Kelas Menengah Tertekan, Kenaikan Suku Bunga dan Harga Pertamax Dinilai Perparah Daya Beli

IVOOX.id – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia serta lonjakan harga BBM nonsubsidi Pertamax dinilai semakin memperberat beban ekonomi masyarakat kelas menengah. Kondisi tersebut dikhawatirkan mempersempit ruang konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai kelas menengah kembali menjadi kelompok yang paling terdampak setiap kali kebijakan ekonomi diterapkan. Menurutnya, kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen yang diikuti lonjakan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter menciptakan tekanan ganda terhadap keuangan rumah tangga.
“Apa salah kelas menengah Indonesia sehingga setiap tekanan ekonomi selalu berakhir di kantong mereka?” ujar Achmad dalam keterangan resmi Rabu (10/6/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan suku bunga tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga langsung dirasakan masyarakat melalui cicilan rumah, kendaraan, hingga biaya pinjaman konsumsi. Di sisi lain, kenaikan harga BBM turut meningkatkan biaya mobilitas sehari-hari.
“Bagi kelas menengah, itu adalah cicilan rumah yang makin mahal, cicilan kendaraan yang makin berat, biaya antar jemput anak yang naik, ongkos bekerja yang membengkak, dan tabungan yang makin cepat terkuras,” katanya.
Achmad menilai selama ini kelas menengah sering diposisikan sebagai penyangga berbagai kebijakan ekonomi. Saat negara membutuhkan stabilitas nilai tukar, suku bunga dinaikkan. Ketika harga energi disesuaikan, kelompok pengguna BBM nonsubsidi juga menjadi pihak yang harus menanggung konsekuensi.
“Ketika bantuan sosial dibagikan, mereka sering dianggap terlalu mampu untuk dibantu. Tetapi ketika pajak, bunga kredit, tarif, dan harga energi naik, mereka selalu dianggap cukup kuat untuk menanggungnya,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi semakin mengkhawatirkan karena jumlah kelas menengah Indonesia terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Jika tekanan terhadap kelompok ini terus berlanjut, daya beli masyarakat berpotensi melemah dan berdampak terhadap konsumsi nasional.
Ia menegaskan bahwa kelas menengah merupakan fondasi penting perekonomian karena berperan sebagai pembayar pajak, pengguna kredit, pembeli rumah, serta penggerak konsumsi domestik.
“Kelas menengah bukan sekadar kelompok pendapatan. Mereka adalah fondasi pasar domestik, pembayar pajak, penyerap kredit perbankan, pengguna transportasi, pembeli rumah, pembayar pendidikan, dan penggerak konsumsi,” katanya.
Achmad pun mengingatkan pemerintah agar tidak menjadikan kelas menengah sebagai “dompet cadangan” ekonomi nasional. Menurutnya, kebijakan ekonomi tidak hanya harus berorientasi pada stabilitas makro, tetapi juga memastikan masyarakat tetap memiliki kemampuan untuk hidup layak, menabung, dan meningkatkan kesejahteraan.
“Pemerintah perlu berhenti melihat kelas menengah sebagai dompet cadangan ekonomi nasional. Mereka bukan bantalan yang bisa terus ditekan. Mereka adalah tiang penyangga,” ujarnya.


0 comments