Jika Terjadi Letusan Gunung Berapi, Ini Panduan Mitigasinya !

Ilustrasi: Ivoox Indonesia

IVOOX.id, Jakarta – Indonesia dianugerahi tanah yang subur karena dikelilingi oleh barisan gunung berapi. Jika terjadi letusan gunung berapi, jangan panik ! ikuti panduan mitigasinya !

Indonesia berada di jalur gempa teraktif di dunia karena dikelilingi oleh cincin api Pasifik. Kondisi geografis ini menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang rawan letusan gunung berapi, gempa dan tsunami. Gunung api di Indonesia yang paling aktif adalah gunung Kelud dan gunung merapi.

Letusan gunungapi merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah “erupsi”. Hampir semua kegiatan gunung api berkaitan dengan zona kegempaan aktif sebab berhubungan dengan batas lempeng. Pada batas lempeng inilah terjadi perubahan tekanan dan suhu yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan material sekitarnya yang merupakan cairan pijar (magma). Magma akan mengintrusi batuan atau tanah di sekitarnya melalui rekahan-rekahan mendekati permukaan bumi.

Letusan gunung berapi akan menimbulkan beberapa hal yang menjadi potensi bahaya bagi masyarakat, ini yang harus dipahami pada awalnya:

  1. Aliran Lava Lava adalah magma yang meleler ke permukaan bumi melalui rekahan, suhunya >10000 c dan dapat merusak segala bentuk infrastruktur.
  2. Awan Panas Awan panas adalah aliran material vulkanik panas yang terdiri atas batuan berat, ringan (berongga) larva massif dan butiran klastik yang pergerakannya dipengaruhi gravitasi dan cenderung mengalir melalui lembah.
  3. Gas Beracun Gas beracun adalah gas vulkanik yang dapat mematikan seketika apabila terhirup dalam tubuh. Gas tersebut antara lain: CO2 , SO2 , Rn, H2 S, HCl, HF, H2 SO4 . Gas tersebut biasanya tidak berwarna dan tidak berbau.
  4. Lahar Letusan Lahar letusan terjadi pada gunung berapi yang mempunyai danau kawah, terjadi bersamaan saat letusan. Air bercampur material lepas gunung berapi mengalir dan bentuk banjir

Ada beberapa hal yang menjadi langkah mitigasi bencana letusan gunung berapi. Hal ini harus dilakukan oleh pemerintahan setempat dan masyarakat untuk mengurangi resiko jatuhnya korban.

  1. Pemantauan, aktivitas gunungapi dipantau selama 24 jam menggunakan alat pencatat gempa (seismograf). Data harian hasil pemantauan dilaporkan ke kantor Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung dengan menggunakan radio komunikasi SSB. Petugas Pos Pengamatan Gunungapi menyampaikan laporan bulanan ke pemda setempat.
  2. Tanggap Darurat, tindakan yang dilakukan ketika terjadi peningkatan aktivitas gunungapi antara lain mengevaluasi laporan dan data (PVMBG), membentuk tim Tanggap Darurat, mengirimkan tim ke lokasi, dan melakukan pemeriksaan secara terpadu.
  3. Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi menjelaskan jenis dan sifat bahaya gunungapi, daerah rawan bencana, arah penyelamatan diri, lokasi pengungsian, dan pos penanggulangan bencana.
  4. Penyelidikan gunungapi menggunakan metoda berbagai ilmu kebumian.
  5. Sosialisasi kepada Pemerintah Daerah serta masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar gunungapi. Bentuk sosialisasi dapat berupa pengiriman informasi kepada Pemda dan penyuluhan langsung kepada masyarakat.lahar.

Masalahnya masih banyak masyarakat yang belum memahami status dari bencana letusan gununug berapi. AWAS Menandakan gunung berapi yang segera atau sedang meletus. Letusan pembukaan dimulai dengan abu dan asap, berpeluang terjadi dalam waktu 24 jam. Wilayah yang terancam bahaya direkomendasikan untuk dikosongkan.

Jika kondisinya mulai membaik maka status akan berubah menjadi SIAGA, Menandakan gunung berapi yang sedang bergerak ke arah letusan atau menimbulkan bencana. Peningkatan intensif kegiatan seismik, data menunjukkan bahwa aktivitas dapat segera berlanjut ke letusan atau menuju pada keadaan yang dapat menimbulkan bencana, letusan dapat terjadi dalam waktu 2 minggu. Sosialisasi di wilayah terancam.

Status WASPADA Adalah aktivitas apa pun bentuknya, terdapat kenaikan aktivitas di atas level normal. Peningkatan aktivitas seismik dan kejadian vulkanis lainnya. Sedikit perubahan aktivitas yang diakibatkan oleh aktivitas magma, tektonik dan hidrotermal.

NORMAL Tidak ada gejala aktivitas tekanan magma. Level aktivitas dasar, pengamatan rutin, survei dan penyelidikan.

Ada dua tahap dalam kejadian bencana letusan gunung berapi. Jika saat sedang terjadi maka masyarakat harus :

  1. Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah dan daerah aliran lahar.
  2. Ditempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan gunungapi.
  3. Jangan memakai lensa kontak. Pakai masker atau kain untuk menutup mulut dan hidung.
  4. Kenakan pakaian yang melindungi tubuh seperti, baju lengan panjang, celana panjang, dan topi.

Namun pasca letusan masyarakat juga harus mengantisipasi :

  1. Jauhi wilayah yang terkena hujan abu.
  2. Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu vulkanik sebab bisa merusak mesin kendaraan seperti rem, persneling hingga pengapian.
  3. Bersihkan atap dari timbunan debu vulkanik, karena beratnya bisa merobohkan dan merusak atap bangunan.

Pada kondisi bencana masyarakat diharapkan tidak menimbulkan kepanikan. Masyarakat harus saling mebantu untuk mengurangi resiko pada saat terjadinya bencana gunung Meletus.