Kemlu Pastikan Lima WNI Ditangkap Saat Israel Cegat Konvoi Sumud Flotilla Gaza

IVOOX.id – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengonfirmasi lima warga negara Indonesia ditangkap oleh pasukan Israel yang menyergap kapal-kapal dalam konvoi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) pada Senin, 18 Mei 2026.
Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang menyatakan terdapat sembilan WNI anggota koalisi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) yang tergabung dalam misi pelayaran kemanusiaan GSF 2.0 ke Jalur Gaza tersebut.
“Berdasarkan informasi per pagi ini, sebanyak lima WNI dilaporkan telah ditangkap oleh militer Israel,” kata Yvonne dalam pernyataannya yang disiarkan Selasa (19/5/2026), dikutip dari Antara.
Sementara, empat WNI lainnya yang berada di dua kapal berbeda diketahui masih melanjutkan pelayaran di sekitar perairan Siprus, kata dia.
Ia menjelaskan bahwa situasi di lapangan masih sangat dinamis, dan para WNI lainnya yang lolos dari pencegatan pasukan Zionis Israel kemarin masih terancam diculik Israel.
“Keempat WNI yang masih berlayar tersebut tetap berada dalam kondisi rawan dan sewaktu-waktu juga dapat mengalami intersepsi oleh militer Israel,” ucap jubir Kemlu RI.
Sehubungan dengan perkembangan tersebut, Kemlu RI telah melakukan koordinasi awal dengan sejumlah KBRI di Kairo, Roma, Amman, dan Istanbul untuk mempersiapkan langkah penanganan WNI yang ditangkap Zionis Israel.
Perwakilan RI siap melakukan penerbitan SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor) sebagai dokumen perjalanan pengganti apabila paspor mereka disita Zionis, serta memberikan dukungan medis apabila diperlukan.
“Perwakilan RI juga melakukan pendekatan kepada otoritas setempat guna memastikan akses transit dan proses kepulangan WNI dapat berjalan tanpa hambatan keimigrasian,” kata dia.
Di samping itu, perwakilan RI setempat akan terus memantau perkembangan situasi, melakukan verifikasi posisi dan kondisi para WNI, menyiapkan langkah-langkah pelindungan, serta segera menindaklanjuti notifikasi dari otoritas setempat begitu diterima, ucap Yvonne.
Indonesia mengutuk keras tindakan militer Zionis Israel yang mencegat kapal-kapal pembawa bantuan kemanusiaan dan menangkap para relawannya yang mencakup sejumlah WNI, kata dia.
“Kemlu RI mendesak otoritas Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan,” ujar Jubir Kemlu RI.
Situasi tersebut juga menegaskan kembali pentingnya kesadaran rezim Zionis untuk menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional, demikian Yvonne.
GPCI Tegaskan WNI Ditangkap Israel dalam Misi Legal
Terpisah, Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) Irvan Nugraha menegaskan bahwa sembilan orang warga negara Indonesia yang ditangkap militer Israel saat hendak menuju ke Gaza, Palestina, sedang dalam misi kemanusiaan yang sah dan legal.
Menurut dia, jalur perairan yang dilalui para WNI bersama armada kapal flotilla Global Sumud Flotilla (GSF) juga merupakan wilayah internasional yang dilindungi oleh aturan-aturan.
"Dengan kejadian ini, tentu kami pun menilai bahwa ini adalah ancaman bagi kemanusiaan, dan tentunya berharap ini juga direspons oleh pemerintah Indonesia," kata Irfan saat bertemu pimpinan MPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (19/5/2026), dikutip dari Antara.
CEO Rumah Zakat itu mengatakan bahwa lembaga-lembaga yang tergabung dalam GPCI ini sebenarnya sudah berupaya beberapa kali untuk mencoba mengirimkan bantuan kemanusiaan. Hal itu dilakukan untuk membuka jalur pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Jika jalur atau koridor kemanusiaan sudah bisa menembus hingga ke Gaza, menurut dia, bantuan yang dikirimkan bukan lagi sebatas barang-barang, melainkan juga bantuan relawan dan lainnya.
Sementara itu, Pengarah GPCI lainnya yang merupakan Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini menyampaikan bahwa sembilan orang WNI yang ditangkap dan diculik itu terdiri dari lima aktivis kemanusiaan dan empat jurnalis.
Mereka bergabung dengan warga negara internasional lainnya untuk berlayar ke Gaza dari Turki.
Namun, armada rombongan kemanusiaan Global Sumud Flotilla itu dicegat militer Israel pada Senin, 19 Mei 2026, sekitar pukul 15.00 dalam catatan Waktu Indonesia Barat (WIB).
"Seluruhnya ada 332 aktivis kemanusiaan dan jurnalis dari berbagai negara yang diculik militer Israel. Itu data sampai tadi pagi," kata Juwaini.
Sedikitnya 40 Kapal Sumud Flotilla Gaza Dicegat Israel
Pasukan Israel telah mencegat sedikitnya 40 dari 54 kapal yang ikut konvoi pelayaran kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) hingga Selasa, 19 Mei 2026.
Pasukan angkatan darat Israel telah menahan sekitar 300 aktivis kemanusiaan, menurut laporan di situs berita Walla yang mengutip sumber keamanan yang tak disebutkan namanya.
Laporan itu menambahkan angkatan laut Israel masih belum mencegat semua kapal yang tergabung dalam konvoi kemanusiaan GSF. Masih ada kapal-kapal yang lolos dari pasukan Israel sehingga bisa berlayar di laut lepas.
Pasukan zionis Israel melancarkan serangan terhadap flotilla bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza di perairan internasional pada Senin, 18 Mei 2026, sehingga memicu kecaman luas dari dunia.
Dengan diikuti 54 kapal, konvoi pelayaran tersebut memulai perjalanannya pada Kamis, 14 Mei 2026, dari kawasan Marmaris di Turki untuk menerobos blokade Israel terhadap Jalur Gaza yang dilakukan zionis sejak 2007.
Serangan terhadap konvoi pelayaran kemanusiaan itu bukan yang pertama kali dilakukan Israel.
Pada April lalu, pasukan Israel menyerang kapal-kapal flotilla di perairan internasional di dekat Pulau Kreta di Yunani. Konvoi pelayaran kemanusiaan kala itu mencakup 345 relawan dari 39 negara, termasuk Turki.
Pasukan Israel kemudian merampas 21 kapal yang membawa sekitar 175 aktivis, sementara kapal sisanya dapat melanjutkan perjalanan ke laut teritorial Yunani.
Israel kemudian melepaskan semua aktivis di perairan internasional, tetapi dengan tetap menahan dua aktivis asal Spanyol dan Brasil di pusat penahanan sebelum deportasi.
Sekitar 2,4 juta warga Palestina, termasuk sekira 1,5 juta pengungsi, hidup dalam kondisi memprihatinkan di Gaza yang diperburuk dengan agresi genosida oleh zionis selama dua tahun terakhir.
Agresi tersebut menyebabkan lebih dari 72.700 orang meninggal dunia dan lebih dari 172.700 orang mengalami cedera, di mana sebagian besarnya adalah wanita dan anak-anak, serta memicu bencana kelaparan yang parah.


0 comments