Kapuas | IVoox Indonesia

July 6, 2026

Kapuas

050726-Kapuas3 landscape_TNA
ILUSTRASI - Di tengah kampus Universitas Tanjungpura, terdapat kompleks gedung konferensi yang desainnya mengacu kepada konsep hidropolis. IVOOX.ID/TNA

IVOOX.id – Ada kejutan yang membuat saya bahagia. Di tengah kampus Universitas Tanjungpura, terdapat kompleks gedung konferensi yang desainnya mengacu kepada konsep hidropolis. Air, bangunan, kawasan, dan diversitas hayatinya ditampilkan bersinergi, terorketrasi, dan menampilkan harmoni yang menyejukkan hati.

Kawasan kampus Untan dengan hutan pendidikannya dan ekosistem hutan hujan tropis serta lingkungan aquatik endemiknya, dipelihara, dijaga, dan bahkan dijadikan living laboratory. Desain gedung tropis dan penataan kawasan yang mempertahankan karakteristik wilayah serta menempatkan ruang terbuka hijau sebagai aktor utama penampilan konsep struktur berwawasan lingkungan itu; jelas membuat saya bahagia.

Kawasan kampus Untan dapat merepresentasikan kampus unggulan yang Kalimantan banget. Universitas Tanjungpura (Untan) didirikan pada tanggal 20 Mei 1959 di Kota Pontianak dengan nama awal Universitas Daya Nasional sebagai sebuah perguruan tinggi swasta. Berdirinya kampus ini dipelopori oleh para tokoh politik dan pemuka masyarakat Kalimantan Barat, yang dikoordinasikan oleh Oevaang Oeraay. Saat awal berdiri, universitas ini hanya memiliki dua fakultas, yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Tata Niaga.

Status kampus resmi berubah menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) berdasarkan Surat Keputusan Menteri PTIP Nomor 53 Tahun 1963. Nama kampus kemudian diubah menjadi Universitas Negeri Pontianak (Unep).

Pada 14 September 1965 nama kampus diubah lagi menjadi Universitas Dwikora yang diresmikan oleh Presiden Soekarno. Bersamaan dengan momen ini, Fakultas Teknik resmi dibuka 15 Agustus 1967. Nama kampus resmi diubah kembali menjadi Universitas Tanjungpura (Untan) berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 171 Tahun 1967. Nama "Tanjungpura" diambil dari nama kerajaan Hindu kuno di Kalimantan Barat, yaitu Kerajaan Tanjungpura.

Penting untuk diketahui bahwa wilayah Kalimantan Barat yang merupakan daerah di mana Universitas Tanjungpura berada, adalah daerah yang lebih dari 60 persen wilayahnya merupakan bagian dari daerah aliran sungai Kapuas.

Suasana di kampus Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat. IVOOX.ID/TNA

Suasana di kampus Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat. IVOOX.ID/TNA

Membelah daratan Kalimantan Barat sejauh 1.143 kilometer, Sungai Kapuas bukan sekadar aliran air. Ia adalah sungai terpanjang di Nusantara yang menjadi saksi bisu peradaban, penyangga iklim global, dan urat nadi kehidupan bagi jutaan nyawa. Namun, di balik riaknya yang tenang dan warnanya yang kecokelatan, raksasa air ini menyimpan kisah ekologis yang sedang berada di ujung tanduk.

Untuk memahami Sungai Kapuas, kita harus melihatnya secara utuh dari hulu di Pegunungan Muller hingga muaranya di Selat Karimata. Kawasan ini dikenal sebagai Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas. Pertanyaannya: seberapa penting bentang alam ini bagi kita, dan seberapa berat kerusakan yang sedang mengintainya?

Bayangkan sebuah bentang alam seluas kurang lebih 98.749 kilometer persegi. Angka ini fantastis; mencakup hampir 67 persen dari total wilayah daratan Provinsi Kalimantan Barat, atau kira-kira seluas negara Korea Selatan.

Secara ekologis, DAS Kapuas adalah sebuah biodiversity hotspot (pusat keanekaragaman hayati) dunia. Sebuah studi dari World Wide Fund for Nature (WWF) mencatat bahwa perairan tawar Kapuas menjadi rumah bagi lebih dari 300 spesies ikan. Menariknya, sekitar 30 persen di antaranya adalah spesies endemik yang tidak ditemukan di belahan bumi mana pun, seperti Ikan Arwana Super Red (Scleropages formosus) yang harganya bisa menyamai sebuah mobil mewah, hingga Ikan Belida yang kini berstatus dilindungi.

Selain kekayaan fauna, peranan DAS Kapuas yang paling krusial bagi dunia adalah kemampuannya menstabilkan iklim. DAS ini mencakup jutaan hektar hutan rawa gambut. Lahan gambut tropis di Kalimantan dikenal sebagai penyerap karbon (carbon sink) raksasa.

Satu hektar lahan gambut dapat menyimpan karbon hingga 20 kali lipat lebih banyak dibandingkan hutan tropis biasa di tanah mineral. Sedangkan secara hidrologis, kawasan gambut dan hutan hulu berfungsi bagaikan spons raksasa.

Di musim hujan dengan curah air ekstrem (rata-rata 2.500–3.000 mm per tahun di Kalimantan Barat), DAS ini menyerap luapan air dan mencegah banjir bandang. Sebaliknya, di musim kemarau, ia melepaskan simpanan airnya perlahan-lahan untuk mencegah kekeringan total.

Di sisi lain yang lebih miris adalah terdegradasinya bantaran hulu (dan anak-anak sungainya, ribuan titik Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) beroperasi setiap hari.

Praktik ini memisahkan emas dari batuan menggunakan merkuri (raksa). Riset dari berbagai lembaga lingkungan dan akademisi Universitas Tanjungpura (Untan) berulang kali menemukan bahwa kadar logam berat merkuri di sedimen dan beberapa jenis ikan di titik-titik tertentu aliran Kapuas telah melebihi ambang batas aman yang ditetapkan WHO. Merkuri yang terakumulasi dalam rantai makanan dapat memicu kerusakan sistem saraf, cacat bawaan, hingga mematikan.

Meningkatnya urbanisasi di tepi sungai, terutama di Kota Pontianak, membawa masalah sampah plastik dan limbah rumah tangga tanpa pengolahan (sanitasi) langsung ke badan air, menurunkan kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) dan mengancam kehidupan biota air.

Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati (biodiversitas) terkaya di Indonesia yang menopang ribuan spesies flora dan fauna. Sebagai sistem sungai terpanjang di Indonesia sepanjang 1.143 kilometer, ekosistem DAS Kapuas mencakup area tangkapan air seluas 100.284,4 kilomete persegi. Wilayah ini terhubung langsung dengan kawasan konservasi penting dunia, seperti Taman Nasional Danau Sentarum dan Taman Nasional Betung Kerihun.

DAS Kapuas menjadi rumah bagi lebih dari 700 spesies ikan air tawar. Salah satu komoditas endemik yang paling bernilai tinggi adalah ikan Arwana Super Red (Scleropages formosus). Sedangkan kawasan hutan rawa dan perbukitan di sekitar aliran sungai ini dihuni oleh sekitar 147 spesies mamalia. Di antaranya adalah primata endemik seperti bekantan dan orangutan, hingga predator seperti macan dahan.

Tercatat ada lebih dari 237 jenis burung yang menggantungkan hidupnya di ekosistem ini. Beberapa spesies populer meliputi kacamata, robin magpie, dan murai. Aliran sungai ini memiliki spesies unik seperti ular-lumpur kapuas (Enhydris gyii), ular air endemik yang hanya ditemukan di pedalaman Kalimantan Barat bagian utara.

Suasana di kampus Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat. IVOOX.ID/TNA

Suasana di kampus Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat. IVOOX.ID/TNA

Wilayah pinggiran sungai (zona riparian) dipenuhi oleh puluhan famili tumbuhan hutan rawa. Berdasarkan data akademis di situs Universitas Tanjungpura, terdapat puluhan spesies vegetasi riparian yang menjaga struktur tanah tepi sungai dari erosi.

Bagian hulu sungai yang berbatasan dengan kawasan hutan lindung menjadi habitat bagi pohon Ulin atau belian (Eusideroxylon zwageri), anggrek liar, serta berbagai jenis kantong semar (Nepenthes).

Kekayaan biodiversitas ini sangat didukung oleh keberadaan Danau Sentarum, sebuah danau musiman seluas 132.000 hektar di Kabupaten Kapuas Hulu. Kompleks danau tapal kuda (oxbow lake) dan rawa gambut di sekelilingnya bertindak sebagai tempat pemijahan alami bagi ikan serta tempat mencari makan bagi ratusan spesies burung migran.

Memelihara dan menjaga Kapuas agar dapat lestari, bestari, harmoni tentu bukanlah pekerjaan mudah. Konsepnya harus terintegrasi agar dapat mengorkestrasi berbagai potensi dan daya dukung yang ada di DAS unik ini. Hingga di masa depan Kapuas akan selalu dapat berperan sebagai urat nadi peradaban masyarakat Kalimantan Barat dan Indonesia.

Penulis: Tauhid Nur Azhar

Ahli neurosains dan aplikasi teknologi kecerdasan artifisial, SCCIC ITB/TFRIC-19

0 comments

    Leave a Reply