Kemenkes Sebut Hantavirus di Indonesia Strain HFRS, Bukan HPS Strain Andes di Kapal Pesiar MV Hondius | IVoox Indonesia

May 12, 2026

Kemenkes Sebut Hantavirus di Indonesia Strain HFRS, Bukan HPS Strain Andes di Kapal Pesiar MV Hondius

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni ANTARA/Andi Firdaus/am.

IVOOX.id – Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan, virus hanta atau Hantavirus yang menjangkiti kapal pesiar MV Hondius berbeda dengan yang ditemukan di Indonesia. Namun ia meminta masyarakat harus tetap waspada akan bahaya penularan virus, utamanya di daerah banjir.

"Risiko itu ada pada daerah-daerah dengan intensitas banjir yang cukup tinggi. Jadi, itu juga mempengaruhi keberadaan atau terjadinya beberapa kasus yang selama ini tersebar di 23 daerah-daerah tertentu. Jadi, kesehatan lingkungan itu sangat terkait dengan adanya sekresi (penularan virus) dari tikus," ujar Andi dalam konferensi pers daring, Senin (11/5/2026), dikutip dari Antara.

Andi menjelaskan kasus hantavirus pada kapal pesiar MV Hondius merupakan tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang berbeda dengan kasus hantavirus di Indonesia.

"HPS banyak ditemukan di Amerika Selatan dan belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus. Sementara itu, kasus hantavirus di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang telah ditemukan sejak 1991 dengan strain Seoul virus," katanya.

Ia menegaskan HPS di kapal pesiar MV Hondius disebabkan strain Andes virus yang dalam penelitian tertentu dapat menular antar-manusia melalui kontak erat dan berkepanjangan, namun, untuk tipe HFRS yang ada di Asia dan Indonesia, hingga kini belum ada bukti penularan antar-manusia.

Ia juga memaparkan faktor risiko penularan hantavirus, yakni kontak dengan tikus atau celurut melalui gigitan, urin, feses, maupun debu yang terkontaminasi.

"Kelompok berisiko meliputi petugas sampah, petani, pekerja di bangunan lama, daerah banjir, hingga aktivitas luar ruang seperti berkemah. Secara global, kasus hantavirus tersebar di Eropa, Amerika, dan Asia. Untuk Indonesia, sejak 2024 hingga 2026 tercatat 23 kasus HFRS, tanpa temuan HPS," katanya.

Andi meminta masyarakat terus menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan guna mencegah penularan hantavirus yang sumber infeksinya dari tikus. "Di samping kebersihan lingkungan, kita harus betul-betul aware (sadar) terkait dengan sumber penularan hantavirus yang infeksinya dari tikus. Artinya, tikus itu jangan sampai berkeliaran dan lain sebagainya, itu kan sangat berkaitan dengan kebersihan lingkungan," katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak bermain-main ketika terjadi banjir, karena banyak risiko penyakit yang bisa ditularkan, termasuk hantavirus dan leptospirosis dari tikus.

"Jadi, ketika terjadi banjir itu jangan malah main-main banjir begitu, seperti kolam renang raksasa katanya, karena sebenarnya itu berisiko untuk terjadinya beberapa penyakit menular, salah satunya adalah hantavirus tersebut," paparnya.

Penelitian sebelumnya juga menemukan virus hanta pada tikus dan celurut di 29 provinsi melalui studi Rikhus Vektora. Terkait kejadian di kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda, otoritas kesehatan Inggris melaporkan klaster Severe Acute Respiratory Illness (SARI) pada 2 Mei 2026.

Hingga 10 Mei 2026, terdapat delapan kasus terdiri atas enam konfirmasi dan dua probable, dengan tiga kematian atau case fatality rate (CFR) 37,5 persen. Kapal tersebut membawa 149 orang dari 23 negara dan tidak ada warga negara Indonesia di dalamnya.

Kemenkes juga menerima notifikasi International Health Regulation National Focal Point Inggris terkait satu kontak erat warga negara asing yang berdomisili di Jakarta Pusat dan sempat berada satu penerbangan dengan pasien kasus kedua yang meninggal dunia.

Namun, hasil laboratorium tes PCR Warga Negara Asing (WNA) laki-laki berinisial KE (60) yang berdomisili di Jakarta Pusat itu dinyatakan negatif.

Meski demikian, Andi menegaskan pemantauan pasien tetap dilakukan secara ketat dan saat ini yang bersangkutan masih berada di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso.

Balai Karantina Bandara Soetta Terapkan Standar Kesehatan Pelaku Perjalanan Luar Negeri

Terpisah, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, kembali menerapkan standar kesehatan bagi pelaku perjalanan udara dari luar negeri, sebagai upaya mengantisipasi kemunculan kasus penularan Hantavirus.

Hal tersebut dilakukan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menemukan kasus penularan terhadap tiga penumpang kapal pesiar yang tewas akibat virus tersebut.

"Kami di Soekarno-Hatta sudah melakukan kesiapsiagaan. Yang pertama adalah melalui isian deklarasi kesehatan di aplikasi SatuSehat. Dari situ kita nanti akan tahu risiko daripada pesawat itu, ada orang berisiko atau tidak. Yang kedua, begitu turun, itu ada pengamatan tanda dan gejala melalui thermal scanner dan observasi visual," kata Kepala BBKK Bandara Soetta Naning Nugrahini di Tangerang, Senin (11/5/2026), dikutip dari Antara.

Ia mengungkapkan sebagai langkah antisipasi temuan kasus pada pelaku perjalanan dengan tanda dan gejala virus terkait, maka pihaknya akan melakukan langkah lanjut yaitu melakukan pemeriksaan oleh dokter untuk pendalaman pemeriksaan.

"Kalau dari pemeriksaan memang yang bersangkutan itu probable, maka kami rujuk ke rumah sakit pusat infeksi untuk melakukan penanganan lebih lanjut. Di situ nanti akan bisa diisolasi atau dilakukan pemeriksaan laboratorium," ujarnya.

Menurut Naning, Bandara Soetta memiliki jalur khusus evaluasi untuk penyakit menular. Nantinya jika terdapat penyakit menular yang teridentifikasi, pihaknya akan melakukan penanganan lebih lanjut.

"Kemudian kami juga punya namanya ambulans khusus penyakit menular. Karena orang yang kita bawa ini, yang mau kita rujuk ini adalah orang dengan penyakit menular," ucapnya.

"Di ambulans penyakit menular ada sistem dekontaminasi sehingga virus, bakteri, atau kuman, yang berasal dari orang yang masuk di dalam ambulans yang kita curigai tadi, itu nanti bisa didekontaminasi sehingga tidak terjadi penularan ke orang lain," tambah dia.

Pihaknya saat ini tengah melakukan pengawasan terhadap beberapa negara yang ditemukan virus tersebut. Selain itu, kata Naning, pihaknya tidak menutup kemungkinan akan melakukan pengawasan ketat terhadap negara lainnya yang terpapar virus itu.

Kendati demikian Naning mengimbau kepada pelaku perjalanan udara agar selalu waspada dan menjaga protokol kesehatan. Pasalnya, Hantavirus ini penularannya melalui urin, air liur, serta kontaminasi dari tikus.

"Jadi kami melakukan pengetatan pengawasan terhadap negara-negara yang sudah menemukan atau teridentifikasi ada virus Hanta, seperti Amerika Serikat, Argentina, Uruguay, dan satu lagi Panama. Jadi itu ada empat negara yang kami melakukan pengetatan ekstra kalau ada flight yang direct ke Soekarno-Hatta. Tapi tidak menutup kemungkinan nanti kalau ada yang baru, tentunya kami akan menambahkan ataupun mengoreksi gitu," ungkap Naning.

0 comments

    Leave a Reply