Edisi Kebangkitan Nasional

Kebangkitan Ekonomi Kreatif, Untuk Indonesia Sejahtera

Foto: Kominfo.go.id

IVOOX.id – Pemerintah terus mendorong ekonomi Indonesia agar bangkit untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera.

Potensi ekonomi kreatif sangat besar, apalagi sumbernya tidak mengandalkan sumber daya alam (SDA), melainkan inovasi. Industri yang bergantung pada sumber daya alam seperti barang tambang dipastikan akan habis. Inovasi tidak akan habis, akan berkembang seiring perkembangan pemikiran manusia.

Data BPS mengungkapkan, nilai ekonomi kreatif mencapai Rp 922,59 triliun atau 7,44% terhadap PDB pada 2016. Pada 2017, Bekraf memperkirakan nilainya sudah mendekati Rp 1.102 triliun. Lalu, Bekraf menargetkan ekraf tumbuh 6,25% tahun ini, sehingga bisa mencapai Rp 1.200 triliun pada 2019.

Hasil data statistik ekonomi kreatif 2016 menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2010 hingga 2015, besaran PDB ekonomi kreatif naik dari 525,96 triliun pada 2010 dan menjadi 852,24 triliun pada 2015 atau meningkat rata-rata 10,14 persen per tahun.

Tiga negara tujuan ekspor komoditi ekonomi kreatif terbesar pada tahun 2015 adalah Amerika Serikat 31,72 persen kemudian Jepang 6,74 persen, dan Taiwan 4,99 persen. Untuk sektor tenaga kerja ekonomi kreatif 2010 hingga 2015 mengalami pertumbuhan sebesar 2,15 persen, dimana jumlah tenaga kerja ekonomi kreatif pada tahun 2015 sebanyak 15,9 juta orang.

Untuk data tahun 2019 Bekraf bekerjasama dengan BPS sedang merumuskannya diperkiraan akan release di tahun 2019. Pemerintah mengarahkan Badan Pusat Statistik (BPS) fokus menggarap data terkait ekonomi kreatif, agar pengembangannya dapat terukur dengan pasti.

Secara khusus BPS mengkaji karakteristik generasi milenial guna mengetahui sub sektor ekonomi kreatif mana yang potensial. harapannya, sub sektor tersebut bisa didorong dan difasilitasi supaya tumbuh lebih cepat.

Adapun 16 sub sektor ekonomi kreatif di antaranya aplikasi dan pengembangan game; arsitektur dan desain interior; desain komunikasi visual; desain produk; fashion; film; animasi video; fotografi; kerajinan tangan (kriya); kuliner; musik; penerbitan; periklanan; seni pertunjukan; seni‎rupa; televisi dan radio.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyebutkan terdapat tiga subsektor yang berpotensi tumbuh paling pesat tahun ini, yaitu film, animasi, dan video; aplikasi dan pengembang permainan; serta musik.

Pemerintah terus mendorong perkembangan bisnis di tiga subsektor itu, salah satu upaya mempercepat adalah dengan menciptakan ekosistemnya. Harapanya kapitalisasi kekayaan intelektual yang dimiliki industri perfilman, gim, dan musik relatif lebih besar daripada subsektor lain.

Upaya untuk menggerakkan sektor ekonomi kreatif memerlukan kebersamaan, memerlukan sinergi dari semua pihak pelaku ekonomi kreatif. Salah satunya melalui temu kreatif  nasional yang melibatkan para pelaku industri dan ekonomi kreatif  untuk curah pikiran, curah gagasan, berbagi pengalaman, unjuk kerja, unjuk kreativitas untuk kemajuan sektor ini.

Industri kreatif juga butuh sinergi dan kerjasama antara  para inventor dengan para investor.

Sinergi ini akan mendorong karya-karya kreatif  mendapatkan nilai tambah yang lebih besar.

Tantanggan kedepan tidak smeakin mudah, Indonesia perlu memperkuat kemampuan industri kreatif untuk bersaing dengan produk-produk  ekonomi kreatif impor. Keterkaitan dengan sektor-sektor lain baik ke belakang, dengan pemasok maupun keterkaitan ke depan yang menyerap subsektor ekonomi kreatif perlu diperkuat.

Ekonomi Kreatif adalah sebuah konsep di era ekonomi 4.0 yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama. Konsep ini biasanya akan didukung dengan keberadaan industri kreatif yang menjadi realisasinya.