KKP Akui Sempat Terjadi Guncangan pada Ekspor Udang akibat Temuan Zat Radioaktif Cesium-137

IVOOX.ID – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengakui bahwa industri udang nasional, terutama di tingkat petambak, sempat mengalami tekanan berat akibat temuan zat radioaktif Cesium-137 (Cs-137) pada udang beku Indonesia oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat. Temuan ini langsung mengguncang rantai pasok, merusak psikologis pasar, dan menimbulkan kekhawatiran karena AS merupakan tujuan ekspor utama udang Indonesia.
Direktur Ikan Air Payau Ditjen Perikanan Budidaya KKP, Fernando Jongguran Simanjuntak, menjelaskan bahwa dampaknya terasa cepat di lapangan. “Tentu di awal-awal memang terjadi guncangan para petambak kita. Ya, pasti karena memang Amerika adalah tujuan ekspor kita yang utama. Kemudian terjadi kejadian ini, di awal-awal kejadian terjadi memang penurunan harga, [dan] penurunan permintaan itu terjadi,” ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (6/11/2025).
Situasi ini membuat sebagian petambak terpaksa melepas hasil panen ke pasar lokal dengan harga rendah. Namun pasar domestik pun ikut terganggu karena kekhawatiran konsumen terhadap isu radioaktif, sehingga penjualan di dalam negeri ikut tersendat.
Untuk meredam krisis, KKP bersama asosiasi petambak dan lembaga terkait seperti BAPETEN dan BRIN bergerak cepat melakukan penelusuran, audit lapangan, hingga memperketat prosedur pengawasan. Pemerintah kemudian memastikan bahwa kontaminasi Cs-137 bersifat lokal atau site-specific dan hanya ditemukan di Kawasan Industri Cikande, Banten. Tidak ada indikasi penyebaran ke tambak budidaya maupun jaringan produksi udang nasional.
KKP kemudian menerapkan mekanisme sertifikasi ketat melalui kewajiban Sertifikat Bebas Cesium-137 bagi seluruh produk udang dari Jawa dan Lampung. Sertifikat ini diterbitkan langsung oleh Badan Mutu KKP sebagai jaminan keamanan dan mutu, sekaligus menjadi syarat ekspor untuk pasar Amerika Serikat.
Kebijakan ini membuahkan hasil. Setelah skema sertifikasi diterapkan, ekspor udang Indonesia ke AS kembali dibuka, dan pemerintah menargetkan pengiriman lebih dari 200 kontainer sepanjang November. Pemulihan ini disambut baik oleh pelaku usaha di hulu. Harga udang di tingkat petambak mulai stabil dan permintaan kembali meningkat.
Fernando menyebut situasi di lapangan kini jauh lebih kondusif. “Tentu ini memberikan suatu gairah tersendiri buat petambak-petambak kita, artinya secara psikologis petambak udang di Indonesia ini mulai semangat lagi melakukan kegiatan budidaya berbeda dengan sebelumnya,” katanya.


0 comments