Krisis Beras Premium Berulang, Khudori Pertanyakan Kemampuan Bulog Penuhi Ritel Modern

IVOOX.id – Pengamat pertanian Khudori menyoroti krisis beras yang kembali melanda jaringan ritel modern di sejumlah daerah di Indonesia. Dia menilai, pilihan beras berbagai merek, terutama beras premium, semakin terbatas dalam empat hingga lima bulan terakhir.
Khudori menyebut, kondisi tersebut mengulang situasi tahun lalu ketika isu beras oplosan mencuat dan diikuti menghilangnya beras premium dari jaringan ritel modern. Kelangkaan juga terjadi pada beras fortifikasi setelah otoritas memerintahkan penarikan 25 merek pada 15 September 2026 karena diduga tidak sesuai standar mutu dan kandungan pada label.
"Jika semula konsumen bisa mengalihkan pembelian beras premium ke beras fortifikasi pada harga terdekat, keterbatasan beras fortifikasi menyulitkan konsumen mengakses beras," ujar Khudori kepada ivoox.id, Minggu (20/9/2026).
Khudori mengatakan kondisi tersebut terjadi di sejumlah hipermarket, supermarket, dan minimarket. Bahkan, beberapa rak beras di supermarket disebut kosong dan hanya menyisakan beras khusus seperti beras merah serta beras SPHP kualitas medium yang dikelola Bulog.
"Untuk mengatasi persoalan itu, pemerintah mengandalkan Bulog yang menggelontorkan 110.000 ton beras setiap bulan ke ritel modern, terdiri dari 75.000 ton beras premium dan 35.000 ton beras medium," kata Khudori.
Khudori menilai tantangan utama berada pada ketersediaan beras premium. Per 14 September 2026, stok beras Bulog mencapai 4,72 juta ton, terdiri dari 4,56 juta ton CBP dan sisanya stok komersial. Dari jumlah tersebut, stok beras premium disebut sekitar 160.000 ton.
"Stok beras premium Bulog hanya 160 ribu ton. Hanya cukup untuk mengguyur pasar modern sekitar dua bulan, sesuai janji manajemen BULOG. Setelah itu, berasnya dari mana?" ucap Khudori.
Menurut Khudori, Bulog menggandeng PT Padi Indonesia Maju dari Wilmar Group untuk memproduksi beras premium melalui empat pabrik di Palembang, Serang, Ngawi, dan Mojokerto. Khudori mempertanyakan biaya pengadaan beras premium tersebut karena produk komersial BULOG dikelola sebagai unit bisnis yang berorientasi keuntungan.
"Kalau swasta sudah tidak bisa menjual beras premium di ritel modern tanpa merugi akibat harga gabah super tinggi, mungkinkah Bulog dapat melayani pasar modern tanpa kerugian?" tanya Khudori.
Kemudian Khudori juga menilai pasokan 75.000 ton beras premium per bulan belum cukup memenuhi kebutuhan ritel modern yang diperkirakan mencapai 120.000 hingga 135.000 ton per bulan. Konsumen pun kemungkinan tetap harus mencari beras premium di pasar tradisional, toko, dan pengecer dengan harga yang berpotensi di atas HET.
Berdasarkan data SP2KP Kementerian Perdagangan, hanya 13 dari 38 provinsi yang menikmati harga beras medium sesuai HET, sedangkan beras premium hanya delapan provinsi. Kondisi paling berat terjadi di wilayah timur Indonesia.
Di Papua Pegunungan, berdasarkan data SP2KP per 19 September 2026, harga beras medium mencapai Rp29.500 per kilogram dan beras premium Rp33.313 per kilogram. Harga tersebut jauh di atas HET masing-masing Rp15.500 dan Rp15.800 per kilogram.
"Jadi, di tengah swasembada beras dan stok beras tertinggi sepanjang sejarah, rakyat harus menebus beras dengan harga tinggi," kata Khudori.


0 comments