KEIN: Jasa Teknologi Informasi, Lebih Besar Impor

IVOOX.id, Jakarta - Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menyebutkan, neraca jasa sektor teknologi informasi dan telekomunikasi mengalami defisit, lantaran tingginya impor sejak 2011.
"Pemerintah harus segera mengambil kebijakan yang tepat di sektor telekomunikasi, komputer dan informasi, sehingga neraca di sektor tersebut dapat kembali mengalami surplus, seperti yang terjadi sebelum Desember 2011," kata Wakil KEIN Arif Budimanta di Jakarta, Kamis (27/6/2019).
Arif memaparkan, pada 2018, komoditas mesin dan peralatan elektronik (HS85) menempati posisi ketiga komponen impor terbesar, setelah bahan bakar mineral dan reaktor nuklir dan permesinan.
Secara lebih rinci, Arif menyampaikan, komoditas turunan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (HS 85), yaitu HS8517, memiliki proporsi dan pertumbuhan impor yang terus meningkat sejak 2014.
Pada 2018, HS8517 memiliki proporsi sebesar 27,1% terhadap HS85 dan tumbuh 20,9% (year on year/yoy). Sementara, HS81770 memiliki proporsi 19,4% terhadap HS85. Atau 71,8% terhadap HS8517 dan tumbuh 18,7% (yoy) pada periode yang sama.
Data UN Comtrade melansir, impor barang untuk komoditas mesin dan peralatan elektronik (H585) pada 2018 sebesar US$21,45 miliar, atau setara 11,37% kontribusinya terhadap total impor.
Dengan nilai tersebut impor komoditas mesin dan peralatan elektronik menempati posisi ketiga komponen impor terbesar, setelah bahan bakar mineral dan reaktor nuklir dan permesinan.
Menurut Arif, permintaan terhadap sektor teknologi dan informasi diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan semakin majunya teknologi. "Jika tidak ada perubahan struktural, defisit neraca jasa ICT dan biaya penggunaan HAKI diperkirakan akan semakin dalam," ujarnya.


0 comments