Kementan, Bapanas, Asosiasi, hingga BGN Bahas Solusi Anjloknya Harga Telur Ayam di Peternak | IVoox Indonesia

May 13, 2026

Kementan, Bapanas, Asosiasi, hingga BGN Bahas Solusi Anjloknya Harga Telur Ayam di Peternak

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda (tengah) didampingi Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa (kanan) memberi keterangan kepada awak media di Jakarta, Selasa (12/5/2026). ANTARA/Harianto

IVOOX.id – Kementerian Pertanian (Kementan), Badan Pangan Nasional (Bapanas), asosiasi peternak, koperasi, Kamar Dagang dan Industri Indonesia, dan Badan Gizi Nasional (BGN) menggelar Rapat Perunggasan Nasional membahas kondisi harga telur di peternak yang dilaporkan anjlok di bawah harga acuan pemerintah (HAP). 

"Tujuan rapat hari ini menyikapi beberapa hal khususnya terkait dengan stabilisasi harga telur di tingkat peternak yang belakangan ini memang harganya agak sedikit turun di bawah harga acuan pemerintah," kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda di Jakarta, Selasa (125/2026), dikutip dari Antara.

Agung mengatakan, harga telur nasional rata-rata berada di kisaran Rp24.500 per kilogram, sementara di sentra produksi seperti Jawa Timur saat ini mencapai sekitar Rp22.500 per kilogram.

Harga telur di Jawa Tengah tercatat sekitar Rp23.000 per kilogram, sedangkan Jawa Barat sedikit lebih tinggi, namun masih berada di bawah harga acuan pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.

Penurunan harga telur, kata dia, dipengaruhi tingginya produksi nasional yang pada 2026 diproyeksikan mencapai 7,3 juta ton atau surplus sekitar 13 persen dibandingkan kebutuhan nasional.

Pemerintah mendorong ekspor telur dan distribusi telur dari daerah surplus menuju wilayah yang defisit untuk mengendalikan surplus telur nasional. Pemerintah juga mendorong program makan bergizi gratis (MBG) meningkatkan penggunaan telur dalam menu mingguan guna memperluas penyerapan produksi telur dari peternak rakyat di berbagai daerah.

Agung menyebut populasi ayam petelur meningkat hampir 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya karena tingginya minat investasi peternakan lokal dan meningkatnya kebutuhan telur untuk mendukung program MBG.

Selain itu, kualitas genetik ayam petelur yang semakin baik dan tingkat pemanfaatan bibit ayam (day old chick/DOC) layer mendekati 100 persen turut menyebabkan peningkatan produksi telur nasional secara signifikan pada 2026.

Meski produksi meningkat, pemerintah menilai harga telur di tingkat peternak harus tetap dijaga agar memberikan keuntungan layak sehingga keberlanjutan usaha peternakan ayam petelur tetap terjamin ke depan.

Menurutnya pula fluktuasi harga telur dipengaruhi mekanisme pasar dan praktik persaingan harga antarpelaku usaha sehingga pemerintah meminta asosiasi serta koperasi menjaga kekompakan stabilisasi harga peternak.

Pemerintah juga akan memfasilitasi distribusi telur dari Pulau Jawa sebagai sentra produksi menuju daerah defisit guna menjaga keseimbangan pasokan serta memperkuat stabilitas harga di tingkat peternak nasional.

"Besok kami meminta agar harga (telur) di tingkat peternak sudah naik menuju harga acuan. Dan tentu Satgas Pangan juga akan melakukan pemantauan. Ini merupakan arahan dan instruksi dari Bapak Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas (Andi Amran Sulaiman)," kata Agung.

Di tempat yang sama, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menyampaikan pihaknya sebelumnya telah menugaskan Perum Bulog mendistribusikan jagung program stabilisasi pasokan dan harga pangan sebagai bantalan untuk membantu menekan biaya produksi peternak ayam petelur.

Selain itu, Bapanas akan mengeluarkan surat edaran agar harga pembelian telur di tingkat produsen minimal berada pada kisaran Rp25.000 per kilogram sesuai kesepakatan bersama para pelaku usaha.

Menurut Ketut, pemerintah juga akan menata distribusi dan mendata para distributor telur guna mencegah permainan harga oleh perantara yang menyebabkan peternak menjual telur terlalu murah di pasaran.

Ketua Umum Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Herry Dermawan berharap pemerintah bersama seluruh pelaku usaha segera menata rantai distribusi telur agar harga di tingkat peternak kembali stabil dan wajar.

Herry menilai harga telur saat ini bukan mencerminkan kondisi pasar sebenarnya karena dipengaruhi permainan isu dan praktik middleman yang membuat peternak menjual telur dengan harga terlalu rendah.

Ia mengatakan harga telur di tingkat peternak sempat berada sekitar Rp21.000 per kilogram, sementara harga di konsumen tetap berkisar Rp29.000 hingga Rp30.000 per kilogram di pasaran.

Menurut Herry, biaya produksi telur peternak saat ini mencapai sekitar Rp24.000 per kilogram sehingga kondisi harga jual di bawah biaya produksi menyebabkan banyak peternak mengalami kerugian usaha.

0 comments

    Leave a Reply