Kasus DBD, Merengut 2 Korban Lagi di Tasikmalaya

IVOOX.id, Tasikmalaya — Wabah Demam Berdarah Dangue (DBD) di Kota Tasikmalaya kembali memakan korban di Rumah Sakit Jasa Kartini. Korban adalah Ketua RT 01, bernama, Agus Suherlan, 55, warga Kampung Aboh, RT 01 RW 01, Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Bungursari dan Naura, 3,5, warga Kampung Cicariu, Kelurahan Cigeureung, Kecamatan Cipedes. .

“Kasus demam berdarah dangue (DBD) yang terjadi di Kota Tasikmalaya sampai sekarang telah menyebabkan 5 orang meninggal dunia dari jumlah 65 kasus. Petugas kesehatan terus secara bertahap menyosialisasikan kepada masyarakat agar mereja bisa melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN),” kata Kepala Seksi Pencengahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan, Kota Tasikmalaya, Juhandi, Jumat (8/2).

Juhandi mengatakan serangan Aedes Aegypti yang telah menyerang masyarakat selama ini tidak memiliki batasan umur mulai dari anak, remaja, dan orang tua.

Wabah DBD dipastikan akan terus mengalami peningkatan, jika pola pemberantasan sarang nyamuk (PSN) masih rendah dilakukan warga.

“Untuk kasus demam berdarah dangue yang terjadi di Kota Tasikmalaya sampai sekarang ini mencapai 65 kasus di antaranya 5 kasus meninggal dunia dan masing-masing berada di Kecamatan Kawalu, Cihideung, Tamansari, dan Bungursari. Pemerintah daerah sampai sekarang belum menerapkan Kejadian Luar Biasa, karena adanya ketentuan mencapai 106 kasus dan kami juga meminta supaya RSU supaya memberi melaporkan kejadian kasus tersebut, karena kurangnya petugas lapangan banyak kasus yang belum tercatat,” ujarnya.

Ketua RW 01, Dede Badrudin mengatakan pihaknya membenarkan Ketua RT 01 telah meninggal di RS Jasa Kartini setelah mendapatkan perawatan selama 3 hari.

Tetangga korban, sempat membantu dengan membawanya langsung ke Puskesmas hingga dirujuk ke RS dalam kondisi panas mengigil dan dibarengi dengan muntah-muntah tetapi korban tidak tertolong setelah menjalani rawat inap.

“Kami meminta agar pemerintah daerah harus secepatnya melakukan fogging (pengasapan) agar tidak lagi banyak korban atas serangan nyamuk Aedes Aegypti. Saya berharap agar pemerintah daerah jangan memberikan beban pada masyarakat, untuk mengumpulkan biaya fogging seperti terjadi tahun 2017 lalu dan sekarang harus dilakukan dengan biaya dari pemerintah,” tuturnya. (Adhi Teguh)