November 22, 2019

Kemendikbud: Komitmen Peningkatan Akses Melalui Pendidikan Inklusif

IVOOX.id, Jakarta - Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus Kemendikbud, Sanusi berharap agar pemerintah daerah sebagai pengelola sekolah juga dapat segera mewujudkan komitmen penyediaan akses layanan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus, baik melalui Sekolah Luar Biasa (SLB) maupun melalui sekolah-sekolah yang menyelenggarakan pendidikan insklusif.


Salah satu tantangan dalam pendidikan inklusif adalah aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Direktur Sanusi mengingatkan agar pembangunan unit sekolah baru harus memenuhi standar sarana prasarana bagi siswa berkebutuhan khusus. Misalnya penyediaan ramp (bidang miring pengganti tangga bagi siswa tuna daksa) sebagai pengganti tangga. Ataupun tekstur ubin pemandu (tactile paving) bagi siswa tuna netra, dan lain sebagainya.


"Saat ini kami sedang menyusun Peraturan Pemerintah tentang akomodasi yang layak di bidang pendidikan bagi penyandang disabilitas," kata Sanusi.


Melalui kebijakan zonasi pendidikan, Kemendikbud optimistis penyediaan akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus lebih mudah diwujudkan.


"Intervensi pembangunan untuk penyediaan SLB, Kemendikbud menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pembangunan," kata Direktur Sanusi.


"Salah satu tujuan zonasi di Indonesia agar bagaimana anak-anak berkebutuhan khusus itu dapat bersekolah dekat dari rumahnya," ujar Staf Ahli Ananto.


Sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusif harus mengenal dan merespons terhadap kebutuhan yang berbeda-beda dari para siswanya. Kemudian mengakomodasi berbagai macam gaya dan kecepatan belajar siswa, dan menjamin diberikannya pendidikan yang berkualitas kepada semua siswa.


Kemendikbud juga sedang merancang berdirinya sebuah pusat studi pendidikan khusus agar masyarakat luas atau sekolah dapat memperoleh informasi yang utuh tentang pendidikan khusus.


“Dari mulai identifikasinya, bagaimana pembelajarannya, sampai kepada evaluasi terhadap siswa berkebutuhan khusus," jelas Sanusi.


Sementara itu, Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikbud, Sri Renani Pantjastuti menyatakan upaya peningkatan pemahaman pendidikan inklusif terus ditingkatkan.


Saat ini, pelatihan bagi guru-guru non pendidikan luar biasa (PLB) dilakukan menggunakan metode Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) yang mengoptimalkan peran Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan Kelompok Kerja Guru (KKG).


"Khususnya untuk MGMP yang di zonanya banyak menyelenggarakan pendidikan inklusif," ujar Renani.


"Untuk menyampaikan kesadaran pendidikan inklusif itu harus bareng, guru dan kepala sekolahnya harus sama-sama mengetahui dan memahami. Itu nanti advokasi. Kalau pelatihannya menggunakan PKP bersama MGMP," imbuh Renani.


Sebanyak 17 sub tema dihadirkan dalam ICSE 2019. Di antaranya:

1. Learning and Innovation for Student with Special Education Needs;

2. Innovation in Early Intervention;

3. Innovation in Inclusive Education;

4. Transition from School to Employment;

5. Innovation in Deafblind and Multiple Disabilities Education;

6. Networking in Special Education;

7. Policy on Disabilities;

8. Gifted and Talented;

9. Inclusive Education;

10. Building and Sustaining Inclusive Society;

11. Technical and Vocational Education;

12. Training for Children with SEN;

13. Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) for SEN;

14. Teacher Training and Capacity Building;

15. Cultural and Arts Appreciation for Children with SEN;

16. ICT and Assistive Technology for Children with SEN;

17. Empowering families and Communities for Children with SEN.


Seribu orang lebih berpartisipasi dalam konferensi internasional ini. Setidaknya 500 pemakalah hadir dari 20 negara, 236 guru pendidikan dasar di wilayah Surabaya dan sekitarnya, serta 90 orang anggota kelompok kerja pendidikan inklusif berpartisipasi dalam ICSE 2019.


Selain sesi panel dan pemaparan materi oleh para pemakalah, ICSE 2019 juga dimeriahkan pameran pendidikan khusus, serta tur kota dan kunjungan ke sekolah di Surabaya.


"Surabaya ini kota Pahlawan. Kita harapkan spirit pahlawan akan menular kepada semua yang hadir di sini. Menjadi pahlawan-pahlawan pendidikan, khususnya bagi anak-anak berkebutuhan khusus," ucap Staf Ahli Ananto Kusuma Seta.

0 comments

    Leave a Reply