Komnas HAM: Pemulihan Andrie Yunus Diperkirakan hingga Dua Tahun | IVoox Indonesia

27 Maret 2026

Komnas HAM: Pemulihan Andrie Yunus Diperkirakan hingga Dua Tahun

komnas ham
Koordinator Subkomisi Penegakan HAM sekaligus Komisioner Mediasi Komnas HAM Pramono Ubaid Tanthowi, Ketua Komnas HAM Anis Hidayah, dan Komisioner Pemantauan & Penyelidikan Komnas HAM, Saurlin P Siagian dalam konferensi pers di RSCM Jakarta, Kamis (26/3/2026). (ANTARA/Devi Nindy)

IVOOX.id – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mengungkapkan proses pemulihan Andrie Yunus, aktivis KontraS yang menjadi korban penyiraman air keras, diperkirakan berlangsung panjang hingga dua tahun, seiring kompleksitas luka yang dialami.

Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Saurlin P. Siagian menyampaikan hasil pendalaman dari tim medis menunjukkan luka Andrie Yunus dikategorikan sebagai luka bakar akibat zat kimia asam kuat.

"Operasi masih terus berlanjut dan akan berlangsung enam bulan sampai dua tahun ke depan untuk pemulihan," ujar Saurlin di Jakarta, Kamis (26/3/2026), dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan fase enam bulan pertama menjadi periode krusial dalam menentukan arah pemulihan Andrie Yunus, terutama untuk memastikan stabilitas kondisi luka dan respons tubuh terhadap tindakan medis lanjutan.

Komisioner Mediasi Komnas HAM Pramono Ubaid Tanthowi menambahkan penanganan medis yang dilakukan sejauh ini telah berjalan intensif dan terukur.

Namun demikian, sejumlah kondisi spesifik, terutama pada bagian mata kanan korban, masih dalam tahap analisis sehingga belum dapat disimpulkan perkembangan akhirnya.

"Mereka belum bisa menyimpulkan apakah mengalami penurunan atau peningkatan, itu masih dalam proses," ujarnya.

Pendalaman Komnas HAM juga mencakup dampak jangka pendek dan panjang, baik fisik maupun psikologis, sebagai basis penyusunan rekomendasi penanganan berbasis perlindungan hak korban.

Komnas HAM mendalami dampak medis dan psikologis yang dialami Andrie Yunus.

Koordinator Subkomisi Penegakan HAM sekaligus Komisioner Mediasi Komnas HAM Pramono Ubaid Tanthowi mengatakan pendalaman dilakukan untuk memastikan kondisi korban sejak awal masuk rumah sakit hingga rencana pemulihan ke depan.

“Kami mendapatkan informasi terkait kondisi Saudara AY sejak dari awal masuk rumah sakit sampai penanganan terakhir,” ujarnya di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan Komnas HAM juga menggali dampak cairan kimia terhadap korban, baik jangka pendek maupun panjang, mencakup kondisi fisik dan psikologis sebagai bahan analisis komprehensif.

Ketua Komnas HAM Anis Hidayah menambahkan pihaknya menerima penjelasan mendalam dari tim medis multidisiplin, termasuk dokter mata dan tim penanganan luka bakar.

“Informasinya sangat mendalam sesuai dengan yang dibutuhkan Komnas HAM terkait dampak medis dan juga dampak psikologis,” kata Anis.

Pendalaman ini relevan dengan kondisi medis terbaru korban. RSCM melaporkan adanya iskemia atau kekurangan aliran darah pada sekitar 40 persen area sklera mata kanan yang menyebabkan penipisan jaringan, serta inflamasi yang masih berlangsung.

Tim medis telah melakukan operasi terpadu yang melibatkan spesialis mata dan bedah plastik, termasuk pemindahan jaringan intraokular, pemasangan membran amnion, serta penanganan luka bakar melalui debridement dan cangkok kulit pada beberapa bagian tubuh.

Selain itu, penanganan difokuskan untuk mempertahankan integritas bola mata kanan dan mengendalikan inflamasi, dengan pemantauan ketat oleh tim medis secara berkelanjutan.

Pramono menilai langkah medis yang dilakukan berjalan intensif dan terukur. “Tindakan medis sejauh ini kami melihat sudah sangat baik, sangat intensif,” ujarnya.

Komnas HAM juga mencatat pemulihan korban membutuhkan waktu panjang, dengan operasi lanjutan dan perawatan berkelanjutan, sementara perkembangan kondisi mata masih dalam tahap analisis sehingga belum dapat disimpulkan.RSUP Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta mengungkap kondisi medis terkini korban menunjukkan tantangan serius pada pemulihan jaringan.

Manajer Hukum dan Humas RSCM Yoga Nara menjelaskan tim medis menemukan kondisi iskemia pada sekitar 40 persen area bawah sklera mata kanan yang menyebabkan penipisan jaringan.

"Pada hari Rabu, 25 Maret 2026, pukul 10.00 WIB, pasien menjalani tindakan operasi terpadu yang melibatkan tim spesialis mata dan bedah plastik," kata Yoga, dikutip dari Antara.

Dalam operasi tersebut dilakukan pemindahan jaringan, penempelan membran amnion, serta pemasangan kembali pelindung mata untuk memperbaiki permukaan bola mata.

Selain itu, tindakan debridement dan cangkok kulit dilakukan pada area luka bakar di mata, dada, dan pundak guna mempercepat penyembuhan.

RSCM menyatakan fokus penanganan saat ini adalah mempertahankan integritas bola mata kanan serta mengendalikan proses inflamasi yang masih berlangsung, dengan pemantauan ketat oleh tim medis multidisiplin.

0 comments

    Leave a Reply