Korlantas Polri Terapkan Teknologi Face Recognition pada ETLE | IVoox Indonesia

August 6, 2026

Korlantas Polri Terapkan Teknologi Face Recognition pada ETLE

Pengendara sepeda motor melintas di bawah kamera pengawas atau Closed Circuit Television (CCTV)
Pengendara sepeda motor melintas di bawah kamera pengawas atau Closed Circuit Television (CCTV) di Cipinang, Jakarta, Minggu (8/2/2026). Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menyebutkan jumlah pelanggaran pada ETLE statis pada 2025 berjumlah 227.626 atau meningkat 44 persen dibandingkan 2024 yaitu sebanyak 157.970 pelanggaran. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/fzn/foc.

IVOOX.id – Korps Lalu Lintas Polri menerapkan teknologi pengenalan wajah (face recognition) pada sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) untuk mengidentifikasi pelanggar lalu lintas meski menggunakan pelat nomor palsu atau tanpa tanda nomor kendaraan bermotor.

Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri Brigjen Pol. I Made Agus Prasatya mengatakan penerapan teknologi tersebut merupakan arahan Kakorlantas Polri Irjen Pol. Wibowo.

Berdasarkan data Korlantas Polri selama semester pertama 2026, kamera ETLE merekam 16.812 pelanggaran terkait pelat nomor kendaraan, baik karena tidak menggunakan tanda nomor kendaraan bermotor maupun menggunakan pelat nomor palsu. Sebanyak 77,24 persen pelanggaran dilakukan pengendara sepeda motor.

Menurut Agus, teknologi "face recognition" memungkinkan kamera ETLE mengenali wajah pengendara dan mencocokkannya dengan data kependudukan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil).

Dengan sistem tersebut, identitas pengendara tetap dapat diketahui meski kendaraan menggunakan pelat nomor palsu, pelat nomor ditutup, atau tidak dipasang.

Selain memperkuat akurasi penegakan hukum lalu lintas, teknologi tersebut juga diharapkan mendukung pengungkapan tindak kriminal di jalan raya serta memastikan surat konfirmasi pelanggaran dikirim kepada pihak yang tepat.

Agus menambahkan Korlantas tetap mengoptimalkan patroli personel Patroli Jalan Raya (PJR) dan Subdirektorat Penegakan Hukum di titik-titik rawan pelanggaran, dengan mengedepankan penegakan hukum berbasis ETLE dan pendekatan yang humanis.

“Kami tidak bangga melakukan penindakan. Penegakan hukum adalah alternatif terakhir. Yang kami kedepankan adalah kepatuhan masyarakat melalui sistem ETLE dan pemanfaatan teknologi agar keselamatan, ketertiban, dan kepastian hukum di jalan dapat terwujud,” kata Agus di Jakarta, Rabu (5/8/2026), dikutip dari Antara. 

0 comments

    Leave a Reply