Ketahanan Sektor Eksternal Jadi Penentu Sentimen Pasar pada Semester II 2026

IVOOX.id – Ekonom PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai ketahanan sektor eksternal Indonesia akan menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar pada paruh kedua 2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, investor diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam memilih instrumen investasi dengan mengutamakan emiten yang memiliki fundamental kuat dan mampu mempertahankan kinerja secara berkelanjutan.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan kondisi makroekonomi global yang masih penuh tantangan membuat investor semakin selektif dalam mengambil keputusan investasi. Menurutnya, kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas, likuiditas, dan kualitas aset akan menjadi faktor penting dalam menarik minat pasar.
"Kami melihat investor akan semakin memperhatikan kualitas fundamental perusahaan. Di tengah kondisi makro yang masih berkembang, emiten dengan likuiditas yang kuat, kualitas aset yang terjaga, serta kemampuan menghasilkan kinerja yang berkelanjutan akan memiliki daya tarik lebih besar dibandingkan emiten yang lebih sensitif terhadap perubahan kondisi pasar," ujar Rully dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Senin (6/7/2026).
Rully menambahkan, investor perlu memperhatikan keseimbangan antara faktor eksternal dan kekuatan fundamental emiten agar dapat mengantisipasi volatilitas pasar yang masih berpotensi terjadi sepanjang semester II 2026.
Sementara itu, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menilai perhatian pelaku pasar kini mulai bergeser pada ketahanan sektor eksternal Indonesia. Hal tersebut menyusul neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 yang mencatat defisit sebesar 1,61 miliar dolar Amerika Serikat, sekaligus mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut dan menjadi defisit bulanan terbesar sejak April 2019.
Menurut Novani, defisit tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap sektor eksternal di tengah perlambatan perdagangan global, normalisasi harga komoditas, serta tingginya impor minyak dan gas. Kondisi tersebut terjadi ketika transaksi berjalan masih mengalami defisit dan cadangan devisa menunjukkan tren penurunan.
"Berakhirnya surplus perdagangan selama 72 bulan menunjukkan bantalan eksternal Indonesia mulai menyempit. Dampaknya, ketergantungan terhadap arus modal portofolio untuk menjaga stabilitas eksternal menjadi semakin besar," ujar Novani.
Ia menjelaskan, fokus investor ke depan tidak hanya tertuju pada peluang kembalinya surplus neraca perdagangan, tetapi juga pada kemampuan Indonesia menjaga ketahanan sektor eksternal secara keseluruhan.
"Pemulihan permintaan global, pergerakan harga komoditas, tingginya kebutuhan impor energi, serta efektivitas implementasi kebijakan DHE akan menjadi faktor utama yang menentukan ketahanan sektor eksternal, stabilitas Rupiah, dan sentimen pasar. Selama surplus perdagangan masih terbatas, transaksi berjalan tetap berada dalam kondisi defisit, dan tekanan terhadap Rupiah belum sepenuhnya mereda, Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan bauran kebijakan yang berorientasi pada stabilitas," katanya.


0 comments