Karya 7 Perupa Tanah Air Dipamerkan di Venice Biennale Arte | IVoox Indonesia

May 11, 2026

Karya 7 Perupa Tanah Air Dipamerkan di Venice Biennale Arte

Perupa asal Indonesia hadirkan karya dalam Venice Biennale 2026
Perupa asal Indonesia hadirkan karya dalam Venice Biennale 2026 di Venesia. ANTARA/HO-Paviliun Indonesia Venice Biennale Arte

IVOOX.id – Paviliun Indonesia menampilkan karya terbaik dari tujuh perupa tanah air lintas generasi dalam medium seni cetak grafis dalam pameran bertajuk “Printing the Unprinted” di ajang Venice Biennale Arte 2026. Pameran tersebut hasil kolaborasi kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Danantara Indonesia Trust Fund, dengan kurator Aminudin TH Siregar, berlangsung di Scuola Internazionale di Grafica, Venesia.

Mengutip Antara, dalam siaran pers, Minggu, 10 Mei 2026, menyebutkan para seniman menghadirkan narasi pelayaran abad ke-15 untuk menghidupkan kembali kisah pelayaran selama 14 tahun (1472-1486) yang diciptakan secara bersama atas kolaborasi tujuh seniman, di antaranya Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.

Pertama, terdapat karya yang bercerita tentang perjalanan armada yang dikisahkan melalui sudut pandang Datu Na Tolu Hamonangan, seorang arsiparis imajiner dari Harajaon Pusuk Buhit di Sumatra, bertolak dari Danau Toba, menyusuri pesisir Sumatra Barat, Malaka, Teluk Benggala, Gujarat, Hormuz, Laut Merah, Aleksandria, hingga akhirnya mencapai Venesia dan Eropa Tengah.

Ia mendokumentasikan perjalanan ini dalam manuskrip Printing the Unprinted: The Story of the Grand Voyage.

Selama berabad-abad, manuskrip ini menyimpan misteri, yaitu himpunan cetakan etsa, gambar, sketsa dan teks yang menunggu untuk ditemukan dan dimaknai. Manuskrip ini memuat 21 etsa yang dibagi ke dalam 8 babak membentuk narasi yang kaya dari berbagai sudut pandang.

Kisah kedua dengan tema Sea Power and Navigation berkisah tentang Sang Admiral yang memimpin armada. Admiral Mangaraja Laut Mangiring pada 1472, mempelajari rute bintang dan peta-peta Arab dari Malaka sebelum bertolak mengikuti angin monsun barat daya bersama navigator Batak, juru mudi Melayu, penerjemah Tamil, dan astronom Persia.

Kapalnya menghadapi badai dahsyat di Selat Hormuz, dan empat belas tahun kemudian, sang admiral pulang dengan rambut yang telah memutih dan membawa pulang pengetahuan bahwa laut menghubungkan dunia-dunia yang jauh menjadi satu.

Perjalanan ini divisualisasikan oleh R.E. Hartanto melalui tiga lembar etsa berjudul Departure Under the Southwest Monsoon Wind (1472); Storm Off Hormuz; dan The Aging Admiral’s Face.

Bagian ketiga menggambarkan kisah Sang Navigator dengan tema Maps and Astronomy yang dibuat oleh Syahrizal Pahlevi yang membuat visualisasi dalam tiga lembar etsa berjudul Rewriting the Circle of the World; Library of Florence; dan The Inversion of the World Map.

Babak keempat menceritakan tentang Sang Naturalis dengan tema Flora and Fauna, yang divisualisasikan oleh Rusyan Yasin dalam tiga etsa berjudul Camphor Specimens and Andalas Wood; Encounters in the Alps; dan Garden of Two Climates.

Babak selanjutnya, yang kelima, mengangkat tema Faces and Culture yang bercerita tentang Masyarakat. Pelayaran ini juga adalah pertemuan manusia dengan manusia.

Di Pelabuhan Malaka, bahasa Arab, Tamil, Melayu, dan Tionghoa bercampur dalam situasi perdagangan global. Di pasar musim dingin Venesia, digambarkan orang-orang Eropa menyentuh kain ulos, pelaut Batak mencicipi keju dan roti gandum, dan anak-anak Eropa, dilukiskan oleh Mariam Sofrina melalui tiga lembar etsa berjudul Port of Malacca; Winter Market in Venice; dan West Gorga.

Sementara itu, pada bagian keenam, mengangkat tema Technology and Symbolism yang dieksplorasi oleh Nurdian Ichsan bercerita tentang para Seniman dan Perajin. Melalui tiga etsa berjudul Forging Iron at Lake Toba; Glass and Mechanical Clocks; dan The Hybrid Emblem of Harajaon, dikisahkan pertukaran budaya yang semakin mendalam, para perajin membentuk teknologi dan simbol-simbol baru.

Babak terakhir mengisahkan tentang Kaum Intelektual yang digambarkan Theresia Agustina Sitompul dalam tiga etsa berjudul Pre-Departure Ritual, Cathedral and the Echo of Gondang dan Return to Silence menggambarkan lapisan terdalam perjalanan ini yang mengalirkan sebuah perenungan spiritual.

Dalam rangkaian program ini sepanjang residensi, para perupa, selain menghasilkan karya etsa yang terinspirasi dari manuskrip fiksi ini, juga menciptakan karya individual.

Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 tidak hanya menghadirkan praktik seni cetak grafis sebagai medium artistik, tetapi juga sebagai ruang pembacaan ulang sejarah, pengetahuan, dan imajinasi kolektif Nusantara.

Keikutsertaan Indonesia di Venesia menegaskan peran kebudayaan sebagai jembatan dialog, pertukaran gagasan, dan penguatan posisi Indonesia dalam percaturan seni internasional.

0 comments

    Leave a Reply