Kecerdasan Artifisial Masuk Ruang Redaksi, Jurnalis Hadapi Tantangan Baru | IVoox Indonesia

Kecerdasan Artifisial Masuk Ruang Redaksi, Jurnalis Hadapi Tantangan Baru

101026-Pelatihan AI for Journalism_doc
Peserta pelatihan "AI for Journalism di Kota Bandung. IVOOX.ID/dok panitia

IVOOX.id – Di tengah perubahan cara berita diproduksi dan dikonsumsi, jurnalis menghadapi tantangan baru: memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) tanpa mengorbankan akurasi, etika, dan kepercayaan publik.

Tantangan itulah yang menjadi perhatian dalam pelatihan AI for Journalism, yang diikuti 99 peserta dalam sesi tatap muka di Jakarta dan Bandung pada Oktober 2026.

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas jurnalis di tengah transformasi digital industri media.

Teknologi AI menawarkan berbagai kemudahan dalam mengolah data, menyusun materi pemberitaan, dan memeriksa informasi. Namun, penggunaannya juga menuntut pemahaman kritis agar kecepatan kerja tidak mengesampingkan prinsip-prinsip dasar jurnalistik.

Program bertajuk “AI for Journalism: Penguatan Jurnalisme melalui Pemanfaatan Kecerdasan Buatan yang Bertanggung Jawab” ini merupakan kolaborasi Digital Access Programme - British Embassy Jakarta dan Alunjiva Indonesia.

Sebelum memasuki pelatihan luring, para peserta telah mengikuti pembelajaran daring selama enam hari. Sesi tatap muka kemudian diselenggarakan di Jakarta pada 3 Oktober 2026 dan di Bandung pada 10 Oktober 2026 untuk memperdalam pemahaman melalui praktik langsung, diskusi, dan pemecahan masalah secara kolaboratif.

Rangkaian program AI for Journalism resmi dimulai pada 28 Agustus 2026. Sebanyak 487 jurnalis muda dari berbagai wilayah di Indonesia mengikuti program ini, dengan dukungan para pelatih yang sebelumnya telah menjalani Training of Trainers (ToT).

Dari rangkaian pembelajaran tersebut, sesi tatap muka menjadi kesempatan bagi peserta untuk menguji pengetahuan yang diperoleh secara daring dan menghubungkannya dengan kebutuhan nyata di ruang redaksi.

Melalui pendekatan hands-on practice, peserta tidak hanya mempelajari konsep dan fitur AI, tetapi juga berlatih menerapkannya dalam pekerjaan jurnalistik. Diskusi kelompok, pemecahan masalah bersama, serta presentasi menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Pendekatan ini dianggap penting karena penerapan AI di ruang redaksi tidak sekadar berkaitan dengan penguasaan perangkat. Jurnalis juga perlu menentukan kapan teknologi dapat membantu pekerjaan, kapan hasilnya harus diperiksa kembali, dan kapan keputusan editorial tetap membutuhkan penilaian manusia.

Kemampuan tersebut semakin relevan ketika ruang redaksi dituntut bekerja cepat di tengah arus informasi digital. AI dapat membantu mempercepat sejumlah tahapan produksi berita, tetapi hasil yang dihasilkan teknologi tidak otomatis memenuhi standar jurnalistik.

“Informasi yang keliru, konteks yang hilang, hingga data yang tidak terverifikasi tetap menjadi risiko apabila jurnalis menerima keluaran AI tanpa pemeriksaan kritis,” ujar salah seorang pelatih, Baban Gandapurnama.

Puluhan jurnalis mengikuti "Pelatihan AI for Journalism" pada sesi tatap muka di Jakarta dan Bandung, Oktober 2026. IVOOX.ID/doc

Puluhan jurnalis mengikuti "Pelatihan AI for Journalism" pada sesi tatap muka di Jakarta dan Bandung, Oktober 2026. IVOOX.ID/doc

Untuk memperdalam pemahaman peserta, program AI for Journalism mengembangkan enam modul pembelajaran dengan cakupan materi yang berkaitan langsung dengan praktik jurnalistik.

Materi tersebut meliputi AI dan transformasi ruang redaksi, penggunaan perangkat AI dalam produksi konten, jurnalisme data, verifikasi dan fact-checking, serta etika, privasi, dan tata kelola AI.

Cakupan ini memperlihatkan bahwa pemanfaatan AI dalam jurnalistik tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan teks atau mempercepat penyuntingan. Teknologi juga dapat digunakan untuk membantu pengolahan data dan mendukung proses pemeriksaan informasi, selama penggunaannya disertai metode verifikasi yang memadai.

Menurut Co-Founder Alunjiva Indonesia, Fany Efrita, rangkaian AI for Journalism tidak berhenti pada kegiatan pembukaan maupun pembelajaran daring.

“Peserta akan terus didorong untuk memahami perkembangan AI dalam dunia jurnalistik sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam pemanfaatannya,” katanya.

Eva Fahas, jurnalis digitalmama.id, yang semula menentang penggunaan AI untuk membuat berita, kini menyadari teknologi ini dapat membantu mempercepat pekerjaan, terutama saat menghadapi tenggat ketat. Namun, jurnalis perlu memahami cara penggunaan dan batasannya agar AI tetap menjadi alat bantu, bukan pengganti tanggung jawab profesional.

"Karena kalo ga punya ilmunya, jurnalis bisa tersesat, entah saking percayanya sama AI jadi gak fact checking sehingga berpotensi misinformasi, atau jadi malas menulis karena nyerahin semuanya ke AI," ujarnya. Melalui pelatihan ini, Eva memahami pentingnya verifikasi dan penggunaan AI secara bertanggung jawab dalam kerja jurnalistik.

Ia berencana membawa pengetahuan tersebut ke ruang redaksi tempatnya bekerja untuk menjadi bahan diskusi dan merumuskan aturan penggunaan AI. Baginya, jurnalis tidak harus menolak teknologi, tetapi perlu menguasainya secara kritis tanpa mengorbankan akurasi dan kepercayaan publik.

0 comments

    Leave a Reply