KTT APSMI 2026 di Bali: Perkuat Akses Kesehatan di Asia-Pasifik | IVoox Indonesia

KTT APSMI 2026 di Bali: Perkuat Akses Kesehatan di Asia-Pasifik

pembukaan APSMI Summit 2026
Takayuki Okubo (Co-Chair Self-CARER), Rizka Andalusia (Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes RI), Manjulaa Narasimhan (Ketua Tim Self-Care WHO), Greg Perry (Director-General GSCF), dan Rachmadi Joesoef (Ketua Umum APSMI sekaligus Perwakilan GP Farmasi) hadir dalam pembukaan APSMI Summit 2026 di Bali, Oktober 2026. IVOOX.ID/doc SelfCare

IVOOX.id – Perawatan mandiri atau self-care semakin mendapat perhatian di kawasan Asia-Pasifik. Sepanjang 2025 dan 2026, lebih dari 140 inisiatif yang sejalan dengan Prakarsa Bersama Bangkok (Bangkok Joint Initiative) 2024 telah dilaporkan di berbagai negara. Berbagai program tersebut mencakup literasi kesehatan, solusi digital, kolaborasi lintas sektor, hingga penguatan tata kelola perawatan mandiri.

Momentum ini menjadi latar belakang penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi Asia Pacific Self-Medication Industry (KTT APSMI) 2026 di Bali. Mengusung tema “Self-Care in Healthcare: Scaling Partnership for Better Health Outcomes”, konferensi ini mempertemukan regulator, pemimpin kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan profesional, akademisi, dan pelaku industri.

Para delegasi membahas sejumlah isu strategis, mulai dari penyederhanaan dan harmonisasi regulasi, akses obat bebas atau over-the-counter (OTC), keamanan peralihan obat resep menjadi non-resep, pelabelan elektronik (e-labelling), peran apoteker, hingga resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR).

Ketua APSMI, Perwakilan GP Farmasi, sekaligus CEO PT Konimex, Rachmadi Joesoef, menilai perawatan mandiri memiliki kontribusi penting bagi sistem layanan kesehatan. Ia merujuk pada riset Global Self-Care Federation (GSCF) yang menunjukkan bahwa praktik self-care dapat memberikan penghematan signifikan secara global.

“Self-care memberikan kontribusi yang vital dan terukur bagi sistem layanan kesehatan. Riset dari Global Self-Care Federation (GSCF) menunjukkan bahwa self-care menghasilkan penghematan sistem kesehatan sebesar 144 miliar dolar AS setiap tahunnya secara global, menghemat 2,20 miliar jam kerja dokter, dan 13 miliar jam perjalanan serta waktu tunggu individu,” ujar Rachmadi Joesoef dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id pada Senin (2/11/2026).

Menurutnya, momentum perkembangan self-care di Asia-Pasifik perlu dimanfaatkan untuk memperluas praktik yang aman dan bertanggung jawab. Kolaborasi lintas pemangku kepentingan dinilai menjadi faktor penting untuk mencapai hasil kesehatan yang lebih baik.

“Peluang kita saat ini adalah memanfaatkan momentum yang sedang berlangsung di Asia-Pasifik untuk memperluas skala self-care yang bertanggung jawab serta kontribusinya terhadap hasil kesehatan yang lebih baik. Tidak ada satu pun pemangku kepentingan yang dapat mencapai ini sendirian. Kemitraan akan menjadi kunci utama untuk mempertahankan kemajuan ini,” katanya.

Ilmuwan WHO sekaligus Pimpinan Bidang Self-Care, Manjulaa Narasimhan, menyampaikan bahwa pada 2026 terdapat 81 inisiatif self-care yang dilaporkan di 10 negara oleh 17 organisasi. Program tersebut meliputi edukasi kesehatan, teknologi digital, kemitraan pemerintah-swasta, tata kelola, serta penguatan nilai ekonomi dan sosial perawatan mandiri.

Bersama inisiatif yang dilaporkan pada 2025, jumlahnya kini mencapai lebih dari 140 program yang selaras dengan prioritas Prakarsa Bersama Bangkok 2024.

“Opsi self-care berbasis bukti, sebagaimana direkomendasikan dalam pedoman normatif global WHO, semakin melengkapi perawatan berbasis fasilitas kesehatan dan memajukan kesehatan serta kesejahteraan masyarakat di sepanjang siklus hidup mereka dalam semua kondisi ekonomi. Opsi self-care ini juga merespons tantangan kesehatan masyarakat yang esensial di kawasan Asia-Pasifik dengan berkontribusi pada peningkatan literasi kesehatan, akses, pemerataan, dan kapasitas sistem kesehatan,” ujar Manjulaa.

Dalam konferensi tersebut, APSMI juga meluncurkan survei regional Asia pertama bersama IPSOS mengenai e-labelling dan penyederhanaan regulasi produk self-care OTC. Temuan survei tersebut dibahas melalui platform Self-CARER untuk merumuskan agenda lanjutan, termasuk pertukaran praktik terbaik dan kolaborasi di bidang regulasi serta kesehatan digital.

Sebagai tuan rumah, Indonesia menjadi bagian penting dalam dialog regional mengenai peran perawatan mandiri untuk meningkatkan hasil kesehatan melalui inovasi regulasi, edukasi konsumen, dan kolaborasi.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar menegaskan komitmen lembaganya dalam mendukung praktik pengobatan mandiri atau swa-medikasi yang bertanggung jawab.

“BPOM terus berkomitmen mendukung praktik pengobatan mandiri (swa-medikasi) yang bertanggung jawab melalui regulasi berbasis bukti ilmiah, inovasi digital, pengawasan efektif, dan edukasi masyarakat, guna memastikan perlindungan kesehatan publik tetap menjadi prioritas utama.” Ujarnya.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Rizka Andalusia, juga menekankan pentingnya akses, informasi tepercaya, serta panduan profesional dalam pelaksanaan swa-medikasi.

“Indonesia berkomitmen menjadikan swa-medikasi sebagai pilar penting kesehatan dan kesejahteraan melalui akses yang lebih baik, informasi tepercaya, dan panduan profesional. Kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk mewujudkan perawatan diri yang aman dan merata bagi semua.” Katanya.

Direktur Jenderal Global Self-Care Federation, Greg Perry, menilai kolaborasi regulator, industri, asosiasi, dan pakar kesehatan menjadi kekuatan utama dalam mendorong kemajuan self-care di kawasan Asia-Pasifik.

“Kekuatan utama dari kemajuan di Asia-Pasifik ini terletak pada kolaborasi di baliknya, di mana regulator, industri, asosiasi, dan pakar kesehatan berkumpul untuk berbagi pembelajaran dan memajukan prioritas bersama dengan satu tujuan utama: memberdayakan individu di seluruh Asia-Pasifik untuk membuat pilihan yang terinformasi dan memainkan peran yang lebih aktif dalam kesehatan mereka,” kata Greg Perry.

0 comments

    Leave a Reply