Kedelai Nasional Terpuruk, DPR Soroti Ketergantungan Impor dari AS | IVoox Indonesia

Kedelai Nasional Terpuruk, DPR Soroti Ketergantungan Impor dari AS

antarafoto-pemerintah-subsidi-kedelai-impor-1781083974-1
Perajin menuangkan kacang kedelai seusai direbus saat proses pembuatan tempe di Buaran Indah, Kota Tangerang, Banten, Rabu (10/6/2026). Pemerintah memutuskan memberikan subsidi kedelai sebesar Rp2.000 per kilogram untuk 250.000 ton tahap pertama dengan total anggaran sekitar Rp500 miliar sebagai upaya menjaga harga tahu dan tempe di tengah tekanan kenaikan biaya bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar

IVOOX.id – Anggota Komisi IV DPR Firman Soebagyo, menyoroti ketimpangan produksi dan kebutuhan kedelai nasional yang membuat Indonesia masih bergantung pada impor.

Firman mengatakan produksi kedelai Indonesia pada 2025 diperkirakan hanya 300.000-350.000 ton, sedangkan kebutuhan nasional mencapai 2,6-2,9 juta ton. Berdasarkan data BPS, impor kedelai pada 2025 mencapai 2,56 juta ton, sekitar 90 persen di antaranya berasal dari Amerika Serikat.

Menurut Firman, kondisi tersebut perlu segera dievaluasi dan diatasi pada tahun ini karena kedelai merupakan bahan baku utama berbagai pangan masyarakat, terutama tahu dan tempe.

"Padahal, Indonesia memiliki varietas lokal seperti Grobogan dan Anjasmoro yang memiliki masa panen sekitar 80-90 hari dan dinilai memiliki kualitas yang baik," katanya dalam siaran pers, Kamis (13/8/2026).

Firman meminta pemerintah melakukan intervensi dari hulu hingga hilir. Langkah yang didorong meliputi penyediaan sedikitnya 1 juta hektare lahan untuk budidaya kedelai, kepastian kemitraan dan penyerapan hasil panen, pengendalian impor, serta pengembangan benih unggul.

Produktivitas kedelai nasional yang saat ini sekitar 1,6 ton per hektare juga dinilai perlu ditingkatkan hingga 3-4 ton per hektare. “Harus ada keberpihakan nyata agar petani kedelai sejahtera dan Indonesia bisa surplus kedelai,” kata Firman.

0 comments

    Leave a Reply