Kompleksitas Transportasi dan Risiko Nyata

IVOOX.id – Betapa kompleksnya perkara listrik, kendaraan listrik, dan kereta serta keruwetan yang dapat tercipta jika sistem transportasi tidak segera ditata.
Saya pagi ini kembali merenung. Merenung dan mencoba menelisik tentang apa yang mungkin terjadi, dan apa yang dapat diperbaiki, serta berbagai implikasi yang harus diantisipasi. Ya, semua masih perkara kejadian kecelakaan kereta yang telah menelan banyak korban jiwa dari saudara-saudara kita tercinta.
Kejadian yang sebenarnya sudah memiliki banyak gejala prodormal yang dapat diamati. Kejadian yang seolah mengingatkan kita bahwa sistem safety di public transportation atau public services kita memang masih banyak yang harus dibenahi, meski harus kita akui juga sudah cukup banyak kemajuannya saat ini.
Perkara perlintasan sebidang misalnya. Perkara yang satu ini punya banyak solusi sebenarnya, mulai dari yang berbiaya rendah seperti penutupan dan penegakan hukum sesuai peraturan yang berlaku, sampai yang mahal berbasis teknologi, dan yang seperti diusulkan Pak Presiden; melalui pembangunan infrastruktur.
Tapi yang paling penting sebenarnya adalah perbaikan karakter dan perilaku. Karena teknologi dan infrastruktur pada gilirannya dapat "diakali" juga. Tapi kalau perilaku disiplin dan peduli pada kepentingan orang lain dapat dibangun sepertinya aspek keselamatan dan ketertiban dapat ditingkatkan.
Persoalan kecelakaan KA atau pesawat itu juga kompleks sekali. Karena ada banyak faktor dan elemen yang terlibat di dalamnya. Selalu ada triangulasi antara alat/teknologi, manusia, dan lingkungannya. Seperti kasus Argo Bromo itu kan rangkaiannya panjang.
Ada taksi listrik mogok dan autoloc di tengah rel. Dari sini saja perlu diinvestigasi terlebih dahulu terkait faktor penyebabnya; kerusakan motor listrik mobilnya karena faktor apa? Bisa dari pengaruh rel KA dengan medan magnet dan efek impedansinya, bisa juga memang kondisi mobil tidak prima dan bermasalah. Kalau taksi sebagai kendaraan umum bermasalah tentu ke hulunya perlu ditelusuri; bagaimana penilaian kelaikannya?
Di sisi lain jalan rel, terutama yang melayani kereta rel listrik dengan LAA (listrik aliran atas) dan sistem persinyalan elektrik, potensi arus listrik balik di rel memang ada. Demikian pula pada kereta dengan lokomotif diesel elektrik dengan dinamo raksasa, medan magnet bisa terbentuk di rel, selain efek listrik statis (triboelektrik) dan pelepasan elektron melalui mekanisme elektrostatik, dari gesekan logam baja feritik roda dan rel kereta.
Mobil (dengan sistem pengapian dan kelistrikan ECU/EMU), apalagi EV itu mati di lintasan sebidang karena ada efek impedansi yang disebabkan oleh GGL Induksi akibat gesekan kinetik antara roda baja feritik kereta dengan rel baja. Gesekan sendiri dapat menimbulkan arus listrik yang statis (triboelektrik) yang akan mengalami pelepasan elektrostatik, contoh petir.
Sedangkan GGL Induksi dengan impedansi pada rel dapat menimbulkan medan magnet kuat. GGL induksi itu juga prinsip dasar transformator dan dinamo. Meski tidak mengalir tapi bisa menimbulkan efek medan magnetik sampai 1,5 km ke depan kereta. Nah kalo kecepatan kereta 60 km/jam saja, maka waktu dari matinya sistem elektrik mobil dengan datangnya kereta itu hanya 90 detik kan? Jadi ya tidak mungkin telpon derek, karena saat mesin mati mobil EV autolock.
Nah tapi memang arus listrik LAA (listrik aliran atas) pada jalur KRL itu arus baliknya dari kereta menuju gardu listrik dialirkan melalui rel. Impedansi rel membantu mengarahkan arus DC atau AC balik ini, terutama di wilayah yang menggunakan track circuit (rangkaian rel) untuk persinyalan.
Secara fisika pembentukan medan magnet di rel KRL/kereta api terjadi terutama akibat aliran arus listrik yang digunakan untuk menggerakkan kereta (KRL) , yang disalurkan melalui kabel atas dan mengalir kembali melalui rel. Roda kereta dari bahan baja feritik yang berputar cepat juga menghasilkan medan magnet kuat yang merambat melalui rel.
Lokomotif seperti CC 206 yang merupakan tipe diesel-elektrik, memiliki dinamo besar yang menghasilkan medan magnet kuat. Medan ini dihantarkan melalui rel baja. Medan magnet ini berinteraksi dengan sensor dan komponen elektronik sensitif (ECU/ECM) pada mobil modern, menyebabkan kegagalan sistem pengapian. Kabel penghantar arus listrik di rel juga dapat memicu emisi elektromagnetik tinggi, yang berinteraksi negatif dengan komponen mesin mobil.
Maka memang tidak tertutup kemungkinan jika bisa saja ada gangguan sistem persinyalan elektrik, pada saat ada temperan yang mengakibatkan perubahan aliran listrik dari sistem sinyal yang terkoneksi dengan rel.
Tapi untuk mengetahui penyebab yang sebenarnya kita harus menunggu hasil investigasi KNKT. Yang dalam kasus-kasus kecelakaan yang menjadi perhatian publik biasanya akan lebih cepat mengeluarkan preliminary report-nya, seperti pada kasus crashnya JT-610 (B-738 Max) di perairan Karawang.
Maka disini kompleksitas mulai terbangun, ada perkara perlintasan sebidang yang menjamur karena menjadi solusi bagi masalah kronis berupa kemacetan dan jarak tempuh yang jauh; yang tentu saja berhubungan dengan peningkatan jumlah kendaraan, kondisi infrastruktur, motif ekonomi, sampai crowd behavior.
Di sisi lain ada insentif terkait konversi energi ke EBT, energi baru dan terbarukan, berupa kemudahan kepemilikan kendaraan listrik/EV, meski kini mulai akan dipajaki juga. Maka populasi EV meningkat. Di satu sisi rel kereta punya karakter fisika unik dengan efek impedansi dan medan magnet hasil GGL Induksi, di sisi lain EV akan makin banyak melintas di rel kereta api.
Lalu masalah KA jarak jauh menabrak KRL berhenti, juga bukan masalah sesederhana yang kita kira, dan juga seperti penjelasan dirut KAI yang mengajukan hipotesa awal bahwa temperan/tabrakan antara KRL dengan taksi hijau telah menimbulkan gangguan pada sistem persinyalan di petak/blok stasiun Bekasi Timur. Tentu perlu ada investigasi dan forensik teknologi terkait tesa itu bukan?
Bukankah juga setiap sistem krusial seperti persinyalan dan interlocking yang "mengawal" nyawa banyak orang harus memiliki sistem pengamanan berlapis yang teruji dan tersertifikasi? Bahkan harus melalui proses salam audit teknologi? Tentu berbagai skenario terkait kendala di saat beroperasi telah dimitigasi sedemikian rupa.
Bukankah masih segar di ingatan kita laporan final investigasi KNKT terkait PLH KA Turangga dengan Ka Lokal Bandung Raya di petak Cicalengka - Haur Pugur, yang antara lain berisi rekomendasi terkait sistem persinyalan blok yang mengalami anomali dalam bentuk uncommanded signal karena faktor yang dapat dijelaskan secara fisika?
Maka persoalan yang kita hadapi saat ini adalah "ice tip" dari gunung kompleksitas masalah yang bermuara pada kecelakaan kereta api. Pendekatan sistem dinamis perlu dilakukan agar kita dapat mengurai akar permasalahannya secara runut dan runtut, hingga arah pembenahan ke depan bukan sekedar simtomatik, melainkan menyasar pada hal-hal yang bersifat kausalistik.
Penulis: Tauhid Nur Azhar
Ahli neurosains dan aplikasi teknologi kecerdasan artifisial, SCCIC ITB/TFRIC-19


0 comments