebal, sapi sumbangan dari para sukarelawan dipotong bersama, lalu diolah di dapur darurat yang menjadi pusat denyut kehidupan warga. 


Asap masakan mengepul pelan, bercampur aroma bumbu dan tanah yang masih menyimpan jejak banjir. Percakapan mengalir lirih, sesekali diselingi tawa kecil, seolah kebersamaan itu menjadi cara paling sederhana untuk menguatkan hati yang sempat goyah akibat bencana banjir bandang dan tanah longsior pada akhir November 2025.

Hidangan yang dimasak bersama bukan sekadar makanan, melainkan simbol keteguhan di tengah masa pemulihan pascabencana. Setiap potongan daging dan setiap sendok kuah yang dibagikan menghadirkan rasa bahwa mereka tidak sendiri. Di tempat yang serba terbatas, kebersamaan terasa lebih utuh. Hangatnya bukan hanya dari api tungku, melainkan dari tangan-tangan yang saling membantu dan bahu yang saling menguatkan.

Memasuki bulan suci Ramadhan 1447 H, berbuka puasa dan sahur di hunian darurat maupun hunian sementara berlangsung sederhana namun penuh makna. Anak-anak, orang tua, dan para penyintas duduk berdampingan di atas tikar atau kursi plastik yang disusun seadanya. Cahaya lampu menggantung temaram, menyinari wajah-wajah yang lelah namun tabah. Dari dapur darurat hingga meja makan sederhana, tumbuh keyakinan bahwa kehidupan perlahan kembali menemukan ritmenya, meski langkahnya masih tertatih.

Siti Hasanah 49 tahun, salah seorang penyintas, mengatakan bahwa dirinya selalu berusaha bersyukur atas apa pun yang terjadi dan tidak pernah mengeluh. Baginya, kondisi saat ini memang berbeda dari sebelumnya, namun semangat menjalani Ramadhan tak boleh surut.

“Sahur pertama di pengungsian, saya memang semangat,” ujarnya. 

Di sisi lain, denyut ekonomi perlahan bangkit di kawasan terdampak. Di Pasar Simpang Upah, yang sempat lesu pascabanjir bandang, lapak-lapak takjil kembali berderet menjelang senja. Pedagang menjajakan aneka menu berbuka puasa Ramadhan 1447 H, mulai dari kue basah, kolak, gorengan, hingga minuman segar. Harga yang ditawarkan tetap terjangkau, berkisar Rp1.000 hingga Rp15.000 per porsi, memberi ruang bagi warga untuk tetap merasakan hangatnya tradisi berbuka di tengah keterbatasan.

Suasana pasar yang kembali ramai bukan sekadar aktivitas jual beli, melainkan penanda bahwa kehidupan bergerak ke arah pemulihan. Tawa pembeli dan sapaan pedagang berpadu dengan aroma manis dan gurih dari hidangan takjil, menghadirkan harapan baru di antara bangunan yang pernah terendam air. Di sana, Ramadhan tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga ruang kebangkitan ekonomi kecil yang menghidupi banyak keluarga.

Menjelang sore, waktu berbuka puasa di Hunian Danantara 1, para penyintas berkumpul di teras hunian sementara. Takjil sederhana tersaji di atas meja plastik, gelas-gelas air tersusun rapi menanti azan Magrib. Anak-anak berlarian kecil di halaman yang mulai berdebu, sementara para orang tua berbincang ringan tentang esok yang ingin mereka bangun kembali. Angin senja berembus pelan, membawa rasa teduh yang sulit dijelaskan, seolah luka akibat bencana perlahan dijahit oleh kebersamaan yang tak pernah benar-benar hilang.

Ufi Yani Saripah 44 tahun mengaku bersyukur dapat menempati hunian sementara pascabanjir bandang. Baginya, Ramadhan kali ini memang berbeda, tetapi rasa aman adalah nikmat yang tak ternilai.

“Saya senang di sini, alhamdulillah, daripada kemarin di hunian darurat, apalagi saat Ramadhan ini, bisa berbuka puasa dan sahur dengan nyaman, fasilitasnya juga sudah lebih lengkap,” kata dia

Pemerintah melalui program Danantara Indonesia membangun dan menyerahkan 600 unit hunian sementara di Kabupaten Aceh Tamiang sebagai bagian dari percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabanjir bandang dan tanah longsor. Penyerahan pada 8 Januari 2026 menjadi langkah awal bagi ratusan kepala keluarga untuk kembali menata hidup, bukan hanya membangun rumah, tetapi juga menegakkan harapan yang sempat runtuh.

Di bawah langit Ramadhan yang sama, di tanah yang pernah teruji oleh air bah, warga perlahan merangkai kembali masa depan. Dari kepulan asap dapur darurat, dari lantunan ayat suci yang menggema di waktu malam, dari doa-doa yang dipanjatkan selepas tarawih, kehidupan terus bergerak setia pada waktu.

Ramadhan menjadi pengingat yang lembut bahwa setelah air surut selalu ada tanah yang mengeras kembali, setelah gelap yang panjang selalu ada cahaya yang menemukan jalannya pulang.

Foto dan Teks: Aprillio Akbar

Editor: Yusran Uccang

0 comments

    Leave a Reply