Ketua Banggar DPR Nilai Proyeksi Defisit APBN 2026 Masih Aman Meski Melebihi Target Awal | IVoox Indonesia

July 9, 2026

Ketua Banggar DPR Nilai Proyeksi Defisit APBN 2026 Masih Aman Meski Melebihi Target Awal

Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah usai agenda Rapat Kerja Banggar dengan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/7/2026). IVOOX.ID/doc DPR RI

IVOOX.id – Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah menilai proyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 2,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada dalam batas aman meski melampaui target dalam Undang-Undang APBN 2026 sebesar 2,68 persen. Menurutnya, pemerintah tetap menunjukkan kehati-hatian dalam mengelola fiskal dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Said usai menghadiri rapat kerja Banggar DPR RI bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 7 Juli 2026.

Said membandingkan proyeksi defisit tahun ini dengan realisasi pada 2025. Saat itu, pemerintah sempat memperkirakan defisit mencapai 2,91 persen terhadap PDB, namun realisasi berdasarkan hasil audit tercatat lebih rendah, yakni 2,81 persen.

“Sehingga 2,85 persen itu dalam batas sangat aman,” kata Said dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Rabu (8/7/2026).

Ia menjelaskan pemerintah sebelumnya juga telah merancang defisit APBN 2026 berada pada kisaran 1,8 persen hingga 2,4 persen terhadap PDB. Namun, perkembangan belanja negara pada semester II mendorong adanya penyesuaian proyeksi. Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah memastikan defisit tetap dijaga di bawah batas maksimal 3 persen sebagaimana ketentuan dalam pengelolaan keuangan negara.

Meski menilai angka tersebut masih terkendali, Said mengingatkan bahwa pelebaran defisit tetap perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi pelaku pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia.

“Meskipun selisih hanya 0,17 persen, namun kita tahu bersama bahwa membesarnya defisit sekaligus mengirimkan sinyal ke market di saat kita sedang menghadapi sorotan besar terhadap belanja fiskal,” ujarnya.

Berdasarkan pemaparan Menteri Keuangan dalam rapat tersebut, realisasi defisit APBN hingga semester I 2026 tercatat sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap PDB. Pada periode yang sama, pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun atau tumbuh 21,4 persen dibandingkan periode sebelumnya, sedangkan belanja negara terealisasi sebesar Rp1.656 triliun atau meningkat 17,8 persen.

Sementara itu, dalam Outlook Postur APBN 2026, pemerintah memproyeksikan pendapatan negara mencapai Rp3.208,1 triliun atau sekitar 101,7 persen dari target yang ditetapkan. Di sisi lain, belanja negara diperkirakan mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,6 persen dari pagu anggaran.

Dengan perkembangan tersebut, defisit APBN pada akhir 2026 diproyeksikan mencapai Rp734,3 triliun atau setara 2,85 persen terhadap PDB. Angka tersebut meningkat sekitar Rp44,3 triliun dibandingkan target awal dalam APBN 2026.

Said menegaskan Banggar DPR akan terus mengawal pelaksanaan APBN agar disiplin fiskal tetap terjaga. Menurutnya, pengawasan diperlukan untuk memastikan pelebaran defisit tidak melampaui batas yang telah disepakati serta menjaga kredibilitas kebijakan fiskal di tengah tantangan ekonomi global.

0 comments

    Leave a Reply