Analis Soroti Tekanan Global pada Wacana Penyesuaian HET MinyaKita

IVOOX.id – Analis dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, menilai faktor global dan makroekonomi justru menjadi pemicu utama lonjakan harga minyak goreng subsidi MInyaKita tidak bisa semata dilihat sebagai persoalan distribusi atau ulah pedagang di lapangan
“Secara makro, lonjakan harga minyak mentah dunia yang menyentuh angka di atas 100 dolar AS per barel akibat ketegangan geopolitik memberikan tekanan ganda pada CPO dan minyak goreng, terutama varian Minyakita,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Minggu (3/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah mendorong harga referensi Crude Palm Oil hingga sekitar US$1.049 per metrik ton pada Mei 2026. Di saat yang sama, pelemahan nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.200–Rp17.300 per dolar AS semakin memperbesar beban biaya produksi.
“Di sisi lain, pelemahan nilai tukar Rupiah yang kini bertengger di kisaran Rp17.200 - Rp17.300 per Dolar AS membuat biaya impor komponen produksi dan logistik melonjak drastis, yang secara otomatis mengikis margin keuntungan produsen dalam negeri,” ujarnya.
Onny menegaskan bahwa tingginya harga Minyakita di atas HET mencerminkan ketimpangan struktur biaya. Insentif ekspor yang lebih menguntungkan dibanding kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) membuat pasokan dalam negeri terganggu.
“Jadi tingginya harga Minyakita dari Harga Eceran Tertinggi (HET) di berbagai daerah bukan hanya masalah kenakalan pedagang, tapi cerminan dari ketimpangan struktur biaya,” katanya.
Menurut dia, model bisnis Minyakita saat ini menghadapi tantangan serius dari sisi keberlanjutan. Margin distribusi yang tipis, bahkan hanya sekitar Rp1.000 per liter, dinilai tidak cukup untuk menjangkau wilayah terpencil.
“Tanpa penyesuaian strategi subsidi atau penguatan pengawasan DMO yang lebih ketat, Minyakita berisiko kehilangan peran utamanya sebagai instrumen stabilisasi harga bagi masyarakat kelas bawah,” katanya.
Ia pun mengusulkan penyesuaian HET sebagai solusi realistis. “Secara matematis, jika kita mengambil angka Rp17.000 sebagai basis harga ideal yang baru (HET), angka ini sebenarnya lebih mencerminkan realitas struktur biaya saat ini dibandingkan HET lama yang dipatok Rp15.700,” ujar Ronny.
Dengan perhitungan biaya bahan baku, pengolahan, hingga distribusi, angka tersebut dinilai menjadi titik keseimbangan baru. “Secara ekonomi, hitung-hitungan kami, harga Rp17.000 bertindak sebagai titik keseimbangan baru (new equilibrium) yang menjaga agar produsen tetap mau memproduksi DMO tanpa harus menanggung kerugian operasional,” katanya.


0 comments