Ketika Sebuah Sudut Jakarta Menjelma Jadi ‘Negara’ Favorit Milenial dan Gen Z

IVOOX.id, Jakarta - Belakangan ini, linimasa media sosial mulai dari TikTok, Instagram, hingga X ramai dengan satu istilah unik yaitu "Negara Blok M". Bukan negara dalam arti geografis, melainkan julukan kreatif yang disematkan anak muda pada kawasan Blok M, Jakarta Selatan.
Julukan ini bukan tanpa alasan. Di mata milenial dan Gen Z, Blok M seolah memiliki “ekosistem” sendiri. Ramai, hidup, penuh tren, dan terasa berbeda dari sudut ibu kota lainnya.
Fenomena ini menarik bukan hanya sebagai tren nongkrong, tetapi juga sebagai cerminan perubahan perilaku generasi muda dalam memaknai ruang kota.
Dari Kawasan Lama ke Episentrum Gaya Hidup
Blok M bukan nama baru. Sejak era 80-an dan 90-an, kawasan ini sudah dikenal sebagai pusat perbelanjaan dan titik pertemuan anak muda Jakarta. Namun dalam beberapa tahun terakhir, terjadi revitalisasi alami yang membuatnya kembali relevan.
Kehadiran deretan kedai kopi independen, restoran dengan konsep unik, bar kecil bergaya Jepang, hingga ruang kreatif membuat Blok M terasa seperti “kota kecil” dalam kota besar. Ditambah lagi dengan akses transportasi publik seperti MRT dan TransJakarta yang memudahkan mobilitas, kawasan ini menjadi sangat ramah bagi generasi urban.
Data dari berbagai laporan tren gaya hidup menunjukkan bahwa milenial dan Gen Z lebih memilih menghabiskan uang untuk pengalaman dibanding sekadar barang. Mereka mencari tempat yang punya cerita, suasana, dan nilai estetik. Blok M memenuhi ketiga unsur tersebut.
Instagrammable, TikTok-able, dan Sangat “Shareable”
Tidak bisa dipungkiri, kekuatan media sosial menjadi faktor utama. Generasi Z dikenal sebagai generasi visual dan digital native. Mereka menemukan tempat baru lewat For You Page, bukan lagi dari iklan konvensional.
Blok M menawarkan banyak sudut yang “foto-able” seperti gang sempit dengan mural, papan nama retro, interior kafe minimalis, hingga suasana malam yang sinematik. Konten-konten bertagar #NegaraBlokM kerap menampilkan antrean panjang di depan kedai viral atau review jujur makanan yang sedang naik daun.
Dalam ekosistem digital, satu video viral bisa mengubah sebuah kedai kecil menjadi destinasi wajib kunjung hanya dalam hitungan hari. Efek bola salju inilah yang membuat Blok M seperti memiliki denyutnya sendiri, cepat, dinamis, dan selalu update.
Ruang Aman untuk Berkumpul dan Bereksplorasi
Selain soal estetika, ada aspek sosial yang tak kalah penting. Survei perilaku generasi muda secara global menunjukkan bahwa Gen Z sangat menghargai komunitas dan koneksi autentik. Mereka mencari ruang yang inklusif, santai, dan tidak terlalu formal.
Blok M menawarkan tempat nongkrong lintas komunitas, mulai dari pekerja kreatif, mahasiswa, pegiat musik, hingga komunitas literasi. Banyak acara kecil seperti diskusi, pertunjukan musik intim, atau pop-up market yang digelar secara rutin.
Di tengah kehidupan kota yang serba cepat dan individualistis, kawasan ini menjadi ruang “bernapas” yang terasa lebih personal.
Simbol Perubahan Pola Konsumsi Generasi Muda
Fenomena “Negara Blok M” juga mencerminkan perubahan cara generasi muda membelanjakan uangnya.
Blok M dipenuhi tenant lokal dengan konsep kuat, dari kopi dan matcha unik hingga fashion yang sejalan dengan preferensi tersebut. Kawasan ini menjadi panggung bagi ekonomi kreatif skala mikro yang digerakkan oleh selera generasi digital.
Lebih dari Sekadar Tempat Nongkrong
Menyebutnya “negara” tentu hiperbola. Namun di balik candaan itu, ada makna simbolik. Blok M dianggap punya identitas, budaya, bahkan “warga tetap” yang rutin hadir setiap akhir pekan.
Ia bukan sekadar lokasi, melainkan pengalaman kolektif.
Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi milenial dan Gen Z tidak hanya mengonsumsi ruang kota, tetapi juga membentuknya. Mereka memberi makna baru pada kawasan lama, menghidupkan kembali ruang yang sempat redup, dan menjadikannya bagian dari identitas sosial mereka.
Mungkin Blok M bukan negara di peta dunia. Tetapi bagi sebagian anak muda Jakarta, ia adalah “tanah air kedua” untuk berbagi cerita, mencari inspirasi, dan merayakan kebersamaan.
Dan selama tren, kreativitas, dan komunitas terus bertumbuh di sana, “Negara Blok M” tampaknya belum akan kehilangan warganya dalam waktu dekat.
Penulis: Maulana Haitami


0 comments